Penyerbuan Hutan Papua 1962, Kopassus Tidur di Antara Mayat setelah Disergap Musuh
Saat Letda Agus Hernoto ditangkap dalam kondisi luka parah, anggota Kopassus PU II Pardjo ternyata masih hidup.
Penyerbuan Hutan Papua 1962, Kopassus Tidur di Antara Mayat setelah Disergap Musuh
TRIBUNJAMBI.COM - Kondisinya sangat parah hingga tak bisa bergerak jauh.
Prajurit RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat, sekarang Kopassus) harus bertahan hidup di antara jenazah teman-temannya yang menjadi korban penyergapan musuh.
Saat Letda Agus Hernoto ditangkap dalam kondisi luka parah, anggota Kopassus PU II Pardjo ternyata masih hidup.
Selama lima hari, Pardjo tidur di antara jenazah tanpa ada obat-obatan dan makanan.
Kisah nyata anggota RPKAD ini terjadi saat Operasi Trikora atau Tri Komando Rakyat.
Baca: Raja Intel Kopassus Bikin Anggotanya Geleng-geleng Kepala, Kerap Rapat Mulai Pukul 23.00 WIB
Baca: Misteri dalam Tubuh Sat-81 Kopassus, Istri Sendiri Tak Tahu Suaminya anggota Pasukan Rahasia
Baca: 7 Orang Kopassus Dikirim ke Hutan Papua 1969, sebelumnya Ditemukan Kaki Michael Rockfeller Putus
Saat itu, anggota Resimen Para Komando Angkatan Darat berjibaku di ganasnya belantara Irian Barat (sekarang Papua) dalam OperasiTrikora.
Satu di antara yang dilakukan dengan infiltrasi militer Indonesia melalui Operasi Banteng I. Operasi itu melibatkan personel Pasukan Gerak Tjepat (PGT) yang saat ini bernama Paskhas dan RPKAD.
Gabungan Kopassus dan Paskhas ini bakal diterjunkan di tengah hutan belantara di Irian Barat. Mereka ditugaskan untuk masuk dalam wilayah pertahanan Belanda dan mengacaukan konsentrasi pasukan Belanda.
Para prajurit yang siap bertempur tersebut dibagi ke dalam dua tim yakni Banteng I di Fak-fak dan Banteng II di Kaimana.
Tentang Operasi Trikora:
- Operasi Tri Komando Rakyat
- Usaha pemerintah Republik Indonesia untuk menggabungkan wilayah Papua bagian barat (Merebut kembali Irian Barat)
- Pelaksanaan 19 Desember 1961-15 Agustus 1962
- Indonesia melakukan upaya diplomasi dan militer.