Mutiara Ramadan
Mutiara Ramadan: Tingkatkan Ibadah Puasa
Puasa menurut bahasa ialah menahan diri. Sedangkan menurut istilah syara' ialah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa seperti makan,
Penulis: M Yon Rinaldi | Editor: Rian Aidilfi Afriandi
TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Puasa menurut bahasa ialah menahan diri. Sedangkan menurut istilah syara' ialah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa seperti makan, minum, berjima' dan sengaja muntah mulai dari terbitnya fajar Shodiq sampai terbenamnya matahari dengan niat tertentu di malam harinya.
Ibadah puasa dapat digolongkan kedalam tiga tingkatan, yaitu puasa biasa, puasa istimewa, dan puasa teristimewa di antara yang istimewa.
Ibadah puasa biasa adalah menahan diri atau menjauhi keinginan-keinginan yang berkaitan dengan pemuasan nafsu makan, minum dan pemuasan seksual. Ibadah puasa istimewa adalah menjaga telinga, mata, lisan, tangan dan kaki serta anggota tubuh lainnya dari perbuatan yang salah. Ibadah puasa teristimewa dari yang istimewa adalah yang mengarahkan ibadah puasa tersebut kepada puasa hati.
Puasa hati adalah menjauhkan diri dari pikiran-pikiran apapun selain Alloh. Puasa hati dianggap batal dengan adanya suatu pikiran selain pikiran tentang Alloh dan hari akhir. Puasa tingkatan inilah yang dicapai oleh para Nabi dan Auliya Alloh.
Pemirsa yang dirohmati Alloh Ta'ala, kita akan bahas ibadah puasa tingkatan kedua, yakni Ibadah Puasa Istimewa.
Ibadah Puasa Istimewa adalah menjaga atau menjauhkan semua anggota tubuh dari perbuatan yang salah. Ibadah puasa ini dilakukan oleh orang sholeh.
Ibadah Puasa Istimewa ini dapat dicapai dengan enam hal; yaitu:
Pertama, menjauhkan diri dari melihat segala sesuatu yang tidak benar dan tidak disukai Alloh. Rosululloh SAW bersabda: ada lima perkara yang membatalkan (pahala) puasa, yaitu berbohong, bergunjing, memfitnah, mengucapkan sumpah palsu, dan memandang dengan nafsu.
Kedua, Menjaga lidah dari pembicaraan yang tak ada gunanya, berbohong, bergunjing, memfitnah, mencela, menyinggung perasaan orang, berbicara yang mengandung tipuan dan berdebat yang tidak bermanfaat. Lidah semestinya harus dimanfaatkan untuk mengagungkan nama Alloh.
Rosululloh SAW. bersabda: Sesungguhnya puasa dikiaskan sebagai benteng, karena itu ketika salah seorang di antara kamu menjalankan ibadah puasa, janganlah berbicara tanpa manfaat atau melakukan perbuatan yang tak berguna. Jika ada orang yang berbeda pendapat denganmu atau menyumpahimu, maka katakanlah, 'Aku sedang melakukan ibadah puasa, sungguh, aku sedang berpuasa.
Ketiga, menutup telinga dari mendengar segala yang dilarang Allo SWT. Hal-hal yang tidak boleh dijadikan bahan pembicaraan berarti juga tidak boleh didengar. Karena itu Alloh menganggap sama orang yang bergunjing dengan orang yang makan barang haram. Firman Alloh SWT. "Mengapakah orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan barang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka lakukan itu". (QS. Al-Ma'idah (5):62).
Sabda Rosululloh SAW: Orang-orang yang bergunjing dan orang-orang yang mendengarkan pergunjingan adalah pasangan dalam perbuatan dosa.
Keempat, Mencegah semua anggota tubuh dari perbuatan yang salah yang mengandung maksiyat, mencegah tangan dari memegang sesuatu yang tidak halal, dan mengendalikan kaki dari melangkah ke arah perbuatan yang haram serta menghindari makanan yang diragukan kehalalannya pada saat berbuka puasa.
Nabi Muhammad SAW. bersabda: Banyak orang yang berpuasa hanya mendapatkan rasa lapar dan haus.
Dalam menjelaskan hadits ini, dikatakan ulama bahwa yang dimaksud oleh Rosululloh SAW. adalah orang yang berbuka puasa dengan makanan haram. Sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa yang diamksud adalah orang yang meninggalkan makanan dan minuman yang halal selama siang hari tetapi mengakhiri puasanya dengan makan bangkai orang lain melalui pergunjingan, yang merupakan perbuatan yang diharamkan. Sebagian ulama yang lain lagi mengatakan bahwa yang dimaksud adalah orang yang tidak menghindarkan anggota tubuhnya dari perbuatan yang dilarang Alloh.
Kelima, Ketika berbuka puasa orang tidak boleh terlalu banyak makan walaupun yang dimakannya adalah makanan halal yang membuat perutnya terlalu penuh, atau kata lain adalah kekenyangan. Karena tak ada kandung yang lebih dibenci Tuhan daripada perut yang terlalu penuh dengan makanan.
Keenam, setelah berbuka puasa, hati sebaiknya selalu dalam keadaan bertanya-tanya di antara rasa takut dan harap, apakah puasanya diterima atau tidak. Apakah kita berada diantara orang-orang yang disayangi Alloh atau yang dibenci Alloh. Kita harus selalu berada dalam keadaan yang demikian setiap kita selesai melakukan ibadah.
Diriwayatkan bahwa Hasan Al-Basri (seorang sufi terkenal di zaman dahulu), pada suatu hari berjalan melewati sekelompok orang yang sedang tertawa terbahak-bahak. Beliau berkata:
"Sesungguhnya Alloh telah menjadikan bulan Romadhon suatu lomba dimana manusia bersaing dalam mengabdi kepada-Nya. Sebagian orang telah memenangkan lomba ini dan diberi mahkota kemenangan, sedangkan yang lainnya tertinggal di belakang dan tersesat. Kami heran dan terkejut melihat orang-orang yang pada saat ini menghabiskan waktunya untuk tertawa-tawa dan melakukan sesuatu yang percuma pada hari ketika orang yang ikhlas mendapat kemenangan dan yang lalai mendapat kegagalan dan bencana. Demi Alloh, jika tirai itu disingkapkan kalian akan melihat orang-orang yang baik sibuk melakukan kebaikan, dan orang-orang yang tidak baik disibukkan dengan perbuatan yang tidak baik pula."
| Mutiara Ramadan: Manfaatkan Aktivitas yang Diridhoi Allah Swt |
|
|---|
| Mutiara Ramadan, Istiqomah oleh Ustadz Anwar Sadat |
|
|---|
| Bermanfaat Bagi yang Lain |
|
|---|
| Mutiara Ramadan, Pintu Surga Bagi Orang Yang Menjalankan Ibadah Puasa oleh Ustadz Anwar Sadat |
|
|---|
| Mutiara Ramadan, Bulan Ramadan Bulan Ampunan oleh Ustadz Anwar Sadat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/Ustad-Abdul-Hamid-Penceramah-Jambi.jpg)