Breaking News:

Tradisi Nenek Moyang di Merangin Mulai Dilupakan, Pemkab Kaji Sastra Lisan Ampek Ganjie Limo Gonop

Tradisi yang dilakukan sejak nenek moyang dulu itu berkaitan dengan pantun berbalas yang dilakukan oleh muda-mudi (bujang gadis) desa setempat

Tribunjambi/Muzakkir
Wakil Bupati Merangin Mashuri 

Tradisi Nenek Moyang di Merangin Terancam Dilupakan, Pemkab Kaji Sastra Lisan Ampek Ganjie Limo Gonop

TRIBUNJAMBI.COM, BANGKO -Tradisi Ampek Gonjie Limo Gonop di Merangian kini tengah dikaji.

Tradisi yang dilakukan sejak nenek moyang dulu itu berkaitan dengan pantun berbalas yang dilakukan oleh muda-mudi (bujang gadis) desa setempat.

Tradisi kuno itu juga dilakukan di talang/kebun/sawah pada saat hendak panen (ketalang Petang), dan dilaksanakan di talang, bukan di desa atau dalam rumah.

Tradisi Ampek Gonjie Limo Gonop diturunkan dari mulut ke mulut sejak nenek moyang orang Kibul. Namun sejak tahun 1980-an tradisi agar mengatur pergaulan anak muda agar sesuai adat istiadat mulai dilupakan.

Baca juga: Cek Endra Nyaris Kalahkan Haris di Sungai Gelam, Suara Hasil PSU Hanya Selisih Segini

Baca juga: Keras Kritik Presiden PKS ke KPK, Sebut Pancasila Disalahgunakan untuk Pecah Belah Persatuan Bangsa

 

Sastra lisan Ampek Ganjie Limo Gonop berasal dari Kecamatan Tabir Barat, Kabupaten Merangin itu akan dikaji vitalisasi sastranya. 

Pengkajian itu dikatakan Wakil Bupati Merangin Mashuri, bertujuan untuk meneliti status daya hidup (vitalitas) sastra lisan daerah di suatu wilayah.

Usai menerima kunjungan Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra di ruang kerjanya, Mashuri mengatakan sastra yang dimiliki Kabupaten Merangin perlu kajian lebih dalam.

‘’Jadi tim ini nanti akan mengkaji lebih dalam terhadap sastra lisan Ampek Ganjie Limo Gonop. Mudah-mudahan kajian yang dilakukan nanti akan membawa manfaat bagi kita semua,’’ ujar wabup.

Gong Buluh adalah alat musik khas dari Sungai Penuh Kerinci, Provinsi Jambi.
Gong Buluh adalah alat musik khas dari Sungai Penuh Kerinci, Provinsi Jambi. (tribunjambi/herupitra)

Kajian sastra lisan Ampek Ganjie Limo Gonop akan dilakukan oleh Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI.

E Aminudin Aziz selaku kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mengatakan, status daya hidup sastra lisan daerah dikategorikan ke dalam beberapa status.

Pertama, ada status aman, kedua yakni rentan, dan ketiga mengalami kemunduran, keempat terancam punah, kelima kritis dan keenam punah. 

"Kita belum tahu Ampek Ganjie Limo Gonop masuk status mana, makanya kita kaji lebih dahulu,’’ terang E Aminudin.

Kegiatan pengkajian tersebut jelas E Aminudin akan dilaksanakan pada 27 Mei samapai 2 Juni 2021, melakukan observasi, wawancara mendalam, serta pembagian kuesioner kepada para penutur sastra lisan tersebut dan masyarakat setempat.

‘’Untuk itu, kami memohon dukungan dan bantuan bapak wabup dalam pelaksanaan kegiatan ini, sehingga bisa berlangsung lancar sesuai dengan yang ditargetkan,’’ pinta E Aminudin. (Tribunjambi.com/ Darwin Sijabat)

Penulis: Darwin Sijabat
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved