Berita Internasional
Akhirnya Treungkap, Donald Trump Ingin 10 Ribu Tentara di Washington untuk Tangani Demo George Floyd
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ingin menempatkan 10.000 tentara aktif di Washington, guna menangani demo George Floyd.
TRIBUNJAMBI.COM - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ingin menempatkan 10.000 tentara aktif di Washington, guna menangani demo George Floyd.
Hal itu terungkap dari penuturan sumber senior Pentagon yang menyebutkan, sang presiden melayangkan permintaan itu dalam pertemuan "menegangkan" di Ruang Oval bersama Menteri Pertahanan Mark Esper.
Kepada NBC News, sumber itu mengungkapkan Esper berusaha membujuk bosnya itu agar "tidak membentuk pasukan federal", dalam rapat yang berlangsung Senin (1/6/2020).
• Presiden Amerika Serikat Donald Trump Marah Pada Pemerintah Indonesia Karena Netflix Dipajakin
• Kini Meninggal Dunia Lantaran Kompilkasi, Ki Gendeng Pamungkas Pernah Gagal Santet Presiden Amerika
Yang dimaksud dengan "pasukan federal" adalah Donald Trump mendesak sejumlah gubernur negara bagian untuk mengirim Garda Nasional ke Washington.
Pada hari yang sama dalam konferensi pers di Rose Garden, presiden 73 tahun itu berencana untuk mengaktifkan undang-undang Pemberontakan.
Dipatenkan pada Maret 1807, UU itu memberi kewenangan pada Presiden Amerika Serikat untuk mengerahkan militer untuk memadamkan pemberontakan dan kerusuhan.
• Trump Ancam Kerahkan Militer Jika Gubernur Gagal Hentikan Kerusuhan di Amerika
• Soeharto Selalu Mencari-cari Kopassus Berkaki Satu Ini, Dianggap Berjasa Besar
Memang dalam beberapa hari terakhir, unjuk rasa memprotes kematian George Floyd itu berubah rusuh di ibu kota, dengan laporan adanya perusakan dan penjarahan.
Dilansir Daily Mail Minggu (7/6/2020), pada akhirnya Esper menempatkan 1.600 tentara untuk "berjaga-jaga jika diperlukan".
Bagaimana pun, saat itu sudah ditempatkan sekitar 5.000 Garda Nasional di ibu kota, di mana mereka seharusnya tak membutuhkan bantuan.
Pada Kamis (4/6/2020), ratusan prajurit dari Divisi Udara ke-82 ditarik dari DC setelah hanya beberapa hari menempati posnya.
• Awas! Bahaya yang Mengintai Pengguna Apabila Masker Terlalu Lama Tak Dibersihkan
• YLKI Minta PLN Buka Kanal Pengadual Soal Tagihan Listrik yang Membengkak, Tulus : Beri Kemudahan
Penarikan itu terjadi setelah laporan kekerasan dan penjarahan berkurang, dengan Donald Trump kemudian menarik ancamannya untuk mengerahkan militer.
Kemudian sumber lain menerangkan, Chairman Gabungan Kepala Staf, Jenderal Mark Milley, menegaskan dia menolak untuk mengerahkan pasukan aktif.
Bahkan, jenderal di angkatan darat itu "sampai harus saling berteriak" dengan sang presiden yang menghendaki penempatan serdadu.
"Saya tidak akan melakukannya. (Tugas) ini adalah untuk penegak hukum," tegas Milley seperti ditirukan sumber kepada The New Yorker.
Tidak dijelaskan apakah momen itu terjadi di pertemuan yang sama dengan Esper, di mana presiden ke-45 itu menginginkan 10.000 tentara.