Batu Bara di Provinsi Jambi

Batu Bara, Fenomena Ekses, serta Peran Pemerintah dan DPRD Provinsi Jambi Mengatasinya

Terkait batu bara yang terjadi saat ini merupakan fenomena ekses—hal (peristiwa) yang melampaui batas.

Penulis: Mareza Sutan AJ | Editor: Mareza Sutan AJ
Tribunjambi.com/ Mareza Sutan AJ
Tongkang melintas di Sungai Batanghari (dokumentasi tribunjambi.com) 

 

TRIBUNJAMBI.COM - Masyarakat, khususnya yang tak jauh dari lingkungan akses angkutan batu bara, dihadapkan pada fenomena. Hampir setiap malam—semakin padat dalam beberapa bulan terakhir—angkutan batu bara selalu memadati jalan-jalan Provinsi Jambi, terutama pada malam hari.

Anto adalah satu dari sekian banyak orang yang mengadukan nasibnya di dunia batu bara di Provinsi Jambi. Mereka rata-rata menghabiskan malam di perjalanan. Kendaraan akan berbaris dan kian ramai ketika hari makin gelap. Biasanya, mereka baru pulang menjelang pagi, atau setelah fajar menyingsing.

“Memang macam inilah kalau jadi sopir,” katanya, Kamis, 29 Desember 2022.

Para sopir batu bara sebagian besar mengemudikan kendaraan mereka dari tambang-tambang di Kabupaten Sarolangun, meski ada juga beberapa lokasi seperti di Merangin dan Batanghari. Mereka akan berupaya ‘kejar target’ mulai dari ‘gerbang start’ dibuka. Seperti Anto, misalnya, dia melewati Muara Tembesi, Muara Bulian, sampai akhirnya di sekitar Talang Duku.

Terlepas dari hitung-hitungan untung rugi, menjadi sopir truk batu bara menjadi hal yang cukup menjanjikan di Jambi sementara ini. Kata dia, tidak sedikit orang beralih profesi mulai dari buruh kasar, hingga pekerjaan lainnya.

Akan tetapi, kehadiran industri batu bara yang semakin menjamur saat ini menimbulkan polemik. Orang-orang yang diuntungkan mengaku merebaknya ‘emas hitam’ menjadi progres positif, sementara yang dirugikan beranggapan lain.

Sejumlah angkutan batu bara melitas di jalan Muara Bulian 31122022
Sejumlah angkutan batu bara melitas di jalan Muara Bulian, Kamis (29/12/2022)

Selain sopir, yang turut merasa diuntungkan di antaranya adalah pedagang di pinggir jalan, seperti bahan bakar minyak (BBM, dalam hal ini solar), mau pun makanan. Tak peduli bermandikan debu, omzet pedagang memang meningkat ketika angkutan-angkutan batu bara itu beroperasi.
“Yang jelasnya ramai, banyak yang beli,” ungkap Uda, satu di antara pedagang.

Walakin, tak semua orang merasa diuntungkan seperti Anto dan Uda. Heru, satu di antara warga yang sekaligus bekerja sebagai driver online tak satu suara. Menurutnya, rentetan truk batu bara acap menghalangi pekerjaannya.

“Selain makin lama, jadi waswas juga,” ujarnya.

Senada dengan Heru, beberapa pengguna jasa travel juga merasa terlalu banyaknya angkutan batu bara memberikan dampak negatif. Dampaknya, mulai dari keterlambatan hingga potensi kecelakaan yang lebih besar.

Menanggapi hal ini, sejumlah stakeholder telah berupaya untuk ambil sikap. Polda Jambi melalui Direktorat Lalu Lintas (Dirlantas), misalnya. telah berupaya menerapkan aturan hingga menyurati Direktur Pembinaan Pengusaha Batu Bara Dirjen Minerba Kementerian ESDM terkait penertiban angkutan batu bara yang melanggar jam operasional. Selain itu, pada kondisi tertentu, aktivitas angkutan juga dihentikan, seperti ketika hari besar, libur, dan waktu-waktu yang berpotensi menimbulkan keramaian.

Sayangnya, tidak semua upaya tersebut berhasil. Pasalnya, masih banyak pengemudi angkutan batu bara yang memilih untuk melanggar aturan tersebut.

 

Halaman
123
Sumber: Tribun Jambi
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved