Berita Internasioal
Trump Ancam Serang Iran Jika Program Nuklir Diaktifkan Lagi
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat tajam menjelang akhir Juni 2025.
Penulis: Heri Prihartono | Editor: Heri Prihartono
TRIBUNJAMBI.COM – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat tajam menjelang akhir Juni 2025.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyampaikan peringatan keras terhadap Teheran dengan mengancam akan melancarkan serangan militer lanjutan apabila Iran mencoba menghidupkan kembali program pengayaan uraniumnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump saat menghadiri konferensi pers seusai Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO yang berlangsung di Belanda, Rabu (25/6/2025).
Dalam kesempatan itu, Trump menyatakan dengan tegas bahwa AS telah mengambil tindakan militer sebelumnya dan tak segan untuk mengulangi bahkan melampaui serangan tersebut jika Iran kembali mengaktifkan ambisi nuklirnya.
“Kami telah menghantam fasilitas nuklir Iran sebelumnya. Jika mereka coba lagi, kami akan lakukan hal yang sama bahkan lebih dari itu,” kata Trump, dikutip dari Reuters.
Ancaman tersebut merujuk pada operasi militer AS sebelumnya yang dilaporkan menghancurkan tiga fasilitas nuklir utama milik Iran, yaitu di Fordow, Natanz, dan Isfahan.
Serangan itu dilakukan sebagai respons terhadap dugaan bahwa Iran kembali memperkaya uranium dalam skala yang mengancam stabilitas kawasan.
Meski gencatan senjata secara resmi telah disepakati antara Washington dan Teheran, Trump menilai bahwa ketegangan masih membara di balik layar.
Ia menegaskan bahwa AS tetap mewaspadai segala bentuk aktivitas bawah tanah yang dilakukan Iran terkait program nuklirnya.
“Hal terakhir yang ingin mereka lakukan adalah memperkaya apa pun saat ini.
Mereka tidak akan memiliki bom, dan mereka tidak akan memperkaya. Saya pikir kita akan berakhir dengan hubungan yang agak mirip dengan Iran,” ujar Trump.
Trump juga menyinggung bahwa meskipun tidak ada lagi tembak-menembak terbuka antara kedua negara, gencatan senjata bukan berarti penghentian ambisi nuklir.
Ia mengungkapkan kekhawatirannya terhadap potensi Iran membangun kembali cadangan uranium secara diam-diam.
Informasi intelijen terbaru pun menunjukkan bahwa sejumlah stok uranium Iran masih belum sepenuhnya dimusnahkan meski fasilitasnya telah dihantam rudal AS.
Diplomat AS dan Iran Akan Bertemu Pekan Depan
Di tengah nada ancaman tersebut, Trump secara mengejutkan mengumumkan bahwa pejabat tinggi dari Amerika Serikat dan Iran akan segera menggelar pertemuan diplomatik pekan depan.
Pertemuan itu bertujuan untuk membahas secara langsung masa depan program nuklir Iran dan mencari titik temu guna mencegah konflik lebih lanjut.
Meski begitu, Trump menyatakan bahwa pertemuan tersebut tidak otomatis berarti akan menghasilkan perjanjian formal.
Ia menekankan bahwa tujuan utamanya adalah mendorong Iran menghentikan langkah-langkah menuju pengembangan senjata nuklir, bukan sekadar meraih pencitraan melalui penandatanganan kesepakatan.
“Minggu depan kita akan bertemu. Mungkin akan ada kesepakatan, mungkin tidak. Tapi saya tidak terlalu peduli soal itu. Yang penting, mereka tahu batasnya,” tegasnya.
“Kami tidak menginginkan nuklir, tetapi kami telah menghancurkan nuklir. Nuklir telah hancur berkeping-keping. Jika kami mendapatkan dokumennya, itu tidak akan buruk. Kami akan bertemu dengan mereka,” tambah Trump.
Pernyataan tersebut langsung mengundang perhatian dari berbagai pihak internasional.
Banyak kalangan memandang pertemuan diplomatik ini sebagai peluang penting untuk mencegah eskalasi militer lebih lanjut di Timur Tengah.
Namun di sisi lain, gaya komunikasi Trump yang masih keras dan bernada ultimatum memunculkan kekhawatiran bahwa perundingan tersebut justru lebih mirip tekanan sepihak ketimbang proses negosiasi sejati.
Pengamat politik internasional mencatat bahwa gaya diplomasi Trump yang cenderung intimidatif dapat merusak peluang kompromi.
Penekanan Trump bahwa pertemuan ini mungkin tidak menghasilkan apa-apa, ditambah ancaman serangan militer yang kembali dilontarkan, menimbulkan tanda tanya besar mengenai niat sebenarnya dari diplomasi ini.
Meski demikian, negara-negara mitra NATO dan sejumlah negara Timur Tengah menyambut positif adanya rencana pertemuan, dengan harapan besar bahwa krisis nuklir Iran tidak berkembang menjadi perang terbuka yang meluas di kawasan.
Sementara itu, Iran sendiri belum memberikan tanggapan resmi atas pengumuman tersebut. Namun pernyataan diplomatik terakhir dari Kementerian Luar Negeri Iran menyebutkan bahwa mereka tidak ingin perang, namun juga tidak akan tunduk terhadap tekanan militer.
Situasi ini menempatkan dunia kembali dalam fase genting hubungan AS-Iran. Masyarakat internasional menantikan hasil dari pertemuan pekan depan, yang bisa menjadi penentu arah baru dalam hubungan dua negara yang sejak lama dibayangi kecurigaan dan konflik.
(Tribunjambi.com/Tribunnews.com)
Baca juga: HANCUR Ekonomi Israel Usai Diserang Rudal Iran Bertubi-tubi, Minta Donald Trump Genjatan Senjata
Remaja 16 Tahun Serang Sekolah di Brasil, 1 Siswa Tewas dan 3 Luka-Luka |
![]() |
---|
Polisi India Telat Datang 3 Jam, Pengusaha Kepalang Tewas Tertembak, Saudara Korban Marah |
![]() |
---|
Bandara Arbil Diserang Drone, Irak Terjebak dalam Konflik Bayangan Timur Tengah |
![]() |
---|
AS Perketat Keamanan Usai Serangan ke Iran, Tempat Ibadah dan Fasilitas Publik Diperketat |
![]() |
---|
Terungkap Israel Ogah Stop Serangan Udara ke Iran, Peluang Perang Jangka Panjang |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.