TRIBUN WIKI Sejarah Sri Mangkubumi dan Tanah Sepenggal di Bungo

Konon, sekitar abad ke-17, terjadi kegoncangan di Kerajaan Mataram, saat kepemimpinan Raja Amangkurat I.

TRIBUN WIKI Sejarah Sri Mangkubumi dan Tanah Sepenggal di Bungo
Tribunjambi/Mareza
Rumah-rumah tua yang ada di Dusun (Desa) Tanah Periuk, Kecamatan Tanah Sepenggal. 

TRIBUN WIKI Sejarah Sri Mangkubumi dan Tanah Sepenggal di Bungo

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Konon, sekitar abad ke-17, terjadi kegoncangan di Kerajaan Mataram, saat kepemimpinan Raja Amangkurat I. Persekutuan dengan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) disebut-sebut menjadi satu penyebabnya.

Amangkurat I menjalin hubungan dengan perserikatan dagang Hindia-Belanda yang justru diperangi ayahnya dulu. Dari sanalah, sekitar 40 keluarga memilih melarikan diri ke Tanah Melayu Jambi, yang dipimpin Sri Mangkubumi.

"Mereka datang dari Jawa, menghindari perang. Menghindari raja yang bersekutu dengan VOC," kononnya, sebagaimana penuturan Arafat.

TRIBUN WIKI Pesona Rumah Tuo Dusun Tanah Periuk Bungo

Tips Liburan Bersama Anak Ala Mom Eka

Barongsai Meriahkan Pesta Danau Sipin, Destinasi Wisata Kota Jambi

Orang-orang itu berlayar menggunakan perahu tradisional yang disebut 'jung', menghindari konflik kongsi dagang VOC.

Mereka tinggal di Balai Panjang--nama tempat itu sebelum berganti menjadi Tanah Periuk. Mereka minta izin pada Raja Jambi untuk tinggal di sana. Oleh raja Jambi, mereka diberi wewenang untuk memimpin di wilayah hulu, wilayah barat Jambi. Wilayah kekuasaan kerajaan itu disebut 'bathin', yang diperkirakan dari Batang Tembesi, hingga perbatasan Sumatra Barat.

Pusat pemerintahannya di Balai Panjang. Nama itu terinspirasi dr rumah-rumah panjang yang bersusun-susun. Dari sana, mereka berketurunan dan menyebar di delapan dusun besar. Dusun-dusun itu adalah Balai Panjang, Tanah Periuk, Lubuk Landai, Sungai Mancur, Candi, Rantau Embacang, dan Teluk Pandak.

Konon lagi, karena keakraban Raja Jambi dan Raja Sri Mangkubumi, ada semacam stempel yang disebut 'gupil'. Stempel itu terpecah, namun kalau disatukan, akan menghasilkan bentuk sempurna.

Raja Sri Mangkubumi juga menarik upeti dari daerah sekitar. Namun, meski memiliki kedekatan dengan Raja Jambi--yang disebut-sebut saat itu dipimpin Rangkayo Hitam--Sri Mangkubumi tidak membawa budaya Jawa.

"Sistemnya bukan membawa hal baru, tapi hanya menstabilkan daerah sekitar. Mereka tidak membawa adat Jawa," lanjut Arafat.

Kemungkinan, suku-suku di Balai Panjang sudah ada sebelum mereka, dan mereka hanya menyesuaikan.

Berdasarkan kultur yang ada, Bathin kemungkinan keturunan Minang. Hal itu terlihat dari perpaduan bahasa Minang dan Melayu Jambi.

Pascapemerintahan Raja Srimangkubumi, tahta diamanahkan pada Pangeran Depo, dan terus berlanjut pada raja-raja setelahnya.

Namun, hal itu, kata Arafat, masih perlu penelitian lebih lanjut. Termasuk juga asal Sri Mangkubumi, apakah berasal langsung dari Kerajaan Mataram, atau berasal dari kerajaan sekitar Mataram.

Penulis: Mareza
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved