Usai Ditampar Sang Ibu di Depan Teman Sekelas, Remaja 14 Tahun Nekat Lompat dari Gedung Sekolah
Remaja 14 tahun nekat lompat dari lantai 5 gedung sekolah setelah dimarahi dan ditampar sang ibu.
TRIBUNJAMBI.COM - Tak kuasa menahan malu saat di permalukan sang ibu di hadapan teman-teman sekelasnya aksi bocah ini berujung petaka.
Remaja 14 tahun nekat lompat dari lantai 5 gedung sekolah setelah dimarahi dan ditampar sang ibu.
Remaja yang masih duduk di bangku SMP ini tewas usai dimarahi hingga ditampar oleh ibu kandungnya di tempat umum.
Mendidik anak memang bukan perkara mudah sebagai orangtua, sesekali bersikap keras memang perlu, namun bukan berarti sampai menghancurkan sang anak.
• Ketahanan Pangan Menghadapi Pandemi, Polres Sarolangun Panen Sayuran di Kebun Hidroponik
• Line-Up Pebalap MotoGP 2021 - Valentino Rossi ke Tim Satelit, Andrea Dovizioso Kemana?
• Siap-siap, Ombudsman Akan Lalukan Ini Jika Ada Instansi Punya Pelayanan Buruk
Kekerasan fisik yang disertai dengan kekerasan verbal dapat menghancurkan mental seorang anak.

Anak bisa tumbuh menjadi pribadi dengan perangai buruk, atau bahkan melakukan tindakan nekat.
Seperti kasus yang terjadi pada siswa SMP di Wuhan, China ini.
Seorang anak laki-laki berusia 14 tahun nekat lompat dari lantai 5 gedung sekolah tempatnya belajar.
Inisden tragis ini terjadi usai sang siswa dimarahi dan di tampar oleh ibunya di hadapan teman-teman sekelasnya.
• Pakar Kasih Melibatkan UMKM, ASN, dan TNI untuk Memulihkan Perekonomian Terdampak Covid-19
Melansir Suar.id: 3 Menit Usai Ditampar Ibunya di Hadapan Teman-Teman Sekalasnya, Bocah SMP Nekat Menjatuhkan Diri dari Lantai 5 Gedung Sekolahnya, dari China Press (29/9), siswa itu dipergoki guru saat bermain poker dengan teman sekelasnya.
Pihak sekolah pun langsung mengambil tindakan dan memanggil orangtua mereka.
Sementara orangtua berbicara dengan guru, mereka diminta berdiri di koridor sebagai hukuman.
Dalam rekaman CCTV, saat ibu dari siswa yan tak disebutkan namanya itu tiba, ia terlihat sangat marah.
Ibunya langsung memarahinya di koridor, bahkan menamparnya.
Sang putra terlihat tetap tenang menghadapi amarah ibunya.