WAWANCARA EKSKLUSIF

Syarif Fasha: Saya Kejar Prestasi Kelas 2 SD, Masa Kecil Wali Kota Jambi 2013-2018 dan 2018-2023

Pascamenjabat, Syarif Fasha menyempatkan diri berkunjung ke kantor Tribun Jambi. Di sana, dia memaparkan bagaimana masa kecilnya, sekolah, kuliah

Penulis: M Yon Rinaldi | Editor: Duanto AS

Ibu saya itu selain ibu rumah tangga juga sebagai juru masak. Kalau dulu itu namanya panggung, juru masak yang dipanggil waktu ada acara atau hajatan. Selain itu dia juga ketua pengajian.

Justru yang membentuk karakter dan mental saya itu kakak saya, sehingga bisa survive.

Kebetulan tempat tinggal saya dahulu daerah "Texas", lingkungannya keras dan terkenal banyak menghasilkan orang yang masuk ke dunia hitam, jadi saya pun dibesarkan di lingkungan dunia hitam. Bahkan, di lingkungan saya dahulu hanya beberapa yang bersekolah.

Apa kesan waktu pertama ke Jambi?

Saya dahulu komplain waktu pertama ditugaskan ke Jambi, tapi pimpinan saya berhasil meyakinkan saya.

Dari Palembang ke Kerinci jaraknya lebih dari 20 jam, kurang lebih lima kali berhenti di jalan. Di jalan, saya sempat beberapa kali bertemu SAD (Suku Anak Dalam).

Tapi, saat melihat Kerinci, saya merasa terkejut karena masih banyak hutan, sedangkan di Palembang saat itu banyak bangunan. Tapi saya betah di sana karena alamnya, kemudian masyarakatnya.

Februari 1992, saya pindah tugas ke Tanjung Jabung. Waktu itu di Sengeti lagi banjir besar, air naik sampai sedengkul dan mobil saya kendarai mogok. Jadi, mobil saya tinggalkan di Sengeti hampir seminggu.

Waktu itu masih proses pembuatan jembatan dan saya ditugaskan untuk mengawasi pengerjaan jembatan tersebut.

Katanya pernah berkuliah di Jambi juga?

Jadi, di tahun 1999, waktu saya sudah berdomisili di Jambi dan saya sudah menjadi kontraktor, untuk meningkatkan kompetensi, saya ingin belajar manajemen, jadi saya kuliah S-1 manajemen. Tujuannya untuk mengembangkan usaha saya.

Di tahun 1999, itu justru saya terkena dampak dari dari krisis saat reformasi. Saya sempat terjatuh dan menjadi miskin. Namun saya bisa bangkit lagi.

Setelah selesai kuliah 2004-2005, saya sudah bangkit lagi dan sudah bekerja sama dengan perbankan

Tidak sampai di situ, untuk mengembangkan kompetensi saya kembali melanjutkan pendidikan dan mengambil S-2 ekonomi pembagunan.

Saya kuliah empat kali di ilmu yang berbeda, termasuk IPDN (Institut Pemerintahan Dalam Negeri).

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jambi
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved