Mutiara Ramadan

Mutiara Ramadan, Istiqomah oleh Ustadz Anwar Sadat

Pada pertemuan yang lalu kita sudah membahas masalah Istiqomah, dan pada Kesempatan yang berbahagia ini kita kembali sedikit membahas tentang Istiqoma

Tribunjambi/Danang
Bupati Tanjabbar, Anwar Sadat 

TRIBUNJAMBI.COM, KUALATUNGKAL - Pada pertemuan yang lalu kita sudah membahas masalah Istiqomah, dan pada Kesempatan yang berbahagia ini kita kembali sedikit membahas tentang Istiqomah yang sangat dinanti nantikan oleh kita semua, artinya kita ingin menuju pada maqam Istiqomah itu.

Kaum muslimin muslimat rahimakumullah.

Banyak untaian yang mengatakan bahwa istiqomah adalah salah satu maqam yang sangat sulit untuk dilewati oleh kita, karena kita tahu bahwa Istiqomah adalah kemantapan hati seseorang untuk senantiasa melaksanakan segala apa yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhi apa yang dilarang oleh Allah SWT.

Kemarin juga kita membicarakan Betapa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam begitu beliau agar senantiasa tunduk dan patuh kepada Allah, lalu Beliau senantiasa berpikir mendalam, evaluasi bertafakur.

Akhirnya beliau menyatakan bahwa, membuat rambutku beruban memikirkan surat ini, artinya beliau sendiri pun merasakan Betapa sulitnya bagi kita untuk senantiasa Istiqomah kepada Allah, Apalagi kita sebagai hamba-nya umatnya yang jauh dari kasih sayang Allah, yang penuh dengan perbuatan durhaka, dosa dan sebagainya, sehingga semakin sulit kita untuk berbuat Istiqomah kepada Allah SWT.

Kaum muslimin muslimat rahimakumullah.

Oleh karena itulah para ulama-ulama kita selalu mengajarkan setiap kali kita ingin melakukan amaliyah atau membuat suatu amalan, maka supaya amal itu bisa menjadi istiqomah kita disuruh untuk tidak berhenti mengamalkan.

Misalnya ketika kita ingin mengamalkan membaca shalawat, maka dianjurkan membaca shalawat selama 40 hari tidak putus putusnya, maksudnya Apabila seseorang melakukan Amaliyah selama 40 hari lalu tanpa terputus, artinya peluang seseorang itu untuk istiqomah sudah terbuka, apabila 40 hari ini belum terasa cukup maka beliau diminta untuk menambah 40 hari, dan apabila ini pun belum cukup maka diminta menambah 40 hari kedepan.

Ini difilosofikan dengan bagaimana seseorang dalam kandungan 40 hari, dari darah kemudian menggumpal jadi daging dan kemudian akan menjadi bayi, Artinya seseorang yang melakukan amal ibadah lalu kontinyu, dia paksa dalam mujahaddah nya itu, maka dia akan menjadi segumpal darah, dari sperma menjadi segumpal darah, segumpal darah menjadi segumpal daging, lalu dari daging itu akan menjadi bayi yang siap dilahirkan, Begitu orang-orang yang melaksanakan Amaliyah amaliyah yang lainnya.

Kaum muslimin muslimat Rahimakumullah

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved