Breaking News:

Citizen Journalism

Amir Sambodo, Orang Pertama yang Saya Kenal sebagai Korban Covid-19

Lebih mengejutkan lagi, pada Kamis (26/3), Harian Kompas memuat tulisan Amir Sambodo: “Pengembangan Industri di Tengah Merebaknya Corona”.

Editor: Edmundus Duanto AS
Istimewa
Antony Zeidra Abidin (AZA) 

*Oleh Antony Zeidra Abidin

Sangat mengejutkan, ketika Selasa (24/3) pagi, saya memperoleh berita duka: Amir Sambodo wafat pukul 8,15.

Lebih mengejutkan lagi, pada Kamis (26/3), Harian Kompas memuat tulisan Amir Sambodo: “Pengembangan Industri di Tengah Merebaknya Corona”.

Dalam tulisan terakhirnya itu, dipaparkan sangat dominannya impor bahan baku Indonesia dari Cina.

Hampir semua jenis barang diimpor dari Cina: bahan essence makanan, minuman, bahan baku obat-obatan, baja, sampai komponen elekteronik.

Dalam tulisannya yang dibuat tanggal 4/3 tersebut, sehari menjelang pertemuan dengan Gaikindo yang dihadiri banyak pihak asing (Jepang, Korea dll) serta Dirjen IMATE Harjanto yang meninggal pada malam hari sebelum Amir, almarhum mengungkap kerisauannya. Betapa tergantungnya perekonomian Indonesia dengan China.

Pasien Sembuh dari Virus Corona Bertambah 22 Orang di Indonesia

Bupati Banyumas Pegang Pacul Ikut Bongkar Makam, Gara-gara Jenazah Ditolak Warga Sekitar

Jawab Tantangan dari dr Tirta, Youtuber Ini Lelang Mobilnya untuk Donasi Covid-19, Atta Halilintar?

Merebaknya virus corona19 yang berawal dari China, sangat mencemaskan Amir. Produk industri dalam negeri pasti terganggu. “Masyarakat tahu bahwa impor bahan baku industri Indonesia dari China, sangat dominan.”

China menempati urutan pertama tujuan ekspor Indonesia, 16,7%. Sedangkan asal impor Indonesia, China menempati pangsa 26,3% dari total impor Indonesia. Fakta ketergantungan Indoensia dari China serta memburuknya perekonomian China karena penyebaran virus itu, oleh Amir ditawarkan “reposisi” bahan baku dari China tersebut serta mencari pasar ekpor alternatif.

Ketergantungan impor dari China itu dapat dilakukan melalui subsitusi impor secara bertahap. Yaitu dengan meningkatkan produksi dalam negeri: produk baja, makanan dan minuman, farmasi dan komponen elektronik.

Sebagai mantan aktivis mahaiswa, ia mengungkapkan keheranannya mengapa bawang putih kita harus mengimpor dalam jumlah besar dari China. Bawang putih menempati nilai tertinggi impor bahan makanan, US$ 530 juta.

“Sungguh ironis, Indonesia yang subur mengimpor bawang putih. Sebenarnya bawang putih Indonesia rasanya lebih enak, hanya bentuknya lebih kecil karena faktor cuaca. Dengan kampanye yang mendidik kepada konsumen, subsitusi bawang putih ini bisa dilakukan dengan mulus,” tulisnya.

Demikian juga bahan baku farmasi, banyak yang bisa diproduksi di dalam negeri. Apalagi Indonesia terkenal dengan sumber plasma mutfah terkaya di dunia, yang bisa dipakai sebagai bahan baku obat-obatan. Amir Sambodo memberikan solusi: melalui BPJS memungkinkan pemerintah memberikan kesempatan kepada industri obat-obatan dalam negeri untuk dipakai di berbagai rumahsakit mitra BPJS.

Bahkan Indonesia pernah unggul dalam memproduksi amoksilin sebagai bahan baku antibiotik. Tetapi, industri amoksilin ini hancur. “Karena dihantam produk sejenis yang sangat murah dari China.”

Industri elektronik yang sudah dirintis bahkan sejak Orde Lama (produk Gobel dll), kemudian ditingkatkan sepanjang pemerintahan Orde Baru, sudah saatnya dibanngkitkan kembali. Impor komponen elektronik dari China tahun lalu mencapai US$ 1,8 miliar. Impor laptop, netbook dan subnotbook dari China juga sangat besar: US$ 1 miliar.

Amir menyarankan: sudah saatnya RI memberikan insentif yang bisa menarik industri semikonduktor berinvestasi di Indonesia. Apalagi industri semikonduktor itu adalah “the mother of the industry 4.0.”

Amir juga menyarankan pengembangan ekspor alternatif ke bergagai negera Afika, Timur Tengah, Uni Eropa, Rusia dan negera-negara pecahan Uni Soviet. Negara-negara tersebut sangat berpotensi untuk digarap.

Kini Amir Sambodo yang pernah memegang jabatan Dirut di sejumlah BUMN dan perusahaan swasta itu telah mendahului kita. Saudara kembarnya, Umar Juoro menyampaiikan kronologis kepergian Amir yang sangat mendadak itu, sebagai berikut:

Hari Senin, 9 Maret, merasa lemah dan minta cuti 3 hari untuk istirahat. Dokter mengatakan diduga mengidap typhus.

Setahu penulis, pada tanggal 12/3 almarhum menghadiri acara pertemuan DPP Golkar dengan Ketua PAN di kantor DPP Golkar. Amir Sambodo belum lama ini menjabat Ketua Lembaga Litbang DPP Golkar, yang sebelumnya dijabat Umar Juoro (saudara kembarnya).

Jumat, 20/3 sudah enakan. Rapat melalui vidio call dengan pejabat-pejabat Kementrian Perindustrian. Malam harinya sesak nafas, dibawa ke IGD RSPP. Ketika dirontgen diketahui ada infeksi/flek pada paru-paru. Kemudian dipasang alat bantu pernafasan. Ditempatkan ke ruang isolasi. Sekitar pukup 21.00 masih sempat WA-WAan dengan sejumlah teman, menyampaikan bahwa ia sedang dirawat di RSPP.

Keesokan harinya, Sabtu 21/3 kondisi membaik dan hanya diberikan oksigen. Masih sempat WA kerabat dan sejumlah teman. Bahkan hari Minggu 22/3 masih sempat vidio call dengan keluarga. Kondisi masih baik, bahkan masih sempat WA dengan teman-teman, menyampaikan bahwa kondiinya baik. Namun pada malam harinya setelah dari toilet, merasa lemas. Dokter minta izin dari Umar Juoro untuk pemasangan ventilator.

Senin sore, 23/3 diketahui hasil EKG kurang baik dan akan dicek ulang. Keesokan harinya pukul 8.15 Amir Sambodo dinyatakan wafat. Ia sudah mendapatkan perawatan terbaik di Rumah Sakit Pusat Pertamina, namun Tuhan berkehendak lain.

Amir yang untuk pertamakalinya bertemu dengan saya ketika menghadiri takziah almrmum Tomy, menantu pengusaha karet termuka di Jambi tahun 60-70an Amir Djamil, tanggal 13 Januari 2020, sempat berbincang lama dengan saya. “Lho, ini kembaran Umar Juoro ya,” kata saya ketika itu. Mereka menjawab serentak “ya,” Umar Juoro sebagai pengamat ekonomi, sudah cukup lama saya kenal. Tetapi kakak kembarnya, Amir Sambodo baru malam itu saya kenal.

Sayangnya saya tidak bisa ngelayat dan takziah, seperti yang kami lakukan 13 Januari terhadap almarhum Tomy. Almarhum dimakamkan di TPU Pondok Rangon, tanpa dihadiri keluarganya. Suatu ironi dan sangat mengharukan. Ia dimakamkan berdekatan dengan koleganya, Dirjen di Departemen Perindustrian, Harjanto.

Selamat jalan Amir Sambodo. Semoga di masa depan kita tidak perlu impor bawang putih, amoksilin dan semikonduktor lagi, sebagaimana yang diharapkan almarhum. Semoga.

*Antony Zeidra Abidin, mantan Wakil Gubernur Jambi

Presiden Jokowi Setujui Insentif Bagi Tenaga Medis, Segini Besarannya, yang Paling Kecil Rp 5 Jutaan

Bagaiman Kabar Pelanggan Listrik Prabayar Setelah 450 VA Digratiskan dan 900 VA Diskon 50%?

Dua Truk Rampasan Kasus Illegal Drilling Dilelang, Laku Rp 322 Juta Ini Pembelinya

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved