Breaking News:

Berita Sarolangun

Wawancara Khusus Pengemudi Alat Berat Penambang Emas Ilegal, Diupah 5 Persen Emas

"Tokenyo banyak bang alat ni, ada tigo orang, orang Jambi Samo Sarolangun, diok nanam modal," ungkap pengemudi alat berat tersebut.

Rifani halim
Wawancara dengan pengemudi alat berat penambangan emas 

TRIBUNJAMBI.COM, SAROLANGUN - Proses penambangan PETI di dalam Hutan lindung Lubuk Bedorong sulit bagi para pekerja itu.

Salah satu pemuda asal kabupaten Bungo yang bekerja di tambang peti bercerita, bahwa ia baru dua bulan bekerja di sini karena pekerjaan yang dilakukan dapat menghasilkan uang yang cukup mengiurkan.

Pria enggan memberikan identitasnya kepada Tribun Jambi, itu membeberkan proses jalan menuju hutan dan sistem kerja di hutan lindung desa Lubuk Bedorong.

Ia menambahkan, untuk menunju lokasi didalam hutan bukan hal yang muda baginya butuh 12 jam berjalan mengunakan Excavator dengan medan yang sulit dan terjal.

Ia pun bersama timnya harus membawa lima ton minyak solar serta suplay makanan dan keperluan di dalam hutan. Di angkutnya mengunakan Ponton melewati Hutan lindung hingga sampai ke titik lokasi.

Satu alat berat terdiri dari 12 orang pekerja peti, dikomandoi oleh satu ketua.
Pemuda asal kabupaten Bungo itu mengatakan, ia bekerja dengan sistem shift, siang dan malam masing-masing enam orang siang hari dan enam orang malam hari.

Untuk keperluan makan dan keperluan pribadi, ia mengaku diberikan oleh pemilik alat berat, yang ia tidak mengetahui siapa pemilik alat berat yang ia tungangi selama dua bulan bekerja di sana.

Pemuda itupun menjelaskan sistem bagi hasil pendapatan emas yang ia raup dilokasi, ia mendapatkan 5 persen dari emas yang didapatkan.

"Paling sedikit mendapatkan 15 gram emas dan yang paling besar mencapai 40 gram perhari per-hari," kata juru kemudi alat berat kepada Tribun Jambi, didampingi salah satu anggota polres Sarolangun, Senin (8/2/2021).

Namun ia enggan memberitahu berapa uang yang ia hasilkan dalam kurun waktu satu bulan bekerja.

Ia kembali membeberkan, alat berat yang ia tungangi membutuhkan 10 ton bahan bakar selama satu bulan.

Per - lima belas hari kerja, ia harus keluar untuk mengambil minyak solar yang di antar oleh mobil Tangki Biru (mobil tangki industri) yang berisi lima ton lalu kembali kedalam hutan, proses penjemputan minyak hingga sampai ke hutan lagi menghabiskan waktu selama dua hari.

Satu alat dimiliki oleh beberapa orang, alat dibeli dengan sistem patungan.

"Tokenyo banyak bang alat ni, ada tigo orang, orang Jambi Samo Sarolangun, diok nanam modal," ungkap pengemudi alat berat tersebut.
(Tribun Jambi/Rifani Halim)

NASIB Nakes di Kota Jambi Bila Menolak Divaksin, Fasha Beri Ancaman Turunkan Pangkat Bila Itu ASN

4 Pemilik Alat Berat PETI Teken Surat Perjanjian, Rabu Forkompinda Kembali Turun ke Lokasi

Anak Usia 14 Tahun Ditemukan Berada dalam Gudang, Polisi Duga ada Paraktik Prostitusi Online

Penulis: Rifani Halim
Editor: Nani Rachmaini
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved