WAWANCARA EKSKLUSIF
Paparkan Soal Prajurit di Daerah Konflik, Pangkostrad, Letjen TNI Muhammad Saleh Mustafa, Seri I
Jadi, saling melindungi. Kadang-kadang, misalnya di hutan itu, nah kita berdua, saya tidur sama prada,” ungkapnya.
PANGLIMA Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad), Letnan Jenderal TNI Muhammad Saleh Mustafa, pernah bertugas pindah-pindah di daerah konflik dari Poso, Aceh hingga Papua.
Muhammad Saleh mengatakan pengalaman itu menjadi kesan untuk membangun kedekatan dengan prajuritz
"Yang pertama, ya, saya merasa bersyukur. Ada beberapa kali ancaman yang mungkin Tuhan masih cinta sama saya, saya diselamatkan. Ya, itulah kejadiannya,” kata Saleh di kantor Makostrad, Jakarta, Senin (13/5).
Tidak dipungkiri ada kontak tembak, kejadian di pos diserang.
"Nah, itu yang pertama yang kesannya buat Tuhan ternyata masih melindungi saya. Yang kedua, saya merasakan bahwa kesan itu saya ingin keselamatan atau keberhasilan saya itu bukan keberhasilan saya pribadi," urainya. Sehingga Saleh mengajak kepada prajuritnya dalam setiap penugasan itu adalah membangun kebersamaan.
Jadi, saling melindungi. Kadang-kadang, misalnya di hutan itu, nah kita berdua, saya tidur sama prada,” ungkapnya.
Pengalaman kedekatan itulah yang dirasakan sekarang, selalu melekat. Ikatan batin dengan prajurit, baginya merupakan kesan tersendiri baik di satuan Kopassus, satuan Kostrad.
Simak wawancara eksklusif Direktur Pemberitaan Tribun Network, Febby Mahendra Putra, dengan Pangkostrad Letjen Muhammad Saleh Mustafa:
Tema Kostrad pada ulang tahun yang lalu adalah "Petarung Militan Penjaga NKRI". Bisa dijelaskan, Pak Panglima, maksud tema ini apa?
Ya, tadi sebagian sudah Mas Febby itu, sampaikan itu. Nah, kita dalamnya, setiap ulang tahun ini kan kita melakukan suatu refleksi ya, mungkin suatu kegajian dan evaluasi sejauh mana apa yang sudah kita Kostrad lakukan.
Dan memang, seperti tadi Mas Febby sampaikan, memang Kostrad ini menjadi tumpuan, ya. Batalion saya ini, setiap tahun itu ada 5 sampai 6 batalyon, kadang-kadang itu bertugas di perbatasan di Papua. Nah, kalau seandainya rutinitas ini terus berjalan, kan berarti saya sangat tergantung berhasil dan tugas Kostrad ini sangat tergantung oleh prajuritnya. Sehingga saya katakan prajurit kalian adalah petarung.
Jadi karena petarung itu, ya, maknanya, ya?
Petarung itu ya berarti dia punya jiwa untuk fight gitu, ya. Kemudian dia juga harus menyiapkan dirinya sebelum bertanding, kan petarung ini kan juga mentalnya harus ya, dan tidak ada kata lain, harus menang. Petarung itu kalau tampil harus menang. Harus menang. Walaupun mungkin ada hal-hal yang lainnya itu nanti sebab akibat lah.
Nah, dari kata petarung lain tuh, prajurit saya berharap dia punya satu kebanggaan, dia merasa dihargai, dia merasa dihormati. Apa yang telah dia sumbangsikan kepada bangsa dan negara, tenaga, pikiran, waktu yang dia korbankan, itu dia merasa dihargai. Dan itulah memang dia sadari bahwa itu tugasnya dia.
Saya sampaikan kalau adalah petarung. Nah, militan di sini menegaskan kembali bahwa militansi, militan ini kan selain petarung, itu kan harus ada jiwa-jiwa militansi. Seperti rela berkorban.
Saksi Kata, Anggota HMI Dikeroyok di UIN STS Jambi hingga Kepala Bocor |
![]() |
---|
Saksi Kata: Sesepuh Kenali Asam Atas Kota Jambi Siap Mati, Heran Zona Merah Pertamina |
![]() |
---|
SAKSI KATA Pasien Somasi RSUD Kota Jambi, Pengacara: Anak 4 Tahun Meninggal |
![]() |
---|
Juliana Wanita SAD Jambi Pertama yang Kuliah, Menyalakan Harapan dari Dalam Rimba |
![]() |
---|
SAKSI KATA: Pengakuan Rosdewi Ojol Jambi yang Akunnya Di-suspend karena Ribut vs Pelanggan |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.