Tragedi G30S PKI
INI Sosok Polisi yang Jadi Saksi Tragedi G30S PKI, Lihat Jenderal Bintang Dua Diberondong Tembakan
INI Sosok Polisi yang Jadi Saksi Tragedi G30S PKI, Lihat Jenderal Bintang Dua Diberondong Tembakan
TRIBUNJAMBI.COM - Tepat di bulan September ini, pada tanggal 30 nanti, tragedi kelam G30S PKI akan kembali diingat.
Indonesia pada 55 tahun lalu mengalami tragedi kekejaman G30S PKI dan meninggalkan sejarah yang kelam.
Satu saksi yang ceritanya kini bisa didengar banyak orang mengenai penculikan para Jenderal TNI di tragedi G30S PKI.
Seorang saksi sejarah peristiwa itu mengungkapkan pengalamannya kepada wartawan Intisari LR Supriyapto Yahya dan Anglingsari Saptono, ketika ia hampir ikut menjadi korban.
Malam baru saja lewat, sementara matahari pagi pun belum terjaga dari peraduannya, karena waktu itu memang baru pukul 03.00.
• Di Malam Kelam Tragedi G30S PKI, Soekarno Diminta Dukung Gerakan PKI, Ini Jawab Sang Presiden
• Ada Kekhawatiran Hubungan Mesra Soekarno dengan Cina, CIA Gelar Operasi Rahasia Jelang G30 S PKI
• Viral Surat Bersih Diri dari Peristiwa G30S PKI Ditemukan di Bekas Bungkus Bawang, Ini Faktanya
la harus menjalankan tugasnya di Seksi Vm Kebayoran Baru (sekarang Kores 704) yang berlokasi di Wisma AURI di Jl. Iskandarsyah, Jakarta, bersama Sutarso yang berpangkat sama.

“Angkat tangan”
"Waktu itu polisi naik sepeda. Sedangkan untuk melakukan patroli, kadang-kadang kami cukup dengan berjalan kaki saja, karena radius yang harus dikuasai adalah sekitar 200 m,” katanya mengengang masa awal tugasnya.
Tiba-tiba ia dikejutkan oleh bunyi rentetan tembakan, yang rasanya tidak jauh dari posnya. Karena tembakan itu berasal dari bawah dan dekat situ ada Gedung MABAK yang tinggi, suara tembakan itu memantul.
Rasa tanggung jawab membuat Sukitman bergegas mengendarai sepedanya dengan cara melawan arah mencari sumber tembakan itu. Sementara rekannya tetap melakukan tugas jaga.
Dalam benak pemuda yang terlintas mungkin terjadi perampokan.
Ternyata suara itu berasal dari rumah Jenderal D.I. Panjaitan yang terletak di Jln. Sultan Hasanudin.
Di situ sudah banyak pasukan bergerombol.
Belum sempat tahu apa yang terjadi di situ, tiba-tiba ia dikejutkan oleh teriakan tentara berseragam loreng dan berbaret merah yang berusaha mencegatnya.
"Turun! Lempar senjata dan angkat tangan!"
• Tradisi Ngelawar di Berbagai Perayaan Masyarakat Bali Seperti Hari Raya Galungan, Ini Maknanya