Bertemu Sultan Thaha Gaib di Dharmasraya
“Saya Sultan Thaha. Antarkan saya ke situ. Saya dikubur di Makam (raja-raja) Siguntur!” kata seorang pria dengan sorban putih.
Penulis: Jaka Hendra Baittri | Editor: Teguh Suprayitno
Sementara itu lampu-lampu dan hiasan dari kayu disiapkan di area Candi Padang Roco untuk penutupan Festival Pamalayu tanggal 7 Januari ini. Sebuah wilayah yang kabarnya luasnya sekira 10 hektare, kata Rahmad sang juru pelihara. Sebuah wilayah yang dulunya juga dikelilingi kebun kopi milik keluarga Rahmad. Namun, tak hanya kisah Padang Roco yang mulai banyak dibahas, tapi juga situs Candi Pulau Sawah, Arca Bhairawa yang ada di Museum Nasional dan Arca Amoghapasa.
Melansir Antara, Sutan Riska selaku Bupati Dharmasraya berharap melalui Festival Pamalayu dapat berkontribusi sebagai sebuah bangsa. Dirinya mengatakan pemerintah Kabupaten Dharmasraya ingin menyemai benih yang disimpan peradaban nenek moyang dan ditawarkan ke generasi mendatang.
Sutan Riska berharap ilmuan atau ahli-ahli hingga sejarawan dapat mengungkap sejarah-sejarah yang dirasa janggal.
• Bandara Sultan Thaha Jambi Sambut Kedatangan Penumpang Pertama di Tahun 2020
Lantas saya menghubungi Yulius Monti selaku kepala bidang kebudayaan Dinas Pariwisata san Kebudayaan Dharmasraya via telepon. Dia mengatakan pihaknya sudah membuat program terkait pelestarian peninggalan budaya mereka.
"Program pelestarian budaya di Kabupaten Dharmasraya antara pemerintah dharmasraya akan membangun museum dengan segala ornamennya di lokasi candi Pulau Sawah Nagari Siguntur Kecamatan Sitiung," ungkapnya.
Monti mengatakan pada 2019 pemerintah daerah Kabupaten Dharmasraya telah merenovasi 80 buah rumah gadang, masing masing rumah mendapatkan hibah sebesar lima puluh juta rupiah.
"Dan pada tahun 2020 sebanyak 40 rumah dengan jumlah hibah yang sama," katanya.
Selain itu Monti mengatakan pihaknya tidak bergerak sendiri. Pemerintah Kabupaten juga akan mendorong pelestarian dari bawah.
"Pemerintah Kabupaten Dharmasraya mendorong nagari untuk melestarikan adat dan budayanya seperti Alek Nagari," katanya.
"Menghidupkan kembali permainan dan kesenian anak nagari, kembali ke masakan tradisional dan sebagainya," tambahnya
Semoga perhatian pemerintah daerah ini membuka jalan ke penelitian lebih lanjut. Semoga!(Jaka Hendra Baittri)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/01012020_candi-padang-roco.jpg)