TRIBUN WIKI Arsitektur Rumah Tuo di Bungo Penuh Filosofi

Rakhmatul Arafat bersama Jusmadi, seorang tokoh pemuda setempat lainnya mengajak langsung menuju rumah tuo.

TRIBUN WIKI Arsitektur Rumah Tuo di Bungo Penuh Filosofi
Tribunjambi/Mareza
Rumah-rumah tua yang ada di Dusun (Desa) Tanah Periuk, Kecamatan Tanah Sepenggal. 

TRIBUN WIKI Arsitektur Rumah Tuo di Bungo Penuh Filosofi

TRIBUNJAMBI.COM, BUNGO - Rakhmatul Arafat bersama Jusmadi, seorang tokoh pemuda setempat lainnya mengajak langsung menuju rumah tuo. Ada enam rumah tuo tidak jauh dari Sungai Batang Tebo.

Rumah-rumah itu sebagian besar dibangun dengan kayu kulim dan memiliki arsitektur yang khas. Di bagian atas, ada arsitektur kepala kambing. Itu terletak di bagian atas di dua ujung lancip atap rumah yang memanjang.

Lebih dari itu, ternyata rumah-rumah tua di Dusun Tanah Periuk, semuanya dibangun menghadap ke barat, menghadap kiblat. Arah rumah itu terlihat ketika matahari terbenam. Sejajar, membiarkan sinar matahari elok menerpa jalan setapak di sana.

Rumah tuo dibangun berpanggung. Tiang-tiangnya bersegi delapan. Berdasarkan undang-undang adat nan lapan (delapan), ada istilah dago yang berarti dagi, sumbang yang berarti salah, upeh yang artinya racun, siur berarti bakar, dan kicut yang berarti kicang. Selain itu juga ada istilah tikam yang berarti bunuh, samun yang artinya sakal, dan maling yang berarti curi.

TRIBUN WIKI Sejarah Sri Mangkubumi dan Tanah Sepenggal di Bungo

Akhirnya Ketahuan, Ini Alasan HBA Tak Ingin Lagi Maju di Pilkada Jambi

Tips Travelling Bersama Anak, Pilih Tempat Liburan yang Kids Friendly

Menurut tokoh setempat, perlu kajian panjang untuk memahami filosofi itu.

Di bawah tiang pondasi, ditanamkan juga batu sungai. Kata masyarakat, itu bertujuan untuk menguatkan pondasi rumah.

Selain bentuk tiang pondasi, hal yang berbeda dengan rumah panggung lainnya, rumah tuo tidak menggunakan teras. Hal itu berarti, jika hendak bertamu, silakan masuk ke dalam tanpa harus berbasa-basi di luar.

Ternyata kedatangan tamu pada zaman dulu disambut tuan rumah dengan 'penteh'. Penteh dapat diartikan pentas, bagian rumah yang dibangun sedikit lebih tinggi dibandingkan lantai. Penteh biasanya digunakan untuk menyambut tamu-tamu istimewa.

Di beberapa bagian, ada motif ukiran yang menjadi ciri khas rumah tuo di Dusun Tanah Periuk. Motif paku dan belimbing. Artinya, anak dipangku, keponakan dibimbing. Hal itu menunjukkan kepedulian masyarakat terhadap orang-orang terdekatnya.

Meski bangunan rumah-rumah tua di Dusun Tanah Periuk masih merupakan pondasi asli, namun beberapa bagian sudah direnovasi. Beberapa rumah sudah memiliki teras, dan semua atapnya sudah diganti dengan seng. Padahal, dulu, rumah-rumah yang berjejer menghadap kiblat itu menggunakan daun-daun yang disusun dan dirangkai sebagai atapnya.

Kendati demikian, rumah itu tetaplah saksi sejarah, bahwa Balai Panjang pernah menjadi pusat pemerintahan sebuah kerajaan di Jambi Wilayah Barat.(Tribunjambi.com/ Mareza Sutan A J)

Penulis: Mareza
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved