Tak Ada Akses Jalan, Bocah Ini Setiap Hari ke Sekolah Naik Sampan Lewat Danau Batur!

Tidak ada akses jalan yang bisa dilintasi sepeda motor dari Banjar Madya menuju Banjar Terunyan. Warga harus memutar lewat Karangasem

Editor:
Tribun Bali/Fredey Mercury
Gede Agus Wardika mendayung sampan melintasi Danau Batur menuju ke sekolahnya, Rabu (4/9/2019) pagi. 

“Biasanya saat sasih ombaknya besar,” ucapnya.

Baca: Link Live Streaming TVRI Malam Ini, Timnas Indonesia vs Malaysia Kick Off 19.30 WIB

Baca: TEPERGOK Kencani Istri Tetangga, Seorang Pemuda Didenda Rp 20 Juta: Suami Langsung Gugat Cerai

Baca: Layanan Yahoo Tumbang Hari Ini, Ribuan Pengguna Laporkan Tak Bisa Login, Ini Kata Yahoo

Agus yang bercita-cita menjadi guru matematika ini berharap suatu saat bisa memiliki sampan sendiri.

Sampan yang dia gunakan sekarang merupakan satu-satunya milik keluarga. Ukurannya pun tergolong kecil.

Dengan sampan sekecil itu, Agus tidak bisa membawa adiknya Kadek Ervan Sugianto (6), yang kini duduk di kelas 1  pada sekolah yang sama.

Ia khawatir tidak mampu menjaga keseimbangan jika adiknya ikut menumpang sampan. 

“Adik diantar-jemput bapak, sampannya pinjam milik tetangga,” ujarnya.

Kepala SDN 1 Terunyan, I Nyoman Siem, membenarkan jika Agus tinggal terpisah dari  warga Banjar Terunyan lainnya.

Lokasi Pondok Waru berada di belakang Setra Adat yang menjadi objek wisata andalan Desa Terunyan.

Kepala Sekolah SDN 1 Terunyan, I Nyoman Siem bersama Gede Agus Wardika saat ditemui Rabu (4/9/2019).
Kepala Sekolah SDN 1 Terunyan, I Nyoman Siem bersama Gede Agus Wardika saat ditemui Rabu (4/9/2019). (Tribun Bali/Fredey Mercury)

“Di pondokan Waru itu hanya terdapat lima KK (kepala keluarga). Sedangkan siswa kami yang bermukim di tempat tersebut, hanya dua orang yakni Agus dan Ervan. Kalau Agus bawa sampan sendiri, sedangkan Ervan diantar dan ditunggui ayahnya sampai pulang,” ungkapnya.

Nyoman Siem memaklumi jika Agus kerapkali  tiba pas jam masuk sekolah pukul 7.30 Wita.

Walau demikian, diakui Agus tergolong siswa berprestasi. Saat kenaikan dari kelas II ke kelas III, ia menempati peringkat III.

Dan pada kenaikan kelas IV, prestasinya meningkat yaitu meraih peringkat 1 di kelasnya.

Pria yang mejabat kepala sekolah sejak tahun 2011 itu menambahkan, siswa pendukung SDN 1 Terunyan berasal dari dua banjar yaitu Banjar Terunyan dan Banjar Madya.

Sebanyak lima orang  siswa yang bernasib serupa dengan Gede Agus Wardika.

“Di Banjar Madya juga belum ada akses jalan menuju Banjar Terunyan, khususnya yang bisa dilintasi sepeda motor. Adapun akses jalan harus memutar lewat Karangasem. Seluruh siswa kami asal Banjar Madya itu jalan kaki ke sekolah dengan jarak tempuh sekitar 40 menit," ujarnya.

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved