Sawit Makin Populer, Masyarakat Enggan Menanam Padi di Sarolangun?

Dibandingkan dengan menanam padi, masyarakat justru lebih senang untuk menanam sawit karena dari segi keuntungan cukup menggiurkan.

Editor: Rahimin
Istimewa
Faktor lain mengapa sawit kian populer di kabupaten sarolangun yaitu terdapat target pasar yang cukup besar. 

Tujuan dari pengembangan metode KSA ini tidak lain dan tidak bukan untuk memperbaiki metodologi penghitungan luas panen padi melalui penerapan objective measurement dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, serta ketersediaan citra satelit resolusi tinggi.

Dengan demikian, data yang dikumpulkan menjadi lebih akurat dan tepat waktu (timely). Pengamatan lapangan Survei KSA dilakukan pada 7 (tujuh) hari terakhir setiap bulan.

Dalam pelaksanaanya, Kabupaten Sarolangun mempunyai 36 segmen padi yang tersebar di seluruh Kabupaten Sarolangun, setiap bulannya segmen-segmen tersebut di amati oleh petugas dan kemudian dilaporkan ke Kabupaten.

Dari tahun ke tahun, tentu banyak terjadi perubahan-perubahan alih fungsi lahan di beberapa wilayah salah satunya Kecamatan Pelawan.

Petugas KSA Pelawan melaporkan bahwa terdapat beberapa segmen yang sudah tidak ditanami padi lagi sejak 2 tahun lalu, sehingga mengajukan pergantian titik segmen ke daerah potensial lainnya, beberapa kasus alih fungsi lahan yang terjadi tentu saja berhubungan dengan tanaman sawit yang kian populer.

Luas panen padi di Kabupaten Sarolangun di tahun 2021 mengalami penurunan dibandingkan dengan luas panen padi tahun 2020 yaitu mencapai 35,35 persen (Publikasi Luas Panen dan Produksi Panen di Produksi Jambi Tahun 2021).

Hal tersebut tentu datang dari banyak faktor eksternal lainnya tidak hanya masalah alih fungsi lahan, seperti terjadi banjir di beberapa wilayah amatan dan terdapat lahan-lahan yang dibiarkan begitu saja (tidak ditanami apapun).

Kemudian, bagaimana jika produksi padi di Kabupaten Sarolangun menurun? Apa dampak nyata yang dirasakan oleh masyarakat?

Jika luas panen padi mengalami penurunan, tentu berpengaruh positif terhadap produksi padinya, kemudian secara langsung berpengaruh terhadap produksi beras yang dihasilkan para petani padi.

Dilansir dari Data Dinas Perkebunan yang termuat dalam Publikasi Kabupaten Sarolangun dalam Angka 2022 disebutkan bahwa luas areal tanaman perkebunan kelapa sawit di tahun 2020 mencapai 85.147 Ha (angka sementara) dan kemudian di tahun 2021 meningkat menjadi 95.987,84 Ha.

Kecamatan yang mengalami perluasan tanaman perkebunan kelapa sawit yang sangat pesat yaitu Pauh, dimana di tahun 2020 luas areal tanaman perkebunan kelapa sawitnya hanya seluas 10.411 Ha (angka sementara) hingga di tahun 2021 luas arealnya pun meningkat pesat menjadi 23.033,77 Ha.

Dari data tersebut bisa disimpulkan bahwa secara keseluruhan, dalam kurun waktu satu tahun perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Sarolangun meningkat sekitar 10.000 Hektar dengan kepemilikannya oleh masyarakat dan juga perusahaan-perusahaan perkebunan.

Terdapat pro dan kontra dari fenomena alih fungsi lahan pertanian padi menjadi lahan perkebunan kelapa sawit.

Di satu sisi kurangnya lahan sawah menyebabkan pemenuhan beras masyarakat untuk dikonsumsi sendiri menjadi terbatas, jika dulu masyarakat tidak perlu membeli beras untuk makan sehari-hari, namun kali ini harus mulai memperhitungkan untuk membeli beras demi kelangsungan hidup.

Halaman
123
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved