Senin, 1 Juni 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Kesehatan

Dibalik Fenomena Menjamurnya Hubungan Sejenis, Ini Risiko Cara Intim Mereka pada Kesehatan

Fenomena LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transgender/transeksual) tak hanya marak di berbagai negara, termasuk di Indonesia.

Tayang:
Penulis: Fifi Suryani | Editor: Fifi Suryani

TRIBUNJAMBI.COM - Fenomena LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transgender/transeksual) tak hanya marak di berbagai negara, termasuk di Indonesia.  Bedanya, di luar negeri mereka berani menyuarakan tuntutan legalitas secara terbuka, di Indonesia masih secara samar.

Tertangkapnya praktik hubungan sejenis dalam bentuk pesta gay di Indonesia, keberadaan grup-grup sosial media tempat mereka mengekspos diri dan saling berbagi informasi juga menjadi cerminan eksisnya mereka.  Persoalan paling menarik seputar keberadaan mereka tentu saja tentang cara mereka melakukan hubungan intim.  Tentu Ada berbagai cara yang dilakukan, salah satunya adalah anal seks.

Baca: Risiko Berhubungan Intim Diusia Muda, Pertimbangkan Sebelum Mengizinkan si Upik Menikah

Dikutip dari Klikdokter.com, dr. Dyan Mega Inderawati mengatakan, seks anal merupakan salah satu metode berhubungan seksual yang cukup banyak dipraktikkan. Tidak hanya pada hubungan sesama jenis, tetapi juga pada hubungan berlawanan jenis.

"Seks anal tidak hanya berarti memasukkan kelamin ke dalam anus, tetapi juga alat bantu seksual seperti vibrator, jari, serta termasuk penggunaan mulut (oral-anal)," ungkap dr. Dyan.

Namun, tahukah Anda? Seluruh cara dalam seks anal ini menyimpan bahayanya masing-masing, bahkan lebih berbahaya dari hubungan seksual melalui vagina yang umum diterapkan. Mengapa seks anal lebih berbahaya?

1.  Anus tidak memproduksi lubrikan

Hubungan seksual melalui vagina akan menstimulasi produksi cairan pelumas atau lubrikan alami. Lubrikan ini berfungsi meminimalkan pergesekan sehingga risiko terjadinya luka di sekitar kelamin lebih kecil.

Baca: Berat Badan akan Mudah Naik pada Fase Menopause, Berikut 9 Tips Mengantisipasinya

Baca: Tanda-tanda Wanita sudah Memasuki Masa Menopause, Enam Penyakit Ini Rentan Menyerang

Beda halnya dengan seks anal. Anus tidak memiliki kelenjar yang dapat memproduksi lubrikan. Dengan demikian pergesekan yang terjadi dapat meningkatkan risiko perlukaan.

"Luka yang terbentuk, sedikit atau banyak dapat menghasilkan darah, merusak lapisan kulit pelindung, dan semakin memperbesar risiko penularan berbagai infeksi menular seksual," jelas Dyan.

2.  Lapisan kulit anus sangat mudah iritasi

Berbeda dengan bagian luarnya, lapisan kulit di sisi dalam anus sangat tipis dan mudah robek serta iritasi. Adanya robekan dan iritasi ini tentu akan semakin meningkatkan peluang terjadinya infeksi dan penyebaran berbagai penyakit seksual berbahaya.

Baca: Tolak Lakukan Aborsi, Kisah Pilu TKW Indonesia di Hong Kong yang Hamil Diluar Nikah

Baca: Sebelum Tergiur Iklan Produk Perbesar Mr P, Simak Penjelasan Dokter Berikut Ini

Baca: Percantik Miss V dengan Operasi Labiaplasty, Ini Plus Minusnya

3.  Anus penuh dengan bakteri

Anus dan saluran pencernaan di atasnya berfungsi untuk menampung kotoran sisa pencernaan tubuh. Kotoran ini tidak lepas dari kontaminasi berbagai bakteri, termasuk E. coli. Bakteri ini dengan mudahnya akan menyebar dan menyebabkan infeksi ketika seseorang melakukan seks anal.

4.  Kelenturan anus terbatas

Anus terdiri atas lapisan-lapisan kulit dan otot yang berperan dalam menahan kotoran tetap pada usus hingga jumlahnya cukup banyak untuk kemudian dikeluarkan. Seks anal yang dilakukan berulang akan membuat kelenturan otot di anus lama-kelamaan semakin berkurang.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved