Raja Intel Kopassus Bikin Anggotanya Geleng-geleng Kepala, Kerap Rapat Mulai Pukul 23.00 WIB
Pukul 23.00 WIB justru baru memulai rapat yang biasanya selesai dini hari. Anggotanya sampai geleng-geleng.
Pukul 23.00 WIB justru baru memulai rapat yang biasanya selesai dini hari. Anggotanya sampai geleng-geleng.
TRIBUNJAMBI.COM - Banyak yang tidak mengetahui tentang sosok prajurit Kopassus ini.
Prajurit Kopassus ini hidup di empat zaman. Sejak zaman penjajahan Belanda, Jepang, zaman Presiden Soekarno kemudian Presiden Soeharto.
Asam garam pertempuran dan misi rahasia telah dirasakan anggota pasukan elite TNI AD ini.
Sebelum menyandang predikat sebagai raja intel Indonesia lalu menjadi Panglima ABRI, Benny Moerdani merupakan sosok prajurit yang terampil dalam peperangan.
Benny Moerdani ikut berperang melawan penjajah, menjadi prajurit sejak Kopassus masih bernama RPKAD dan bergelut misi-misi, hingga akhirnya menjadi Panglima ABRI dan menteri.
Baca: Pemuda Blora Jadi Kopassus, Punya Pacar Pramugari Garuda, Akhirnya Jadi Jenderal TNI
Baca: 17 Kali Naik Pangkat hingga Perwira Kopassus, Kisah Preman Terminal Insaf Daftar Pakai Kaus Singlet
Baca: Cara Kerja Misterius Intelijen Kopassus, Bisa Mengelabui hingga Sembunyikan Istri Panglima Musuh
Baca: DPO Komplotan Begal di Bungo, Kembali Tertangkap, 3 Pelaku Masih DPO, Dibantu Polsek Sungai Lilin
Baca: Terungkap Seorang Dosen IPB Persiapkan 29 Bom Molotov Untuk Aksi Massa, Begini Reaksi Rektor IPB!
Prajurit Komando Pasukan Khusus ini juga merupakan ahli dunia intelijen Indonesia.
Di beberapa misi Kopassus berisiko tinggi, dia merupakan sang sutradara.
Tak kenal takut
Banyak orang mengenal Benny sebagai pribadi yang tak kenal takut dan kerap bikin 'geleng-geleng' orang yang melihat sikap kerasnya.
Benny Moerdani menjadi satu di antara tokoh yang menonjol saat dilangsungkannya Operasi Trikora di Irian Barat.
Ssook Benny Moerdani juga dikenal sebagai prajurit yang tak kenal takut menjalankan misi-misi berbahaya.
Ketika Operasi Trikora digelar tahun 1960-an, saat itu Benny Moerdani masih berpangkat Kapten.
Ia merupakan satu-satunya perwira yang berani memimpin pasukan Resimen Komando Angkatan Darat (RPKAD) atau kini bernama Kopassus yang diterjunkan di Irian Barat.
Operasi itu adalah bagian dari pelaksanaan operasi penyusupan (Operasi Trikora).