Pilkada di Jambi
Menanti Kepastian Partai Pengusung di Pilgub Jambi, Apa Yang Didapat, Siapa Yang Dapat?
Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak yang rencananya pemungutan suara ditetapkan pada 9 Desember, akan juga digelar di Provinsi Jambi.
TRIBUNJAMBI.COM - Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2020 yang rencananya pemungutan suara ditetapkan pada 9 Desember, akan juga digelar di Provinsi Jambi. 5 pilkada kabupaten/kota, plus pemilihan gubernur.
Pemilihan Gubernur Jambi periode 2021-2024 yang dinilai cukup menarik minat untuk disimak. Kenapa menarik, rerata yang bakal ikut bertarung adalah kepala daerah, plus satu gubernur. Gubernur Jambi Dr H Fachrori Umar, Wali Kota Jambi Dr H Syarif Fasha, Bupati Merangin Dr H Al Haris dan Bupati Sarolangun H Cek Endra, Dr H Safrial Bupati Tanjab Barat dan Wali Kota Sungai Penuh Prof H Asafri Jaya Bakri (AJB).
Tiga bupati dan dua wali kota menjabat sebagai kepala daerah dua periode. Fachrori Umar menjabat sebagai Gubernur Jambi 13 Februari 2019 (menggantikan Zumi Zola). Bupati Tanjab Barat dan Wali Kota Sungai Penuh menyatakan diri cuma maju sebagai balal calon wakil gubernur. Empat lagi yang menyatakan maju sebagai bakal calon gubernur.
• PAN Jambi Masih Menunggu Kabar DPP Ada atau Tidaknya Survei Bagi Bacalon yang Mendaftar
• Kantongi Rekom Golkar, CE Coba Satukan Golkar-PDIP
• Intens Komunikasi dengan Dua Partai Besar, Fasha Siap Beri Kejutan
Menariknya, dari masing-masing bacagub-bacawagub ini mempunyai basis masing-masing di daerah yang mereka pimpin. Selain itu, yang cukup menyedot perhatian khalayak banyak, ialah perebutan partai politik pengusung, sebagai syarat mutlak maju di pilkada.

Satu pasangan bakal calon yang dipastikan bisa maju, yakni Al Haris dan Abdullah Sani. Mereka sudah diusung PKB, PKS dan Partai Berkarya (11 kursi). Pasangan ini juga masih mengincar partai lain, kemungkinan PAN.
Sedangkan Syarif Fasha baru mendapat surat tugas dari PPP (3 kursi), ia kemungkinan berpasangan dengan AJB. Sementara Fachrori-Safrial mendapat surat tugas dari Partai Hanura (2 kursi). Pasangan Cek Endra-Ratu Munawaroh baru mendapat 7 kursi (Partai Golkar.
• Blak-blakan Mojok Politik Tribun Jambi, Mau Berapa Partai? Siapa yang Paling Berpeluang?
• Malangnya Nasib Novel Baswedan Diminta Kembalikan Uang Pengobatan Mata Rp3,5 Miliar: Tanya Presiden!
• Kondisi Terkini Maudy Ayunda usai Suara diduga Bertengkar dengan Pria di Instagram Live Viral
Partai Gerindra (7 kursi), Nasdem (2 kursi), Demokrat (7 kursi), PDI Perjuangan (9 kursi), PAN (7 kursi). Lima partai tersisa inilah yang akan diperebutkan 4 pasangan tersebut. Pasangan Al Haris-Sani mereka masih mengincar partai tambahan, bisa saja PAN yang dibidik.
Sedangkan Fasha, walau disebut sudah pasti diusung Partai Gerindra dan PPP, masih ingin mencari partai tambahan. Nasdem, Demokrat (AJB kader Partai Demokrat) dan PAN jadi incaran pasangan ini.

Lihat saja pertemuan politik terjadi saat Syarif Fasha, Kamis (2/7/2020) siang bertemu dengan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan. Walau disebut cuma silaturahmi biasa.
Begitu juga Fachrori Umar (kader Nasdem) dan Safrial (Kader PDIP) mengincar Nasdem dan PDIP plus Partai Demokrat. Terakhir, Cek Endra dan Ratu Munawaroh mereka mengincar PDIP.
• Kopassus Temukan Peti Penuh Uang, Komandan Bilang Jangan Sentuh Bisa Mati
Keseriusan mereka ingin diusung PDIP, yakni dengan beredarnyo foto mereka bertemu dengan Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto, walau belum tahu hasil politik pertemuan tersebut.

Empat pasangan bacagub-bacawagub ini tentu terus melakukan komunikasi politik dengan partai-partai pemilik kursi di DPRD. Partai politik pemilik kursi sangat strategis. Karena hanya partai politik atau gabungan partai politik (sesuai syarat kursi) yang bisa mengajukan calon kepala daerah untuk dipilih langsung oleh rakyat dalam pilkada serentak.
• Tanggal 13 Juli PAUD, SD, SMP dan SMA Kembali Sekolah, Ini Syarat Sekolah Tatap Muka Sesuai Arahan
• Diam-diam Perkosa Janda, 2 Pemuda Menyelinap ke Kamar Lalu Gelar Tikar di Ruang Tengah
Komunikasi politik bisa dilakukan tokoh-tokoh yang ingin mencari dukungan partai. Bisa langsung, atau dengan membentuk tim lobi. Lobi-lobi politik juga penting.

Menurut Prof Dr Anwar Arifin (profesor Ilmu Komunikasi Politik Universitas Hasanuddin) dalam bukunya "Komunikasi Politik" tokoh politik (bacakada) yang ingin mencari dukungan politik, biasanya membentuk tim lobi. Tim ini aktif melakukan pembicaraan politik secara informal di lobi atau tempat lain secara tertutup.
• Kronologi Dandim Gorontalo Utara Suapi Kakek yang Lapar dan Haus di Pinggir Jalan: Saya Spontan
• Begini Aktifitas Terbaru Veronica Tan Setelah tak Lagi Bersama Ahok BTP
Artinya, dalam lobi politik itu pengaruh pribadi sangat penting. Dalam hal ini kompetensi, penguasaan masalah, dan kepribadian (kharisma) politikus itu sangat berpengaruh.
Kini, pasangan bakal calon gubernur/wakil gubernur tersebut tinggal menunggu hasil lobi politik mereka. Yaitu, Surat Keputusan (SK) rekomendasi mengusung bakal calon. Harap-harap cemas, pasti.

Semua pasangan boleh berharap dan mengklaim partai-partai politik tersebut akan mengusung mereka. Namun, kepastian yang mereka klaim tentu saja ditunjukkan dengan adanya surat resmi dari partai-partai tersebut.
Politik yang bisa berubah dengan cepat, bisa saja merubah prediksi pengamat. Klaim-klaim itu sah-sah saja. Sebab, eskalasi politik (perkembangan masalah politik secara cepat dan dinamis) bisa saja terjadi setiap saat.
• Kisah Pilu - 10 Tahun Ayah Bejat Tega Memperkosa Putrinya hingga Dibongkar sang Istri
• Rahasia Besar Istri Terungkap Lewat Kondom, Suami Curiga setiap Kali Bercinta hingga Lakukan Ini!
Contoh saja Pilkada Kerinci 2018 lalu. walau sudah punya surat dari partai pengusung, namun surat rekomendasi partai bisa berubah cepat. Ada satu pasangan sudah memegang surat resmi satu partai (sebut saja partai G) Tiba saat pendaftaran di KPU, pasangan lain yang punya surat baru partai G, dan pasangan lain inilah yang berhak untuk mendaftar.
Itu artinya, ketika sudah resmi bakal pasangan calon mendaftar di KPU, itulah partai-partai pengusung bakal calon kepala daerah tersebut. Kita tunggu saja ya..?
Rahimin, MIKom
(Magister Ilmu Komunikasi, UMB Jakarta, Konsentrasi Komunikasi Politik dan Media)