3 Menit Mencekam di Bandara Thailand, Pramugari Tabah Ditendang: Kopassus Datang Menyelamatkan
TRIBUNJAMBI.COM - Suasana mencekam dalam kabin pesawat DC-9 Woyla milik maskapai Garuda, berlangsung sekitar dua hari.
Sama seperti biasanya mereka melakukan pekerjaan mereka tanpa ada rasa curiga bakal mengalami hal paling mengerikan dalam hidup mereka.
Kecurigaan sebenarnya telah terbersit oleh para Pramugari melihat gelagat aneh lima orang penumpang yang naik pesawat dari Palembang.

Tribunjambi.com melansir dari berbagai sumber, sebelum beraksi satu diantara pembajak sebelumnya meminta koran kepada pramugari yang bertugas.
Pramugari pun memberikan koran yang disediakan bagi penumpang selama dalam perjalanan.
Ketika pramugari tengah membagikan makanan, beberapa penumpang bangun, berlari ke bagian depan kabin.
"Jangan bergerak! Jangan bergerak! Siapa yang bergerak akan saya tembak!"
Baca: Mengapa 7 Member BTS Sengaja Diusulkan Bebas dari Wamil, Ini Tanggapan Komisi Militer Korea Selatan
Baca: Gara-gara Ini Syahrini Menangis, Reino Barack Rekam Momen di Villa Bora-bora, Giginya Kena lipstik!
Terlihat lima orang pria yang membawa senjata dan granat berlarian ke arah depan pesawat melancarkan aksinya membajak pesawat.
Nasib pramugari yang berada dalam pesawat waktu itu jadi sasaran para pembajak.
Satu diantara pramugari Retna yang ketakutan dan menunjukkan gelagat kalut membuat tak senang pembajak.
Pembajak pun menghampirinya dan menyepaknya.
Melihat rekannya dikasari, Lydia membela rekannya tersebut, namun perlakuan dari teroris tak kalah kasar, Lydia dimarahi oleh pelaku pembajakan pesawat.
Baca: Benarkah Kelindihan Saat Tidur Akibat Ulah Makhluk Halus, Simak Penjelasan Dari Sisi Medis!
Baca: Anies Baswedan Resmikan Tower Pertama Program Rumah DP 0 Rupiah, Rp 195 Juta Dapat Ukuran Segini
Selama proses pembajakan tak henti-hentinya teroris melakukan kekerasan terhadap penumpang, mereka juga mengancam meledakkan pesawat.
Sempat ketakutan dan panik ketiga pramugari ini akhirnya bisa menguasai keadaaan, bahkan Deliyanti mulai berani menyindir pelaku pembajakan.
Tiba kesempatan untuk melakukan perlawanan saat pistol pembajak digeletakkan sembarangan, namun hal tersebut urung dilakukan mengingat risiko tinggi yang mesti dihadapi jika gagal.
Bahkan para pramugari ini juga sempat merencanakan menggunakan obat tidur untuk membius para pelaku teror, namun rencana tersebut juga tak dilakukan.