Sabtu, 16 Mei 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Bertemu Sultan Thaha Gaib di Dharmasraya

“Saya Sultan Thaha. Antarkan saya ke situ. Saya dikubur di Makam (raja-raja) Siguntur!” kata seorang pria dengan sorban putih.

Tayang:
Penulis: Jaka Hendra Baittri | Editor: Teguh Suprayitno
Tribunjambi/Jaka HB
Komplek Candi Padang Roco yang terletak di kawasan Sungai Langsat, Dharmasraya Sumatera Barat, pada Selasa 24 Desember 2019. 

Bertemu Sultan Thaha Gaib di Dharmasraya  

*Melacak Gen Persaudaraan Dharmasraya dan Jambi

TRIBUNJAMBI.COM - “Saya Sultan Thaha. Antarkan saya ke situ. Saya dikubur di Makam (raja-raja) Siguntur!” kata seorang pria dengan sorban putih bicara dengan pria yang sedang melakukan perjalanan gaib melewati jembatan Sitiung.

Ruh pria itu menatap aliran Sungai Batanghari dan perbukitan. Tinggalan-tinggalan dari Candi Padang Roco, Pulau Sawah dan lainnya memunculkan pertanyaan-pertanyaan.

Setelah pria tersebut kembali ke tubuhnya, dia mengunjungi Dharmasraya, tepatnya Kerajaan Siguntur. Mencari-cari siapa yang bisa ditanyai, bertemulah pria itu dengan Tuan Acik Putri Marhasnidar yang merupakan keturunan ke 42 keluarga Kerajaan Siguntur.

Tuan Acik Putri Marhasnidar kerap disapa dengan Has. Has menuturkan cerita itu yang terjadi tiga tahun yang lalu. 

“Laki-laki itu datang dan menemui saya. Tapi saya bilang Sultan Thaha itu raja di Jambi,” ungkapnya saat saya temui di rumahnya pada 24 Desember 2019 lalu.

Sambut Tahun Baru, Umat Katolik di Kuala Tungkal Gelar Ibadah Sabda

Has betul-betul tak ingat nama pria itu. Seingat Has asalnya dari Jawa. Lagi pula Sultan Thaha lahir pada abad 18. Namun, pria itu penasaran.

Pria itu kemudian bertanya pada Has di mana makam raja-raja Kerajaan Siguntur. Lantas dia menunjukkan tempatnya dan pria itu selesai dengan tugasnya yang gaib untuk mengetahui lokasi tersebut.

“Kalau Jambi dan Dharmasraya ada kaitan. Konon raja-raja kerajaan Dharmasraya memberi nama-nama dan gelar untuk kerajaan di Jambi,” ungkapnya.

Has mengatakan Kerajaan Siguntur merupakan lanjutan dari kerajaan Dharmasraya sebelumnya. Rumah gadang Kerajaan Siguntur adalah pusat kerajaan yang berpindah dari seberang sungai sebagai kerajaan Dharmasraya. Saat itu antara abad 13 hingga 14 kawasan tersebut bertransformasi dari kerajaan Budha menjadi kerajaan Islam. Bila ditarik lagi ke belakang kerajaan Dharmasraya adalah pindahan dari Muaro Jambi.

Kaitan kerajaan Dharmasraya dan Muaro Jambi ini ditulis oleh J.G de Casparis dalam tulisannya yang berjudul Melayu dan Adityawarman tahun 1992.

Dalam tulisan itu Casparis mengatakan pada prasasti Amoghapasa tahun 1286  disebutkan nama Malayu. Prasasti ini ditemukan di Padang Roco dekat Sungai Langsat yang kini masuk dalam administrasi Kabupaten Dharmasraya kini. Demikian halnya dengan prasasti Adityawarman yang menyebutkan malayupurahitarttah: "yang memperhatikan keselamatan kota Malaya”.

Casparis menuliskan ternyata jika nama Malaya dan Melayu dapat dipersamakan, itu menunjukkan wilayah seluruh lembah Sungai Batanghari. Termasuk Muara Jambi  sampai Sungai Langsat Sumatera Barat.

Casparis kemudian memunculkan kesimpulan bahwa mungkin sekali ada perpindahan. “Mungkin sekali ibu kota itu dipindah lebih dari satu kali yaitu dari Muara Jambi ke Sungai Langsat, lalu dari situ ke tempat yang namanya berakhir –vita atau –cita, dan di bawah pemerintahan Adityawarman pindah ke Suruaso yang dekta dengan Pagar Ruyung,” tulisnya.

Sumber: Tribun Jambi
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved