Bakumsu Apresiasi Polisi Tetapkan Humas PT TPL Jadi Tersangka Penganiaya Anak 3,5 Tahun

"Kami berharap, jaksa juga serius menangani kasus ini. Demikian juga saatnya nanti diserahkan ke pengadilan, majelis hakim agar menyidangkan ..."

Istimewa
Mario Teguh Ambarita (3 tahun 6 bulan) dipangku Marudut Ambarita (ayahnya), saat mengadu ke Polres Simalungun di Pematang Raya, Simalungun, Sumut, Kamis (18/9/2019). Balita itu diduga korban pemukulan karyawan PT TPL Bahara Sibuea. [dokumentasi Lembaga Adat Lamtoras] 

TRIBUNJAMBI.COM, SIMALUNGUN - Delapan bulan setelah bentrok, Penyidik Polres Simalungun, Sumatera Utara, menetapkan tersangka Humas PT Toba Pulp Lestari (Tbk) Sektor Aek Nauli, Bahara Sibuea, dalam kasus penganiayaan/pemukulan warga masyarakat adat Sihaporas Thompson Ambarita, dan Mario Teguh Ambarita, anak usia 3 tahun 6 bulan.

Meskipun proses penyidikan baru selesai, setelah delapan bulan sejak kasus bentrok, dalam hal ini penyidik Polres Simalungun baru menyerahkan berkas kepada Kejari Simalungun, pegiat demokrasi Sumatera Utara, Bakumsu tetap menaruh hormat.

"Kami tetap apresiasi penyidik Polres Simalungun. Ini menunjukkan bahwa penyidik bertindak sesuai hukum dan rasa kedalian, bukan hanya masyarakat yang diperiksa, tetapi pihak perusahaan, yakni Humas PT TPL Bahara Sibuea," ujat Sekretaris Eksekutif Bakumsu Manambus Pasaribu, kepada wartawan di Medan, Senin (1/6/2020) malam .

Mario Teguh Ambarita, balita berusia 3 tahun 6 bulan,  terkulai lemas dalam gendongan ayahnya, Marudut Ambarita, di Puskesmas Sidamanik, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Senin 16 September 2019. Mario lemas diduga turut dianiaya karyawan PT TPL. [dokumentasi Lembaga Adat Lamtoras]
Mario Teguh Ambarita, balita berusia 3 tahun 6 bulan, terkulai lemas dalam gendongan ayahnya, Marudut Ambarita, di Puskesmas Sidamanik, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Senin 16 September 2019. Mario lemas diduga turut dianiaya karyawan PT TPL. [dokumentasi Lembaga Adat Lamtoras] (Istimewa)

"Kami berharap, jaksa juga serius menangani kasus ini. Demikian juga saatnya nanti diserahkan ke pengadilan, majelis hakim agar menyidangkan secara profesional," tutur Manambus Pasaribu.

Mengingat dua pejuang masyrakat adat Sihaporas, yakni Bendara Hara Umum Lamtoras Thompson Ambarita dan Sekretaris Umum Lamtoras Jonny Ambarita, terlah menjalani proses hukum, Manambus meminta polisi pun menahan Bahara.

Info Cuaca di Jambi untuk 3 Hari ke Depan, Masih Berpotensi Terjadi Hujan Sedang Hingga Lebat

Meninggal Ditempat, Warga Tungkal Kesetrum Saat Pasang Papan ke Rangka Baja Bangunan Walet

Meskipun Dilamar Pria Kaya, Nikita Mirzani Tetap Pilih Menjanda, Kapok Menikah Lagi

"Kami meminta polisi dan jaksa juga manahan Bahara. Dari sisi hukum, memang polisi berhak menahan atau tidak menahan seorang tersangka dengan dalih dikhawatirkan mengulangi perbuatannya, menghilangkan barang bukti dan atau melarikan diri," kata Manambus.

Kasus ini terjadi ketika Bahara dan petugas bagian keamanan TPL bentrok kontra warga masyarakat adat Sihaporas di lahan sengketa di Buntu Pangaturan, Nagori/Desa Sihaporas, Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, pada 16 September 2019 sekitar pukul 10.00 WIB.

Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) Polres Simalungun AKP Jerico Lavian Chandra membenarkan penetapan tersangka Bahara Sibuea.

"Benar, saudara Bahara Sibuea telah kami tetapkan sebagai tersangka," ujar AKP Jericho, Senin (1/6/2020) sore.

AKP Jericho mengatakan penyidik menemukan bukti yang cukup untuk menetapkan Bahara Sibuea sebagai tersangka. Kemudian Rabu 27 Mei 2020 surat penetapan tersangka Bahara diterbitkan.

Halaman
1234
Editor: duanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved