Berita Internasional

Sangarnya Vietnam, Meski Militernya Jauh di Bawah Indonesia, Namun Berani Menentang China di LCS

Sangarnya Vietnam, Meski Militernya Jauh di Bawah Indonesia, Namun Berani Menentang China di LCS

Editor: Andreas Eko Prasetyo
ABACA via Reuters Connect
Ilustrasi kapal induk AS di Laut China Selatan. 

TRIBUNJAMBI.COM - China hingga kini masih merasa berkuasa dan terus menunjukan arogansinya di Laut China Selatan.

Bahkan China pun sudah sadar, bahwa banyak negara sudah memusuhinya atas klaim sepihaknya.

Negeri Gingseng pun terus menunjukkan hegemoni atas 10 negara-negara anggota ASEAN, termasuk Indonesia.

Terbaru adalah China menurunkan kapal survei di perairan yang diklaim Malaysia, tidak jauh dari kapal pengeboran West Capella, yang disewa perusahaan minyak Malaysia, Petronas, untuk mensurvei minyak di Laut China Selatan.

Dan setelah West Capella menyelesaikan aktivitasnya pekan lalu, kapal perang AS USS Gabrielle Giffords meninggalkan pangkalannya di Singapura untuk berlayar melewatinya.

Ini adalah ketiga kalinya dalam beberapa pekan terakhir bahwa Amerika Serikat telah melakukan "operasi kehadiran" di perairan yang kaya sumber daya, yang telah menjadi lokasi ketegangan baru antara China dan negara-negara tetangganya di Asia Tenggara terkait eksplorasi minyak dan kegiatan penangkapan ikan.

China mengklaim bagian besar Laut China Selatan yang membentang kira-kira 1.000 mil dari pantai selatannya. Mereka telah menggunakan kapal survei pemerintah Tiongkok, kapal penjaga pantai dan kapal nelayan milisi untuk mempertahankan kehadiran di sana.

Meski China mengatakan kapal-kapal itu melakukan kegiatan normal, Amerika menuduh Tiongkok melakukan "taktik intimidasi".

Pada tahun 2018, Vietnam - yang memiliki klaim teritorial dalam laut yang disengketakan bersama dengan Malaysia, Brunei dan Filipina - menunda proyek pengeboran minyak oleh perusahaan Spanyol Repsol, dilaporkan karena tekanan China.

Di antara negara-negara ASEAN, Vietnam paling vokal menentang arogansi China.

MotoGP San Marino Dikabarkan Akan Ada Penonton, Morbidelli : Hal Ini Adalah Langkah Menuju Normal

Download Lagu MP3 Kompilasi 30 Lagu Minang Terpopuler 2020, Asyik di Dengar saat Santai

Lalu disusul Filipina.

Sementara delapan anggota ASEAN yang lain termasuk Malaysia dan Indonesia tetap diam dan kalaupun berkomentar pasti menekankan pentingnya menghindari konflik dan menjaga stabilitas regional.

Pengamat percaya bahwa masing-masing negara tidak akan secara terbuka bertengkar dengan China karena takut akan mempengaruhi hubungan perdagangan dan investasi, terutama di tengah penurunan ekonomi yang disebabkan oleh pandemi virus corona.

Joseph Liow Chin Yong, pakar geopolitik Asia-Pasifik di Nanyang Technological University, Singapura, mengatakan bahwa preferensi negara-negara ASEAN untuk terlibat dalam diplomasi di belakang layar, yang memungkinkan mereka untuk mempertahankan integritas mereka tanpa membahayakan hubungan dengan China.

Kedaulatan adalah Kunci

Keputusan Vietnam untuk berbenturan kepala dengan China mencerminkan kompleksnya hubungan kedua negara bertetangga, di mana upaya bersama untuk meningkatkan perdagangan bilateral tidak mengurangi kepentingan nasionalnya.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved