Kisah Pengamen Puisi, Rangkaian Kata Jadi Wadah Menampung Rezeki
Pria yang sering disapa Petrus itu selalu mondar-mandir di sekitaran pantai Parangtritis dengan menenteng satu bendel kertas putih.
Ia mengatakan, sejak usia 10 tahun Petrus mulai gemar membaca puisi.
Di usianya saat itu, dirinya juga sudah menulis beberapa puisi.
"Sejak umur 10 tahun saya sudah senang membaca puisi. Saya juga sempat menulis puisi anak waktu itu," kata Petrus.
Semakin sering ia mengabdi ke beberapa gereja, keinginan Petrus untuk menghasilkan karya puisi kian menggebu.
Menurutnya, gereja menjadi basic hidupnya selama ini.
Dari beberapa kegiatannya di gereja itulah Petrus tidak khwatir meski pekerjaannya kini hanya sebagai pelukis sketsa dan pengamen puisi.
"Saya senang di gereja karena itulah basic hidup saya. Apa pun tanpa adanya sentuhan rohani hati kita akan kering. Kita tidak bisa mendorong orang lain jadi baik tanpa rohani kita yang baik," lanjut Petrus.
Selain di pantai Parangtritis, ia juga sering ngamen puisi di Gunung Lawu.
Petrus mencoba menghibur para pendaki saat beristirahat di Cemoro Sewu.
"Asal ada orang duduk itu menjadi tempat saya mencari makan. Ya ini pekerjaan yang gak ada saingan, karena orang gak ada yang mau kayak gini," kata dia.
Per harinya sudah tak terhitung berapa bait puisi yang ia bacakan kepada pengunjung pantai Parangtritis.
"Wah sudah tak terhitung. Entah orang asing atau enggak, itu bukan urusan saya. Yang penting saya bisa menyampaikan ide. Ya kadang orang minta dibacakan puisi tentang cinta, macam-macam lah," tambahnya.
Pernah Dibayar Rp 3 Juta
Menurut Petrus sebuah puisi dapat melampaui batas perasaan seseorang.
Hal itu ia buktikan saat dirinya membacakan satu puisi berjudul Kasih Melampaui Batas kepada perempuan asal Bali.