Kisah Militer RI
Perompak GAM Dibuat Malu Kopaska, Nyamar Jadi Pegawai Bank & Mampu Bebaskan Sandera Lewat Penyamaran
Perompak GAM Dibuat Malu Kopaska, Nyamar Jadi Pegawai Bank & Mampu Bebaskan Sandera Lewat Penyamaran
Perompak GAM Dibuat Malu Kopaska, Nyamar Jadi Pegawai Bank & Mampu Bebaskan Sandera Lewat Penyamaran
TRIBUNJAMBI.COM - Kisah satu ini pastinya buat perompak yang pernah membuat Indonesia gaduh menjadi malu oleh satuan elit TNI AL, Komando Pasukan Katak (Kopaska).
Ahli akan pertarungan air, serta dikenal menjadi 'hantu laut' perairan Indonesia.
Komando Pasukan Katak (Kopaska) ternyata juga ahli menyusun siasat pembebasan sandera serta perang darat.
Tidak kalah mengerikan dengan Komando Pasukan Khusus (Kopassus), pasukan elite matra TNI AL ternyata juga memiliki kisah yang patut dibanggakan.
Bahkan tidak hanya tangguh bertempur, penyamaran Kopaska sendiri ternyata juga sangat apik dan tak mudah diketahui.
Baca: Honda Genio Skuter Matik Gunakan Mesin Baru, Hemat Bahan Bakar dan Tenaga Maksimal
Baca: Pohon Randu Rusak Dibuat Kapten Encun, Sosok Mahaguru Lempar Pisau Kopassus di Batujajar
Baca: Pakai Bambu Berisi Kapur, Bupati & Wabup Nikmati Menyumbun di Acara Puncak Festival Kampung Laut
Baca: Ingat Nenek Rohaya yang Dinikahi Pemuda Berusia 16 Tahun, Ini Cara Suami Menghidupinya hingga Kini
Bagaimana jadinya bila pasukan khusus yang terkenal mengerikan, tanggap dan juga tangguh berubah menjadi seorang pegawai bank.
Kisah di atas merupakan satu dari sepersekian misi yang dijalani oleh Komando Pasukan katak (Kopaska).
Berani bertarung dan bertempur di dalam air, bahkan tidak hanya di perairan, Komando Pasukan Katak (Kopaska) juga ahli bertempur di daratan dengan keahlian khususnya.
Kisah kehebatan Pasukan Khusus milik TNI AL tersebut tidak hanya di beberapa misi saja. Bahkan, saat terjadinya pemberontakan oleh Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Kopaska pun dilibatkan.
Seperti kisah berikut, tahun 2006 silam saat salah satu kelompok sayap Gerakan Aceh Merdeka (GAM) melakukan pembajakan terhadap sebuah kapal ikan Indonesia di kawasan Perlak, Aceh Timur menjadi pembuktian bahwa Kopaska pun handal dalam operasi di darat.
Kopaska yang pada saat itu dipimpin oleh Kolonel Irawan membentuk sebuah tim intelejen bernama Tim Kejar untuk menggagalkan pembajakan tersebut.

Kelompok sayap GAM itu melepaskan kapal ikan, namun mereka menyandera Nahkoda dan Kepala Kamar Mesin (KKM) untuk dijadikan tawanan.
Keduanya kemudian disekap di sebuah tambak milik GAM sampai uang tebusan dibayarkan.
Seperti kebiasaan kelompok separatis, GAM juga membuat tambak yang digunakan untuk kedok semata.
Jika dilihat dari tengah perairan sudah pasti tak ada orang yang menyangka bahwa tambak itu adalah markas GAM.
Seperti tambak-tambak lainnya, ‘tambak’ GAM ini juga ada ikan, bambu-bambu penyekat tambak, kapal-kapal kecil, dan lainnya.
Kembali ke cerita penyergapan ini, tawar menawar uang tebusan dilakukan lewat telepon yang telah disadap.
Penyadapan inilah yang menjadi kunci keberhasilan operasi.
Kopaska bekerja sama dengan salah satu operator telekomunikasi di Jakarta untuk membantu penyadapan tersebut.
Salah seorang anggota tim Kejar di ujung telepon berpura-pura sebagai pihak operator kapal.
Saat negosiasi berlangsung nomor yang dipakai penyandera terlacak masih berada di kawasan Perlak.
Semula GAM meminta tebusan antara Rp 250 juta – Rp 500 juta namun kemudian keduanya sepakat akan menebus nahkoda dan KKM kapal dengan uang sebesar Rp. 60 juta dan akan ditransfer secara bertahap lewat sebuah bank BUMN.
“Awalnya kami mau antar sendiri uangnya, tapi mereka tidak mau, takut ditipu. Jadinya kami transfer Rp. 20 juta dulu lewat bank di Lhoksumawe,” tutur Kopral Satu (Koptu) Totok yang saat itu menjadi salah satu anggota tim Kejar berpangkat Kopral dua.
Setelah sepakat, si ‘operator kapal’ yang sebenarnya anggota Tim Kejar menghubungi kembali si penyandera untuk memberi tahu bahwa uang telah ditransfer dan dapat diambil.
Saat itu tim lain di Jakarta yang bertugas mengawasi penyadapan telepon mendeteksi lokasi nomor tersebut sudah berpindah ke kawasan Lhoksumawe.
Artinya, si anggota separatis ini sudah mendekati bank. Tepat seperti yang diharapkan!
Baca: Jokowi Beberapa Kali Coba Bertemu dengan Prabowo Usai Pilpres 2019, Gerindra: Sangat Komprehensif
Baca: SMA/SMK di Kota Jambi, tak Mampu Tampung Lulusan SMP, PPDB SMA/SMK Provinsi Jambi Dimulai 1 Juli
Baca: 223 Paket Pekerjaan di Pemprov Jambi Telah Ditenderkan, 83 Paket Sudah Terkontrak
Baca: Citilink akan Terbang ke Bungo Mulai Besok, Beroperasi 3 Kali Seminggu, Ini Penjelasan Pihak Bandara
Baca: Pembalasan Nagita Slavina Pada Raffi Ahmad saat Sang Suami Minta Nikah Lagi dengan Anak Pesantren
Merasa kesempatan tidak datang 2 kali, Tim Kejar Kopaska langsung berkoordinasi dengan pihak bank dan membagi tugas.
Satu anggota tim langsung berganti peran menjadi teller bank, sedangkan anggota tim lainnya menyamar menjadi nasabah.
Waktu terus berjalan, anggota tim mulai cemas, jangan-jangan buruannya keburu tahu kalau dirinya masuk jebakan.
Di tengah rasa khawatir yang menggantung di hati, tiba-tiba orang yang ditunggu-tunggu datang.
Ia masuk dengan santai, Tim Kejar juga berusaha keras untuk memainkan perannya bak pemain teater, si Teller melayani layaknya Teller, dan si nasabah berlagak layaknya nasabah.

"Selamat pagi pak, ada yang bisa dibantu," kata si Teller.
“Sebentar ya, pak, sistemnya agak bermasalah. Tunggu sebentar,” kata si Teller yang berusaha mengulur waktu. Si target manggut-manggut saja.
Saat sedang menunggu itulah beberapa ‘nasabah’ langsung menyergap target yang bernama Syafrizal Sofyan itu.
Setelah diinterogerasi, Syafrizal Sofyan mengaku hanya keponakan dari Budiansyah alias Jepang, salah satu pimpinan kelompok penyandera yang menjadi incaran utama Kopaska.
Sofyan hanya ditugaskan sang paman untuk mengambil uang tebusan.
Setelah ditangkap, Kopaska memerintahkan Sofyan untuk menelepon si paman untuk mengabari bahwa uang sudah diambil dan tawanan dapat dilepaskan.
Empat hari disandera si nahkoda dan KKM akhirnya dibebaskan.
Baca: VIDEO : 10 Bahan Makanan Menggandung Tinggi Kolagen, Bikin Awet Muda Menghindari Penudaan Dini
Baca: Buka Rapat Pembaruan Kebangsaan, Ini yang Diharapkan Wawako Maulana dengan Masyarakat Heterogen
Baca: 3 Siswi Terjebak Hubungan Intim dengan Guru, Ada yang Lakukannya di Kelas bahkan di Semak-semak
Baca: Ramalan Zodiak 25 Juni 2019, Sagitarius Tiba-tiba Emosimu Jauh Lebih Kuat, Aquarius Sebaliknya
Baca: Mahfud MD Akhirnya Tanggapi Kesaksian Keponaknya Sewaktu Jadi Saksi 02 di MK, Terkait Kecurangan
Begitu dilepas, Jepang baru curiga kenapa kemenakannya tidak kunjung tiba. Jarak Lhokseumawe ke Perlak agak jauh memang, sekitar 2,5 hingga 3 jam perjalanan darat.
Itu pun kalau jalannya mulus. Tapi tentu tak sampai seharian, maka tak heran jika Jepang mulai curiga.
Jepang kemudian membuat laporan orang hilang ke kantor polisi.
“Dia bilangnya ada bantuan dari Jakarta untuk membangun jalan. Tapi yang bertugas mengambil uang hilang,” ujar Koptu Totok.
Kebetulan beberapa anggota Tim Kejar di saat yang sama sedang istirahat di sebuah kedai kopi dekat Polsek Perlak.
Mereka melihat dengan jelas, lewat mata sendiri kalau si Jepang keluar dari Polsek. Bukannya langsung disergap, tim malah tidak mau gegabah.
Tim Kejar berpikir sangat riskan jika melakukan penangkapan di daerah Perlak karena daerah tersebut sudah dikuasai GAM.
Apa jadinya jika begitu disergap mereka malah gantian dipentungi oleh masyarakat di sekitar situ yang ternyata anggota GAM.

Tim Kopaska memilih untuk membuntuti incarannya yang pergi ke rumah orang tua Sofyan di Lhoksumawe.
Sampai di rumah kakaknya Jepang belum juga disergap. Tim penyergap dengan sabar membuntuti sasarannya ini ke tujuan berikutnya, bank tempat Sofyan menarik uang.
Pihak bank memperlihatkan bukti pengambilan uang kepada Jepang dan kakaknya yang ikut serta.
Merasa uangnya memang sudah dicairkan Jepang akhirnya kembali ke Perlak. Tiba di salah satu perempatan jalan di ujung kota Lhokseumawe Jepang dipaksa berhenti oleh lampu merah.
Serombongan orang di sebuah mobil ikut berhenti di sebelahnya. Saling pandang, sama-sama memberi senyum.
Seluruh penumpang mobil turun dengan cepat, langsung menghampiri pengendara motor di sebelahnya.
Tak disangka, seisi mobil tersebut adalah anggota Tim Kejar. Tertangkaplah Jepang tanpa perlawanan berarti.
Operasi ini dianggap cukup sulit dilakukan karena alat penyadap yang menjadi kunci keberhasilan operasi ini ada di Jakarta.
Tim Kejar harus terus berkoordinasi dengan pihak operator dan tim Kopaska di Jakarta untuk memastikan keberadaan pembajak yang diincar.
*Tulisan ini ada di buku Kopaska, Spesialis Pertempuran Laut Khusus.
IKUTI KAMI DI INSTAGRAM:
NONTON VIDEO TERBARU KAMI DI YOUTUBE:
IKUTI FANSPAGE TRIBUN JAMBI DI FACEBOOK: