3 Menit Mencekam di Bandara Thailand, Pramugari Tabah Ditendang: Kopassus Datang Menyelamatkan
TRIBUNJAMBI.COM - Suasana mencekam dalam kabin pesawat DC-9 Woyla milik maskapai Garuda, berlangsung sekitar dua hari.
Hingga akhirnya pasukan Kopasandha atau Kopassus datang menyelamatkan mereka.
Pembajak meminta pesawat Woyla diterbangkan ke Sri Lanka.
Baca: AKSI Profesor Intelijen Kopassus, Merayap di Sarang Kobra: Duel Sengit Bos Gerilyawan di Kalimantan
Baca: WIKIJAMBI - Gulai Belut dan 100 Macam Dedaunan, Kuliner Jambi Menggugah Selera
Baca: Gara-gara Video Instagram, Wanita Ini Coba Bunuh Pacar Teman Dengan Menabraknya, Begini Endingnya!
Pilot Herman Rante menolak dengan alasan bahan bakar tak akan cukup bila harus melintasi bagian utara Samudera Hindia.
Maka pesawat Woyla dibelokkan rutenya menuju Penang, Malaysia, dan kemudian diarahkan ke Bangkok, Thailand.
Imran bin Muhammad Zein, pemimpin kelompok pembajak pesawat itu, meminta pemerintah Indonesia membebaskan 80 rekan mereka yang kala itu mendekam di penjara.
Rekan mereka dipenjara karena terlibat peristiwa penyerangan Kosekta 8606 Pasir Kaliki, Cicendo, Bandung.
Disebut juga, pembajak meminta uang tunai sebesar 1,5 juta dolar AS.
Baca: Mas Kawin di Demak Bukan Cincin atau Alat Sholat, Melainkan Sebuah Mobil dan Motor, Bikin Geger

Mereka mengancam akan meledakkan pesawat bila tuntutan tersebut tak dikabulkan.
Berhari-hari disandera membuat para penumpang merasa takut dan lelah.
Kala itu, korban sendera dicekoki ceramah yang isinya menjelekkan pemerintahan Soeharto.
Para sandera tak boleh berkomentar mengenai ceramah tersebut.
Baca: Modus Penipuan Via SMS Versi Terbaru, Ngaku Sudah Mengaktifkan Auto TP Jangan Tertipu
Baca: Kisah Soeharto Bikin Majalah Time Harus Bayar Rp 1 Triliun, Ternyata Akhirnya Begini. . .
Tangan penumpang harus diangkat ke atas dan kedua telapak tangan harus di bagian atas sandaran kursi.
Penumpang baru boleh menurunkan tangannya setelah pesawat Woyla tiba di Bangkok, Thailand.
Pesawat tersebut mendarat di Bandara Don Mueng, Bangkok, Sabtu sekitar pukul 17.00.
Penderitaan yang dialami oleh penumpang pesawat belum berakhir.