Jumlah Penderita ISPA Capai 1 Juta, di Jambi 63 Ribu Penderita Akibat Kabut Asap yang Kian Pekat!
Akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), jumlah penderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA hingga September mencapai 919.516 orang
Dikutip dari Kompas.com, Senin (23/9/2019), Jamartin Sihite, Ketua Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) mengatakan hingga saat ini sudah ada 37 orangutan di yayasannya terkena penyakit infkesi saluran pernapasan atas (ISPA).
Dari jumlah tersebut, sebanyak 31 di antaranya adalah orangutan muda berusia di bawah empat tahun.
"Sudah sekitar tiga bulan terpapar kabut asap. Kalau manusia bisa pakai masker, tapi kalau orangutan kan tidak bisa. Jadi tidak heran kalau mereka sakit, DNA-nya hampir sama, penyakitnya juga sama dengan manusia," ujar Jamartin dilansir Deutsche Welle Indonesia.
Dampak kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga mengancam eksistensi satwa hutan di Indonesia.
Dikutip dari Kompas.com, Senin (23/9/2019), Directur Policy dan Advocacy WWF-Indonesia, Aditya Bayunanda, pendekatan per spesies hewan di suatu daerah bisa dikatakan mengkhawatirkan.
"Satwa yang terancam agak sulit datanya, karena mungkin kita lihat dari konteks habitat. Misal gajah di Sumatera terancam karena habitatnya juga sedang terancam," ujar Aditya.
Baca: Korban Kekerasan Terhadap Perempuan & Anak Bakal Punya Rumah Aman, P2TP2A Muarojambi Juga Minta Ini
Baca: Akhirnya, Hujan Deras Mengguyur di Kecamatan Pemayung, Kabupaten Batanghari
Baca: Usai Konflik Dengan Via Vallen, Musisi Jerinx SID Ribut Dengan Nikita Mirzani, Ada Apa Sebenarnya?
Dirinya menjelaskan bahwa ancaman terbesar spesies endemik bukanlah perburuan melainkan habitatnya.
Akibat adanya kebakaran hutan dan lahan, akan menambah ancaman bagi satwa untuk bertahan, jika habitat mereka juga dilahap oleh api dan terbakar.
Sementara itu, dikutip dari Kompas.com, pemerintah Provinsi Riau menetapkan status tanggap darurat terkait kebakaran hutan dan lahan yang melanda wilayah mereka.
"Ada dua (provinsi) ya, Kalteng (Kalimantan Tengah) sama Riau. Riau hari ini, Kalteng udah minggu kemarin ya," ujar Agus Wibowo, seperti dikutip dari Kompas.com.
Agus mengatakan, status tanggap darurat menunjukkan bahwa pemerintah daerah setempat tengah fokus menangani kebakaran hutan dan lahan yang melanda wilayahnya.
Agus menjelaskan bahwa status kebencanaan terbagi menjadi tiga.
Baca: Ridwan Kamil Ubah Nama Bandara Kertajati Jadi Bandara Internasional Bj Habibie, Anji Manji: Gas Kang
Baca: Perjalanan Timnas U-16 Indonesia Menuju Piala Asia U-16 2020, Mampukah Tebus Kegagalan di 2018?
Baca: 9 Bulan TPP Tenaga TU Sekolah di Sarolangun Tidak Cair, Ini Penjelasan BKPSDM
Pertama, status siap siaga yang menandakan pemerintah daerah mengantisipasi terjadinya bencana.
Kedua, tanggap darurat yang berarti pemerintah daerah tengah menangani bencana.
Ketiga, transisi dari tanggap darurat ke pemulihan yang artinya pemerintah daerah berfokus upaya rehabilitasi dan rekontruksi.