Awal Korupsi Pembangunan Auditorium UIN STS Jambi Terbongkar di Persidangan

Indikasi korupsi pada proyek pembangunan auditorium UIN Sulthan Thaha Saifudin Jambi Tahun anggaran 2018 mulai terlihat sejak awal pembangunan.

Tribunjambi/Jaka HB
Kejati Jambi Tahan 3 Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Pembangunan Auditorium UIN STS Jambi 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Indikasi korupsi pada proyek pembangunan auditorium UIN Sulthan Thaha Saifudin Jambi Tahun anggaran 2018 mulai terlihat sejak awal pembangunan.

Ini terungkap dipersidangan yang berlangsung di Pengadilan Tipikor Jambi Rabu (17/6/2020). Dimana jaksa penuntut kejari Muaro Jambi menghadirkan Rinaldi Yamali sebagai saksi untuk terdakwa Hermantoni, John Dimbolon, Kristiana dan Iskandar Zulkarnai.

Para terdakwa mengikuti persidangan lewat sambungan video converence. Dihadapan majelis hakim yang diketuai Erika Sari Emsah Ginting, saksi Renaldi selaku konsultan pengawas dari CV Reka Ruang Konsultan mengatakan di satu bulan pertama tepatnya Juli 2018 progres pekerjaan masih nol persen.

"Karena pada waktu itu mepet libur lebaran, akhirnya direschedule (dijadwal ulang). Karena masih nol kita kordinasikan dengan BPK kita tindak lanjuti dengan menyurati PT Lambok Ulina (lamna), agar material segera dimasukkan," katanya.

Ribut Dana BLT, Ratusan Warga Seling Kembali Demo Kades: Fasilitas Kantor Desa Hancur

BREAKING NEWS Pedagang Pasar di Sarolangun Positif Corona

VIDEO Dexamethasone Disebut Bisa Sembuhkan Pasien Covid-19, Begini Penjelasan WHO

Namun pada pencairan termen 25 persen ada indikasi pencairan dipaksakan meski progres pekerjaan baru mencapai 12 persen. Saksi Rinaldi pun sempat berbelit-belit saat ditanya adanya tanda tangan konsultan pengawas pada pencairan tersebut.

Hingga jaksa penuntut yakni Rudi Firmansyah dan ketua majelis hakim secara bergantian meminta ketegasan jawaban saksi.

"Jawab aja tegas ada atau tidak saudara teken?" tanya ketua majelis hakim.

Saksi pun mengiyakan bahwa dirinya selaku konsultan pengawas ikut menanda tangani pengajuan pencairan untuk termen 30 persen tersebut.

"Saya paling terakhir meneken, karna setelah ada surat jaminan dari Kristiana baru saya seteken," ujarnya.

Mengenai perbuatan menaikkan progres dari 12 persen menjadi 30 persen untuk pencairan termen kedua yang nilainya mencapai tujuh miliar rupiah, Rinaldi membantah laporan itu dibuat pihaknya selaku konsultan pengawas.

Halaman
12
Penulis: Dedy Nurdin
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved