Polisi Berpangkat Kompol Ini Makamkan 57 Jenazah Pasien Covid-19, Tangan Dicuci Alkohol 70 Persen
Masyarakat biasa, ataupun anggota polri, bisa menjadi relawan. Contohnya Kompol Sutiono, Kepala Intelijen dan Keamanan Polresta Malang.
“Awalnya memang takut. Tapi dengan komunikasi dengan dokter gimana caranya supaya tidak kena. Yang pertama safety. Untuk urusan muka harus betul-betul rapat. Setelah memakamkan tangan harus dimasukkan ke cairan alkohol 70 persen. Hampir setiap hari seperti itu,” katanya.
Ia dan relawan lainnya harus menjaga waktu istirahat karena jika kelelahan dapat mengurangi daya tahan tubuh. Apalagi ia kerap memakamkan lebih dari satu jenazah dalam sehari.
• Puluhan Warga Merangin Bantu Cari Warga Tebo yang Tenggelam di Air Terjun Segerincing
• Cek Cok Dua Penjual Martabak di Jambi Berujung Penjara, Jeri Alami Luka Bacok
• VIDEO Skripsi Dibuang Viral di Media Sosial, Rektor Murka Kepala Perpustakaan Dipecat
Pemakamannya kadang dilakukan pada malam hari dan dini hari. Jika lelah, tak jarangi ia tidur di kuburan karena jenazah pasien Covid-19 harus dimakamkan maksimal empat jam setelah meninggal.
“Iya haya pola hidup saja (untuk menjaga daya tahan tubuh). Misalkan gini, ini tidak mungkin balik ke rumah, kalau memang lelah, sudah tidur di situ."
"Sambil menunggu yang selesai (yang akan dimakamkan lagi). Istirahat, capek karena kurang tidur. Tidur satu jam, di-calling berangkat lagi. Jadi tidak harus ke kantor dulu,” jelasnya. SUMBER: KOMPAS.com (Penulis: Andi Hartik | Editor: Dheri Agriesta)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Jadi Relawan, Polisi di Malang Makamkan 57 Pasien Covid-19, Mobil berisi Kantong Jenazah"