Opini
Menebus Dosa Ekologis: Metanoia Lingkungan dalam Perspektif Islam
Krisis lingkungan sebagai Dosa Ekologis saat ini, mulai dari deforestasi, polusi, hingga perubahan iklim, bukan sekadar tantangan teknis
Penulis: tribunjambi | Editor: Suci Rahayu PK
Menebus Dosa Ekologis: Metanoia Lingkungan dalam Perspektif Islam
Oleh:
Dr. M. Junaidi Habe, M.Si.
Akademisi UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Krisis lingkungan sebagai Dosa Ekologis saat ini, mulai dari deforestasi, polusi, hingga perubahan iklim, bukan sekadar tantangan teknis, tetapi juga refleksi dari krisis spiritual.
Dalam Al-Qur’an disebutkan: “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya.” (QS. al-A‘raf)
Hadits Nabi pun menggarisbawahi pentingnya kontribusi positif terhadap alam: “Jika hari kiamat tiba, saat kamu memiliki sebongkah bibit, tanamlah…”
Kedua nasihat ini mengajak manusia untuk introspeksi, untuk mengakui kesalahan kita terhadap alam dan menanamkan penyesalan yang melahirkan perubahan hidup: sebuah metamorfosis batin atau metanoia ekologis.
Sebagai bentuk Teologi Pertobatan, Taubat Ekologis ala Islam menanamkan tanggung jawab ekologis melalui beberapa rumusan teologis mendasar.
Pertama, Khalifah (Penjaga Bumi): Manusia diberi amanah untuk merawat ciptaan Allah, menganugerahkan potensi ilmu, akal, dan kemampuan berinisiatif, di samping penundukan alam raya kepada manusia, bukan mengeksploitasinya.
Kedua, Mizan (Keseimbangan): Akibat dari krisis lingkungan adalah bentuk ketidakseimbangan, yang mesti dikoreksi melalui tindakan adil dan ramah lingkungan. Memang Allah Swt menciptakan semua makhluk saling kait-berkait dalam keterkaitan itu, lahirlah keserasian dan keseimbangan dari yang terkecil hingga yang terbesar, dan semua tunduk dalam pengaturan Allah yang Mahabesar.
Bila terjadi gangguan pada keharmonisan dan keseimbangan itu, maka kerusakan terjadi, dan ini kecil atau besar pasti berdampak pada seluruh bagian alam, termasuk manusia, baik yang merusak maupun yang merestui perusakan itu, bahkan tidak mustahil yang tidak berdosa pun.
Ketiga, Biocentrisme Islami: Segala makhluk hidup memiliki nilai intrinsik sebagai wujud ekspresi ketundukan pada Allah, bukan sekadar sumberdaya buat manusia.
Resacralization of Nature: Mengembalikan Kesucian Alam
Seyyed Hossein Nasr menawarkan nilai spiritual ekologis melalui konsep resacralization of nature, yaitu membalik kebiasaan melihat alam sebagai objek menjadi sumber spiritual.
Alam menjadi tanda Ilahi (ayat kauniyah) yang patut dihormati dan dilindungi.
Pada Landasan Spiritual dan Etis, pertama, Al-Qur’an dan Hadits memerintahkan menjaga keadaban terhadap alam, mencakup larangan kerusakan dan pemborosan. Contohnya, hadits tentang zakat pohon dan perilaku wastage dalam wudhu.
ekologi
lingkungan
Islam
Junaidi
UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
perubahan iklim
deforestasi
Tribunjambi.com
| 15 Kabupaten dan Kota Akan Dibangun Jaringan Gas, Termasuk Kota Jambi |
|
|---|
| Cara Kerja Kurir Sabu di Kota Jambi Terungkap, Dapat Imbalan Rp500 Ribu dan Pakaian Gratis |
|
|---|
| Dua Kurir Sabu Asal Tanjabbar Ditangkap di Kota Jambi, Bawa Sabu Hampir 30 Gram |
|
|---|
| Kebakaran Pasar Payakumbuh Sumbar, 10 Orang Ditangkap Karena Menjarah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/27082025-junaidi-habe.jpg)