Tahura STS Jambi yang Tak Lagi Berhutan, Banyak Kayu Dijarah Pembalak Liar

Taman Hutan Raya Sultan Thaha Syaifuddin (Tahura STS) Jambi merupakan kawasan konservasi untuk tanaman endemik di Jambi.

Penulis: A Musawira | Editor: Teguh Suprayitno
Tribunjambi/Musawira
Taman Hutan Raya Sultan Thaha Syaifuddin Jambi. 

Kemudian, pada 1983 Tim Peneliti dari Universitas Indonesia, Universitas Gajah Mada dan Jepang menyampaikan 120 kubik per hektare.

Hingga penelitian pada 2017 ada Tim kementrian menyatakan kembali berkurang sekitar 5 kubik per hektare sampai saat ini.

"Sudah sangat berkurang karena dampak dari kejadian kebakaran hutan dan lahan akibat iklim dan perambahan," katanya.

Selain penyebab itu, pohok bulian memiliki nilai ekonomi tinggi, jadi sangat menarik perhatian terhadap oknum-oknum perambah.

"Tugas kita saat ini untuk mempertahankan kayu bulian yang ada. Kita lakukan penanaman kembali atau reboisasi, patroli dan penindakan hukum terhadap illegal logging kalau ada yang melanggar," ujarnya.

Setiap Minggu, setidaknya tiga hari melaksanakan patroli. Hal lain yang dilakukan untuk melestarikan kayu bulian dengan cara membangun pusat ekowisata.

Dengan begitu akan banyak aktivitas manusia yang keluar masuk diareal ini terutama aktivitas wisata diimbangi dengan perkembangan ekonomi bagi warga setempat.

Baca juga: Wisata Jambi, Nikmati Alam Bebas dengan Jalan-jalan ke Tahura, Kini Ada Glamping Penunjang Ekowisata

“Yang tadinya masyarakat mencari kayu di hutan maka akan punya mata pencarian lain sehingga mereka tidak lagi merambah hutan karena kita bisa menciptakan pusat pertumbuhan yang baru untuk pertumbuhan ekonomi. Dengan adanya seperti itu kegiatan ilegal pasti akan berkurang,” pungkasnya.

Baca berita terbaru Tribunjambi.com di Google News

Sumber: Tribun Jambi
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved