Bertemu Sultan Thaha Gaib di Dharmasraya
“Saya Sultan Thaha. Antarkan saya ke situ. Saya dikubur di Makam (raja-raja) Siguntur!” kata seorang pria dengan sorban putih.
Penulis: Jaka Hendra Baittri | Editor: Teguh Suprayitno
Tepatnya Casparis mengatakan hingga akhir abad ke 13 Muara Jambi yang sekarang di pindah ke Sungai Langsat atau tepatnya di kawasan situs Padang Roco di Dharmasraya. Soal perpindahan ini juga dibahas oleh Uli Kozok dalam Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah; Naskah Melayu yang Tertua.
Uli Kozok menulis bahwa semua berubah pada abad 11. Pola perdagangan berubah dan Jambi tidak lagi menguasai perdagangan di Malaka, dia hanya menjadi pemain kecil. Selain masalah ekonomi ada pula faktor keamanan dari desas-desus penguasaan Kublai Khan dan Thai yang membuat khawatir kerajaan di Asia. Lantas hipotesis Uli, diputuskanlah kebijakan pemindahan ibu kota Melayu ke Dharmasraya. Mereka pindah semakin ke ulu. Namun, bukan tanpa sebab Dharmasraya dipilih. Letaknya dianggap lebih aman.
• Pesta Rakyat Desa Sungai Duren, KSR PMI Unja Adakan Donor Darah Saat Pergantian Tahun
Lalu pertanyaannya kemudian mengapa Uli Kozok membahas Dharmasraya dalam pembahasan kitab Undang-Undang Tanjung Tanah? Tak lain dan tak bukan karena adanya hubungan atau komunikasi antara Dharmasraya dan Kerinci, tempat naskah Tanjung Tanah ini ditemukan.
“Benar. Dharmasraya dan Jambi ada hubungan. Dengan Kerinci juga. Disitulah tempat ditemukannya kitab undang-undangnya. Aturan-aturannya dari situ (Kerinci),” sambung Tuan Acik Putri Marhasnidar.
Hal ini diperkuat dengan salah satu kutipan dalam Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah pasal 29. Begini Bunyinya setelah dialihbahasakan;
Perintah titah maharaja Dharmasraya. Para pembesar Bumi Kerinci, sepanjang tanah Kerinci memberi perhatian sepenuhnya. Semua [yang terjadi pada sidang besar] ditulis dengan lengkap oleh Kuja Ali, Dipati, di Waseban, di Palimbang, di hadapan paduka Maharaja [30] Dharmasraya.
Setiap kesalahan diperbaiki oleh sidang para pembesar. Tamat.
Ada Jalinan Kerabat
Hubungan Kerajaan Dharmasraya dengan Kerinci dari Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah sangat jelas ada kesepakatan pembuatan aturan bersama dan punya kedekatan tertentu. Hal ini salah satunya dikarenakan ada sistem kekerabatan yang dibentuk agar persaudaraan antar kerajaan-kerajaan kecil yang ada di Dharmasraya dan sekitarnya terjalin baik.
Terkait perkara kekerabatan ini Tuan Acik Putri Marhasnidar atau Has menjelaskan kalau ada satu raja di kerajaan Dharmasraya punya putra tiga orang, maka satu orangnya akan diutus ke negeri-negeri yang sekiranya si anak bisa jadi pemimpin. “Misalnya dikirim ke Kerinci untuk menjadi raja di sana,” ungkapnya.
“Jadi tidak akan terjadi perebutan kekuasaan di sini,” katanya.
Selain itu jika ingin ditilik lebih jauh ibu dari Adityawarman yaitu Dara Jingga yang dikirim ke Jawa bersama saudarinya Dara Petak dikirim untuk dikawinkan dengan raja di Jawa. Setelah itu Adityawarman pulang ke Dharmasraya untuk memimpin.
“Jadi dia seperti pulang ke rumah kakeknya,” ungkap Has.
Upaya Pemeritnah Dharmasraya yang Mulai Membuka Tabir
“Mulai terang semuanya. Mulai terbuka rahasia-rahasia masa lalu,” ujar Aldi, salah seorang warga Dharmasraya, saat saya berbincang tentang Festival Pamalayu yang akan ditutup 7 Januari nanti di Dharmasraya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/01012020_candi-padang-roco.jpg)