Sabtu, 25 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Renungan Kristen

Renungan Harian Kristen - Hidup Sebagai Manusia Baru

Bacaan ayat: Galatia 2:19-20 (TB) Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan

Editor: Suci Rahayu PK
ist
Ilustrasi renungan harian 

Hidup Sebagai Manusia Baru

Bacaan ayat: Galatia 2:19-20 (TB) Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus;namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.

Oleh Pdt Feri Nugroho

Pdt Feri Nugroho
Pdt Feri Nugroho (Instagram @ferinugroho77)

Sebagai seorang yang paham hukum Tuhan, Paulus paham secara pasti tentang segala tuntutan hukum Tuhan. Ketaatan sangat diperlukan agar kehidupan nya berkenan kepada Allah.

Hukum Tuhan dilakukan secara detail berkaitan dengan ritual ibadah dan norma etika perilaku kehidupan.

Semua itu dilakukan demi satu tujuan yaitu hidup yang berkenan kepada Allah.

Dalam paham yang demikian, Allah divisualisasikan sebagai sosok yang memperhitungkan segala hal sedemikian rupa sebelum memberikan upah kepada yang melakukannya.

Ibarat seorang mandor kuli bangunan yang mendata hasil kerja setiap pekerjanya sesaat sebelum memberikan upah, demikian yang dilakukan Allah ketika akhir zaman terjadi.

Manusia pada posisi berlomba untuk berkenan kepada Tuhan. Ketaatan kepada hukum Tuhan dijadikan sebagai tolok ukur.

Setiap orang berlomba menjadi yang terbaik. Masing-masing ingin menjadi yang paling otentik melaksanakan setiap aturan yang ada.

Baca juga: Renungan Harian Kristen - Firman Tuhan yang Hadir dalam Sejarah

Tidak bisa dihindari dalam prosesnya ada sikap saling melirik yang lain demi melihat hasil diri.

Akan berbangga hati ketika merasa lebih baik; namun menjadi kurang percaya diri saat merasa lebih buruk.

Persaingan menjadi sengit tatkala godaan untuk saling menghakimi muncul.

Masing-masing merasa telah melakukan yang terbaik, penghakiman pun mengarah pada tindakan anarkhi dan destruktif.

Bukankah ini kontra produktif dengan tujuan semula?

Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved