Pengamat Ini Sebut Gara-gara AHY Demokrat Tak Masuk Kabinet Jadi Penyebab, Kenapa?

Hendri menilai, keberadaan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di Partai Demokrat menjadi penyebab Jokowi enggan memasukkan partai tersebut dalam koalisi.

Editor: Tommy Kurniawan
Kolase Tribun Jabar (Kompas dan Instagram/agusyudhoyono)
Pengamat Ini Sebut Gara-gara AHY Demokrat Tak Masuk Kabinet Jadi Penyebab, Kenapa? 

Pengamat Ini Sebut Gara-gara AHY Demokrat Tak Masuk Kabinet Jadi Penyebab

TRIBUNJAMBI.COM - Demokrat Tak Masuk Kabinet, Pengamat Yakini Keberadaan AHY Jadi Penyebab, Kenapa?

Pengamat Komunikasi Politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio menyampaikan pendapatnya terkait alasan Presiden Joko Widodo atau Jokowi tidak memasukkan tiga partai politik dalam susunan kabinet baru.

Tiga partai politik tersebut yakni Partai Demokrat, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), serta Partai Amanat Nasional (PAN).

Hendri menilai, keberadaan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di Partai Demokrat menjadi penyebab Jokowi enggan memasukkan partai tersebut dalam koalisi.

Hal itu disampaikan Hendri saat menjadi narasumber dalam acara 'DUA ARAH' yang diunggah kanal YouTube KOMPASTV, Selasa (29/10/2019).

Pengamat Komunikasi Politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio
Pengamat Komunikasi Politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio (Tangkapan Layar YouTube KOMPASTV)

Hendri mulanya menyebut Jokowi memiliki keahlian untuk merangkai kata-kata indah sebagai pembenaran atas kebijakannya.

Termasuk juga kebijakan untuk menjadikan Prabowo Subianto sebagai Menteri Pertahanan.

Menurutnya, Jokowi kerap melakukan pembenaran terhadap setiap keputusan yang diambil.

"Itu kan boleh saja presiden bicara begitu, Presiden Jokowi itu kan ahlinya begitu-begitu," ucap Hendri.

"Mencoba membuat pembenaran-pembenaran dengan kata-kata yang indah."

Hendri lantas menyoroti tentang susunan Kabinet Indonesia Maju yang belum lama ini diumumkan Jokowi.

Dengan kehadiran Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto dalam koalisi, Jokowi menyebut sebagai 'Demokrasi Gotong-royong'.

Menurut Hendri, kata 'Gotong-royong' kurang tepat digunakan untuk menggambarkan susunan kabinet yang baru.

"Ini kan sebenarnya alasan aja, karena kalau dikatakan ini demokrasi yang diterjemahkan pemerataan kursi sehingga semua bisa masuk dalam pemerintahan, kecuali beberapa saja, tapi kan enggak enak kedengarannya," ucapnya.

Halaman
123
Sumber: TribunWow.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved