Tahura STS Jambi yang Tak Lagi Berhutan, Banyak Kayu Dijarah Pembalak Liar

Taman Hutan Raya Sultan Thaha Syaifuddin (Tahura STS) Jambi merupakan kawasan konservasi untuk tanaman endemik di Jambi.

Penulis: A Musawira | Editor: Teguh Suprayitno
Tribunjambi/Musawira
Taman Hutan Raya Sultan Thaha Syaifuddin Jambi. 

 


TRIBUNJAMBI.COM, MUARABULIAN-Taman Hutan Raya Sultan Thaha Syaifuddin (Tahura STS) Jambi merupakan kawasan lindung yang dikategorikan sebagai hutan konservasi.

Taman ini ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: 94/Kpts-II/2001 pada 15 Maret 2001 merupakan wilayah konservasi tanaman endemik di Jambi.

Tahura sejauh ini memiliki fungsi sebagai tempat koleksi tumbuhan dan satwa. Dimanfaatkan untuk kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, budaya, pariwisata, dan rekreasi.

Tahura STS Jambi memiliki luas 15.834 hektare dalam wilayah Kecamatan Bajubang, Kecamatan Batin XXIV, Kecamatan Muara Tembesi, dan Kecamatan Muara Bulian melingkupi sebanyak 12 desa.

Tahura STS Jambi juga merupakan habitat bagi berbagai jenis tumbuhan. 

Sejauh ini, terdapat 138 jenis pohon di kawasan Tahura STS Jambi. Beberapa di antaranya yaitu kayu bulian, kayu tempinis, terap, medang, dan kayu aro yang merupakan jenis penting di kawasan ini.

Tahura STS Jambi 1
Landscape Tahura STS Jambi. Kondisi hutan sudah mulai gundul akibat oknum perambah kayu-kayu endemik yang punya nilai ekonomi tinggi.


Kabid Tahura Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Batanghari, Kurniawan mengatakan sebelum ditetapkan sebagai kawasan konservasi, Tahura ini disebut Hutan Senami.

Lokasi kawasan ini seluruhnya berada di wilayah Batanghari. Masalah pengelolaannya di bawah Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Batanghari.

“Kita cuma bisa menjalankan atau mengikuti aturan yang dibuat oleh KLHK. Sebab, Tahura itu kawasan konservasi berbeda dengan hutan lindung,” katanya pada Sabtu (19/11/2022).

Tujuan utama penetapan Tahura ini, untuk melestarikan tanaman endemik yang telah didapati sebelum kawasan ini ditetapkan.

“Tahura ini kawasan konservasi, jauh sebelum 2001 sudah dikenal sebagai lumbungnya tanaman endemik kayu bulian. Mungkin kalau di Kalimantan Kayu kulin. Jadi untuk melestarikan kayu bulian itu sebagai tanaman endemik maka ditetapkanlah kawasan ini sebagai Tahura karena ada ciri khas sebagai kawasan pelestarian kayu endemik itu,” ujarnya.

Selain tanaman endemik, di kawasan ini punya ciri khas baik fauna dan floranya yang saat ini hampir terancam kelestariaanya.

“1924 silam, pernah dilakukan penelitian oleh peneliti Belanda. Saat itu, dinamai Hutan Senami. Hasil penelitian itu menyebutkan bahwa populasi kayu bulian ada sekitar 105 kubik per hektare di dalam Tahura," ucapnya.

Baca juga: KLHK Setujui Pemkab Batanghari Rehab Jalan Menuju Tahura Senami

Halaman
12
Sumber: Tribun Jambi
Berita Populer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved