Berita Internasioal

Trump Ancam Serang Iran Jika Program Nuklir Diaktifkan Lagi

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat tajam menjelang akhir Juni 2025.

Penulis: Heri Prihartono | Editor: Heri Prihartono
Ist/ Kolase Tribun Jambi
MEMANAS -Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat tajam menjelang akhir Juni 2025. 

Diplomat AS dan Iran Akan Bertemu Pekan Depan

Di tengah nada ancaman tersebut, Trump secara mengejutkan mengumumkan bahwa pejabat tinggi dari Amerika Serikat dan Iran akan segera menggelar pertemuan diplomatik pekan depan.

Pertemuan itu bertujuan untuk membahas secara langsung masa depan program nuklir Iran dan mencari titik temu guna mencegah konflik lebih lanjut.

Meski begitu, Trump menyatakan bahwa pertemuan tersebut tidak otomatis berarti akan menghasilkan perjanjian formal.

 Ia menekankan bahwa tujuan utamanya adalah mendorong Iran menghentikan langkah-langkah menuju pengembangan senjata nuklir, bukan sekadar meraih pencitraan melalui penandatanganan kesepakatan.

“Minggu depan kita akan bertemu. Mungkin akan ada kesepakatan, mungkin tidak. Tapi saya tidak terlalu peduli soal itu. Yang penting, mereka tahu batasnya,” tegasnya.


“Kami tidak menginginkan nuklir, tetapi kami telah menghancurkan nuklir. Nuklir telah hancur berkeping-keping. Jika kami mendapatkan dokumennya, itu tidak akan buruk. Kami akan bertemu dengan mereka,” tambah Trump.


Pernyataan tersebut langsung mengundang perhatian dari berbagai pihak internasional.

Banyak kalangan memandang pertemuan diplomatik ini sebagai peluang penting untuk mencegah eskalasi militer lebih lanjut di Timur Tengah.

 Namun di sisi lain, gaya komunikasi Trump yang masih keras dan bernada ultimatum memunculkan kekhawatiran bahwa perundingan tersebut justru lebih mirip tekanan sepihak ketimbang proses negosiasi sejati.


Pengamat politik internasional mencatat bahwa gaya diplomasi Trump yang cenderung intimidatif dapat merusak peluang kompromi.

Penekanan Trump bahwa pertemuan ini mungkin tidak menghasilkan apa-apa, ditambah ancaman serangan militer yang kembali dilontarkan, menimbulkan tanda tanya besar mengenai niat sebenarnya dari diplomasi ini.

Meski demikian, negara-negara mitra NATO dan sejumlah negara Timur Tengah menyambut positif adanya rencana pertemuan, dengan harapan besar bahwa krisis nuklir Iran tidak berkembang menjadi perang terbuka yang meluas di kawasan.

Sementara itu, Iran sendiri belum memberikan tanggapan resmi atas pengumuman tersebut. Namun pernyataan diplomatik terakhir dari Kementerian Luar Negeri Iran menyebutkan bahwa mereka tidak ingin perang, namun juga tidak akan tunduk terhadap tekanan militer.

Situasi ini menempatkan dunia kembali dalam fase genting hubungan AS-Iran. Masyarakat internasional menantikan hasil dari pertemuan pekan depan, yang bisa menjadi penentu arah baru dalam hubungan dua negara yang sejak lama dibayangi kecurigaan dan konflik.

(Tribunjambi.com/Tribunnews.com)

Baca juga: HANCUR Ekonomi Israel Usai Diserang Rudal Iran Bertubi-tubi, Minta Donald Trump Genjatan Senjata

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved