Bentrokan Pekerja Asing vs Pekerja Lokal di PLTU Sumsel 8, Dilarikan ke Rumah Sakit, Kondisinya
Awalnya saat pekerja lokal diminta untuk mengambilkan barang oleh pekerja asing. Namun setelah diambilkan, ternyata salah. Berulang-ulang diambilkan,
Awalnya saat pekerja lokal diminta untuk mengambilkan barang oleh pekerja asing. Namun setelah diambilkan, ternyata salah. Berulang-ulang diambilkan, namun masih juga tetap salah.
TRIBUNJAMBI.COM, MUARAENIM - Bentrokan pekerja lokal vs pekerja asing terjadi di Sumatera Selatan.
Terjadi bentrokan antara pekerja lokal dengan pekerja asing asal Tiongkok di proyek PLTU Sumsel 8 Muaraenim.
Akibat bentrokan itu, ada pekerja yang harus dirawat di rumah sakit.
Berikut ini kronologi yang berhasil dihimpun Tribunsumsel.com:
Terjadi konflik antara tenaga kerja lokal dan tenaga kerja asal asing ( TKA) di PLTU Sumsel 8.
Baca Juga
Ini Wajah Bidan Cantik yang Selingkuh dengan Dokter di Kontrakan, Tepergok Suaminya yang Polisi
Setelah Gadis Pontianak, Kini Gadis Cimahi Diincar Pengantin Pesanan ke Tiongkok, yang Cantik
Polisi Akan Layangkan Somasi, Ananda Badudu: Kebenaran Harus Disuarakan, karena Saya Bukan Pinokio
Kopassus Dikirim untuk Serbu Padepokan Dukun Sakti, Mbah Suro Kebal Senjata Akhirnya Ditangkap
Raja Intel Kopassus Bikin Anggotanya Geleng-geleng Kepala, Kerap Rapat Mulai Pukul 23.00 WIB
Penyebabnya tenaga kerja lokal tidak mengerti bahasa yang digunakan tenaga kerja asal China.
Adanya keributan yang terjadi di Desa Tanjung Lalang, Kecamatan Tanjung Agung, itu diiyakan Manajer Umum dan CSR PT Huadian Bukit Asam Power (HBHP), Giana.
"Sebenarnya hal itu terjadi karena adanya miss comunication antara pekerja lokal kita dengan TKA. Semua sudah selesai dan sudah kita lakukan mediasi hari itu juga,"kata Giana, didampingi GM PT HBHP, Zheng Guoxion dan GA Manager China Huadian Hongkong Co Ltd (CHDHK), Liu Zheng saat ditemui Tribunsumsel.com, Selasa, (1/10/2109).
Awalnya ambil barang
Dikatakan Giana, bahwa hal tersebut bermula saat tenaga kerja lokal diminta untuk mengambil barang oleh TKA.
Namun setelah diambilkan, ternyata salah. Itu telah berulang-ulang diambilkan, namun masih juga tetap salah.
Semua itu terjadi karena tenaga kerja lokal kita tidak mengerti dengan bahasa yang digunakan oleh TKA China.
"Sementara TKA tidak bisa berbahasa indonesia, jadi disitu terjadi misscomunikasi dan terjadilah keributan tersebut, dan melihat kedua TKA tersebut ribut," tuturnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/google-map-pltu-sumsel-8.jpg)