Antisipasi Melalui Kemandirian Pangan

Dampak kenaikan harga minyak goreng di awal tahun 2022 belum berhasil dipulihkan. Berbagai kebijakan telah berusaha dilakukan pemerintah

Editor: Suci Rahayu PK
Istimewa
Kantor Badan Pusat Statistik 

Perlu diingat, bahwa bukan hanya rumah tangga yang merasakan dampak kenaikan harga, tetapi juga pelaku usaha yang bergerak di sektor yang sebagian besar menggunakan bahan pangan sebagai input untuk usaha, seperi industri makanan.

Belum selesai mereka berbenah karena dampak kenaikan harga minyak goreng yang memaksa mereka menaikkan harga jual, kembali serangan kenaikan harga beberapa komoditas pangan antara lain cabai, terigu, telur dan bawang membuat usaha mereka terancam gulung tikar.

Beberapa Program Sebagai Solusi

Pemberian bantuan sosial bagi masyarakat yang tergolong miskin dan rentan miskin merupakan jalan tercepat dalam menjaga agar daya beli masyarakat tetap terjaga sehingga rantai pasokan barang juga akan terus bergerak.

Namun sampai saat ini, permasalahan yang kerap terjadi di lapangan dalam program pemberian bantuan adalah masih ditemukannya pemberian bantuan yang salah sasaran.

Basis data yang terus diperbaharui secara periodik akan mempermudah kerja pemerintah dalam memberikan bantuan sehingga dapat meminimalisir dampak negatif yang ditimbulkan.

Bantuan jangka pendek tentu hanya bersifat sementara, sehingga dibutuhkan program jangka panjang yang berkesinambungan untuk mengurangi ketergantungan daerah akan barang-barang dari luar.

Mungkin Jambi bisa mempercepat terlaksananya Program Food Estate yang menjadi salah satu program prioritas Kementrian Tanaman Pangan yang mengutamakan optimalisasi lahan gambut atau rawa yang telah berhasil dilaksanakan di dua provinsi, yaitu Kalimantan Tengah dan Sumatra Utara.

Mengingat Jambi juga memiliki lahan gambut atau lahan bekas perkebunan kelapa sawit yang cukup luas.

Multiplier efek dari terwujudnya program Food Estate cukup beragam, antara lain peningkatan pendapatan petani dan penyerapan tenaga kerja sebagai buruh tani, petani baru ataupun pelaku ekonomi baru lainnya disekitar lokasi.

Dalam memulai suatu program, tentu saja membutuhkan kerja keras . Pendampingan dalam berbagai tahapan serta menjaga kualitas dan kelancaran tersedianya input bahan baku seperti pupuk dan bibit.

Tak kalah penting adalah menjaga kestabilan harga hasil panen. Jangan sampai terjadi lagi petani yang membuang hasil panennya karena harga pasar yang terlalu rendah sehingga mereka tidak bisa menutupi biaya produksi yang telah dikeluarkan.

Hal seperti itu sangat memukul kondisi perekonomian petani terlebih petani gurem yang hanya memiliki lahan sempit dan menggantungkan kehidupan sehari-harinya dari pertanian.

Menjaga dan mempertahankan kesinambungan sebuah program sambil terus mengevaluasi dan memperbaiki kekurangan adalah yang terpenting, sehingga dampak baiknya akan terus dirasakan oleh anak cucu pada masa yang akan datang. (Data Jambi/Produksi)
---
Informasi Indikator Statistik dan Data Jambi terkini dapat diakses melalui jambi.bps.go.id dan Sosial Media BPS Provinsi Jambi (IG, FB, dan Youtube BPS Provinsi Jambi).

Ayo persiapkan diri menyambut pelaksanaan Sensus Pertanian 2023


Simak berita terbaru Tribunjambi.com di Google News

Baca juga: Asprinya Dicuri Konglomerat, Hotman Paris Berang: Bahaya Ada Ribuan Buaya Darat!

Baca juga: Pojok Statistik Unja : Langkah Nyata BPS Provinsi Jambi Meningkatkan Literasi Statistik di Akademisi

Baca juga: Fraksi PPP Berkarya Pertanyaan Beberapa Hal dalam Ranperda Pertumbuhan Ekonomi Hijau

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved