Bertemu Sultan Thaha Gaib di Dharmasraya
“Saya Sultan Thaha. Antarkan saya ke situ. Saya dikubur di Makam (raja-raja) Siguntur!” kata seorang pria dengan sorban putih.
Penulis: Jaka Hendra Baittri | Editor: Teguh Suprayitno
Bertemu Sultan Thaha Gaib di Dharmasraya
*Melacak Gen Persaudaraan Dharmasraya dan Jambi
TRIBUNJAMBI.COM - “Saya Sultan Thaha. Antarkan saya ke situ. Saya dikubur di Makam (raja-raja) Siguntur!” kata seorang pria dengan sorban putih bicara dengan pria yang sedang melakukan perjalanan gaib melewati jembatan Sitiung.
Ruh pria itu menatap aliran Sungai Batanghari dan perbukitan. Tinggalan-tinggalan dari Candi Padang Roco, Pulau Sawah dan lainnya memunculkan pertanyaan-pertanyaan.
Setelah pria tersebut kembali ke tubuhnya, dia mengunjungi Dharmasraya, tepatnya Kerajaan Siguntur. Mencari-cari siapa yang bisa ditanyai, bertemulah pria itu dengan Tuan Acik Putri Marhasnidar yang merupakan keturunan ke 42 keluarga Kerajaan Siguntur.
Tuan Acik Putri Marhasnidar kerap disapa dengan Has. Has menuturkan cerita itu yang terjadi tiga tahun yang lalu.
“Laki-laki itu datang dan menemui saya. Tapi saya bilang Sultan Thaha itu raja di Jambi,” ungkapnya saat saya temui di rumahnya pada 24 Desember 2019 lalu.
• Sambut Tahun Baru, Umat Katolik di Kuala Tungkal Gelar Ibadah Sabda
Has betul-betul tak ingat nama pria itu. Seingat Has asalnya dari Jawa. Lagi pula Sultan Thaha lahir pada abad 18. Namun, pria itu penasaran.
Pria itu kemudian bertanya pada Has di mana makam raja-raja Kerajaan Siguntur. Lantas dia menunjukkan tempatnya dan pria itu selesai dengan tugasnya yang gaib untuk mengetahui lokasi tersebut.
“Kalau Jambi dan Dharmasraya ada kaitan. Konon raja-raja kerajaan Dharmasraya memberi nama-nama dan gelar untuk kerajaan di Jambi,” ungkapnya.
Has mengatakan Kerajaan Siguntur merupakan lanjutan dari kerajaan Dharmasraya sebelumnya. Rumah gadang Kerajaan Siguntur adalah pusat kerajaan yang berpindah dari seberang sungai sebagai kerajaan Dharmasraya. Saat itu antara abad 13 hingga 14 kawasan tersebut bertransformasi dari kerajaan Budha menjadi kerajaan Islam. Bila ditarik lagi ke belakang kerajaan Dharmasraya adalah pindahan dari Muaro Jambi.
Kaitan kerajaan Dharmasraya dan Muaro Jambi ini ditulis oleh J.G de Casparis dalam tulisannya yang berjudul Melayu dan Adityawarman tahun 1992.
Dalam tulisan itu Casparis mengatakan pada prasasti Amoghapasa tahun 1286 disebutkan nama Malayu. Prasasti ini ditemukan di Padang Roco dekat Sungai Langsat yang kini masuk dalam administrasi Kabupaten Dharmasraya kini. Demikian halnya dengan prasasti Adityawarman yang menyebutkan malayupurahitarttah: "yang memperhatikan keselamatan kota Malaya”.
Casparis menuliskan ternyata jika nama Malaya dan Melayu dapat dipersamakan, itu menunjukkan wilayah seluruh lembah Sungai Batanghari. Termasuk Muara Jambi sampai Sungai Langsat Sumatera Barat.
Casparis kemudian memunculkan kesimpulan bahwa mungkin sekali ada perpindahan. “Mungkin sekali ibu kota itu dipindah lebih dari satu kali yaitu dari Muara Jambi ke Sungai Langsat, lalu dari situ ke tempat yang namanya berakhir –vita atau –cita, dan di bawah pemerintahan Adityawarman pindah ke Suruaso yang dekta dengan Pagar Ruyung,” tulisnya.
Tepatnya Casparis mengatakan hingga akhir abad ke 13 Muara Jambi yang sekarang di pindah ke Sungai Langsat atau tepatnya di kawasan situs Padang Roco di Dharmasraya. Soal perpindahan ini juga dibahas oleh Uli Kozok dalam Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah; Naskah Melayu yang Tertua.
Uli Kozok menulis bahwa semua berubah pada abad 11. Pola perdagangan berubah dan Jambi tidak lagi menguasai perdagangan di Malaka, dia hanya menjadi pemain kecil. Selain masalah ekonomi ada pula faktor keamanan dari desas-desus penguasaan Kublai Khan dan Thai yang membuat khawatir kerajaan di Asia. Lantas hipotesis Uli, diputuskanlah kebijakan pemindahan ibu kota Melayu ke Dharmasraya. Mereka pindah semakin ke ulu. Namun, bukan tanpa sebab Dharmasraya dipilih. Letaknya dianggap lebih aman.
• Pesta Rakyat Desa Sungai Duren, KSR PMI Unja Adakan Donor Darah Saat Pergantian Tahun
Lalu pertanyaannya kemudian mengapa Uli Kozok membahas Dharmasraya dalam pembahasan kitab Undang-Undang Tanjung Tanah? Tak lain dan tak bukan karena adanya hubungan atau komunikasi antara Dharmasraya dan Kerinci, tempat naskah Tanjung Tanah ini ditemukan.
“Benar. Dharmasraya dan Jambi ada hubungan. Dengan Kerinci juga. Disitulah tempat ditemukannya kitab undang-undangnya. Aturan-aturannya dari situ (Kerinci),” sambung Tuan Acik Putri Marhasnidar.
Hal ini diperkuat dengan salah satu kutipan dalam Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah pasal 29. Begini Bunyinya setelah dialihbahasakan;
Perintah titah maharaja Dharmasraya. Para pembesar Bumi Kerinci, sepanjang tanah Kerinci memberi perhatian sepenuhnya. Semua [yang terjadi pada sidang besar] ditulis dengan lengkap oleh Kuja Ali, Dipati, di Waseban, di Palimbang, di hadapan paduka Maharaja [30] Dharmasraya.
Setiap kesalahan diperbaiki oleh sidang para pembesar. Tamat.
Ada Jalinan Kerabat
Hubungan Kerajaan Dharmasraya dengan Kerinci dari Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah sangat jelas ada kesepakatan pembuatan aturan bersama dan punya kedekatan tertentu. Hal ini salah satunya dikarenakan ada sistem kekerabatan yang dibentuk agar persaudaraan antar kerajaan-kerajaan kecil yang ada di Dharmasraya dan sekitarnya terjalin baik.
Terkait perkara kekerabatan ini Tuan Acik Putri Marhasnidar atau Has menjelaskan kalau ada satu raja di kerajaan Dharmasraya punya putra tiga orang, maka satu orangnya akan diutus ke negeri-negeri yang sekiranya si anak bisa jadi pemimpin. “Misalnya dikirim ke Kerinci untuk menjadi raja di sana,” ungkapnya.
“Jadi tidak akan terjadi perebutan kekuasaan di sini,” katanya.
Selain itu jika ingin ditilik lebih jauh ibu dari Adityawarman yaitu Dara Jingga yang dikirim ke Jawa bersama saudarinya Dara Petak dikirim untuk dikawinkan dengan raja di Jawa. Setelah itu Adityawarman pulang ke Dharmasraya untuk memimpin.
“Jadi dia seperti pulang ke rumah kakeknya,” ungkap Has.
Upaya Pemeritnah Dharmasraya yang Mulai Membuka Tabir
“Mulai terang semuanya. Mulai terbuka rahasia-rahasia masa lalu,” ujar Aldi, salah seorang warga Dharmasraya, saat saya berbincang tentang Festival Pamalayu yang akan ditutup 7 Januari nanti di Dharmasraya.
Sementara itu lampu-lampu dan hiasan dari kayu disiapkan di area Candi Padang Roco untuk penutupan Festival Pamalayu tanggal 7 Januari ini. Sebuah wilayah yang kabarnya luasnya sekira 10 hektare, kata Rahmad sang juru pelihara. Sebuah wilayah yang dulunya juga dikelilingi kebun kopi milik keluarga Rahmad. Namun, tak hanya kisah Padang Roco yang mulai banyak dibahas, tapi juga situs Candi Pulau Sawah, Arca Bhairawa yang ada di Museum Nasional dan Arca Amoghapasa.
Melansir Antara, Sutan Riska selaku Bupati Dharmasraya berharap melalui Festival Pamalayu dapat berkontribusi sebagai sebuah bangsa. Dirinya mengatakan pemerintah Kabupaten Dharmasraya ingin menyemai benih yang disimpan peradaban nenek moyang dan ditawarkan ke generasi mendatang.
Sutan Riska berharap ilmuan atau ahli-ahli hingga sejarawan dapat mengungkap sejarah-sejarah yang dirasa janggal.
• Bandara Sultan Thaha Jambi Sambut Kedatangan Penumpang Pertama di Tahun 2020
Lantas saya menghubungi Yulius Monti selaku kepala bidang kebudayaan Dinas Pariwisata san Kebudayaan Dharmasraya via telepon. Dia mengatakan pihaknya sudah membuat program terkait pelestarian peninggalan budaya mereka.
"Program pelestarian budaya di Kabupaten Dharmasraya antara pemerintah dharmasraya akan membangun museum dengan segala ornamennya di lokasi candi Pulau Sawah Nagari Siguntur Kecamatan Sitiung," ungkapnya.
Monti mengatakan pada 2019 pemerintah daerah Kabupaten Dharmasraya telah merenovasi 80 buah rumah gadang, masing masing rumah mendapatkan hibah sebesar lima puluh juta rupiah.
"Dan pada tahun 2020 sebanyak 40 rumah dengan jumlah hibah yang sama," katanya.
Selain itu Monti mengatakan pihaknya tidak bergerak sendiri. Pemerintah Kabupaten juga akan mendorong pelestarian dari bawah.
"Pemerintah Kabupaten Dharmasraya mendorong nagari untuk melestarikan adat dan budayanya seperti Alek Nagari," katanya.
"Menghidupkan kembali permainan dan kesenian anak nagari, kembali ke masakan tradisional dan sebagainya," tambahnya
Semoga perhatian pemerintah daerah ini membuka jalan ke penelitian lebih lanjut. Semoga!(Jaka Hendra Baittri)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/01012020_candi-padang-roco.jpg)