Berita Jambi
Sepekan Setelah Kejadian, Pelaku Akhirnya Diserahkan Orangtua dan Kepala Desa ke Kantor Polisi
Tiga pelaku pengeroyokan dan penganiayaan sesama pelajar SMAN 4 Sarolangun, diserahkan ke Polres Sarolangun.
Penulis: Rifani Halim | Editor: Deni Satria Budi
TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Tiga pelaku pengeroyokan dan penganiayaan sesama pelajar SMAN 4 Sarolangun, diserahkan ke Polres Sarolangun. Para pelaku diantar oleeh kepala desa dan orangtua pelaku, Senin (6/11/2023) sekira pukul 12.00 WIB.
Penyerahan pelaku berdasarkan Laporan polisi nomor : LP/B-36/ X / 2023 / SPKT / Sek Mandiangin / Res Sarolangun / Jambi. Tanggal 30 Oktober 2023, tentang Dugaan tindak pidana pengeroyokan atau penganiayaan.
Kabid Humas Polda Jambi, Kombes Pol Mulia Prianto, mengatakan, ketiga pelaku tersebut dibawa dan diserahkan ke Polres Sarolangun oleh Kepala Desa Rengkiling Simpang, Herman, Kepala Desa Rengkiling Bakti, Sarpia, tokoh masyarakat Desa Rengkiling, orangtua dan keluarga ketiga pelaku.
Tiga orang pelaku tersebut yakni DP (16), AR (16) dan PA (16). Mereka semuanya berstatus pelajar dan warga Desa Rengkiling Simpang, Kecamatan Mandiangin Kabupaten Sarolangun.
"Selanjutnya pelaku akan dimintai keterangan dan diproses hukum sesuai undang-undang yang berlaku di Republik Indonesia," ujar Kombes Pol Mulia Prianto.
Seperti yang diwartakan sebelumnya, aksi pengeroyokan dan penganiayaan terjadi Senin (30/10) sekira pukul 08.30 WIB di kantin sSekolah SMAN 4 Sarolangun, Kecamatan Mandiangin.(can)
Keluarga Buat Laporan
Keluarga korban yang tewas Sup Edi alias Boye (40) warga Mandiangin, di dekat lokasi pemblokiran jalan nasional Sarolangun-Jambi, resmi membuat laporan ke Mapolres Sarolangun. Karena keluarga menduga adanya dugaan penganiayaan yang dilakukan aparat kepada korban.
Istri korban membuat laporan ke Polres Sarolangun untuk mengusut tuntas atas meninggal suaminya.
Niken Yolanda, anak korban saat dikonfirmasi
mengatakan, ayahnya meninggal dunia diduga dikeroyok sejumlah petugas kepolisian, saat pembubaran paksa aksi pemblokiran jalan oleh masyarakat Mandiangin, pada Jumat (3/11) malam.
"Iya, kami sudah melapor, karena kami keluarga tidak terima keadaan begini. Ayah kami meninggal bukan jatuh dari got, ataupun mabuk miras apa yang disampaikan pihak kepolisian," kata Ayu, Senin (6/11).
Dengan tegas Yolanda menyebut, ayahnya meninggal karena bentrokan dengan pihak kepolisian, bukan akibat minum miras dan masuk parit. Dan ada bukti dalam rekaman CCTV. Saat itu, ayahnya tidak terekam karena posisi di belakang.
"Ayah saya mau bantu adiknya, karena posisinya dari belakang tidak terekam CCTV, dia digebuk dari belakang. Memang ayah saya hadir waktu pemblokiran jalan tersebut, menuntut keadilan pascakejadian bentrokan siswa yang janji pihak kepolisian 3x24 pelaku untuk ditangkap dan aksi pemblokiran jalan dibolehkan," ujarnya.
Ia juga menyebutkan kronologis ayahnya meninggal, yang diketahuinya ada bentrokan dan sudah bubar, saat itu adik ayahnya, berjalan dan terekam dalam CCTV,
"Jelas ada perlawanan dengan pihak kepolisian, digebukin pakai pentungan, dan ayah saya sempat negur dan bilang itu adiknya," kata Ayu.
Menurutnya, oknum polisi lain dari belakang langsung memukul ayahnya, di situlah terjadi bentrokan ayah dibantu ibu saya, ayah sempat lari, masih dikejar, di situlah dihajar habis-habisan.
Jambi Kirim 25 Atlet ke Kejurnas Atletik 2025 di Surakarta |
![]() |
---|
Wisuda Bukan Akhir, Sekda Jambi Dorong Lulusan UNJA Siap Hadapi Tantangan |
![]() |
---|
Truk Solar Antri di SPBU Jambi, Pertamina Klaim Ketersediaan Biosolar Aman |
![]() |
---|
Berkat Gubernur Al Haris, Jambi Raih Pengampuan KJSU dari Kemenkes RI |
![]() |
---|
Sopir Truk Menginap di SPBU demi Dapat Solar di Jambi: Pak Haris, Tolong Bantu Kami |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.