Black Out Munir, Hikayat Kematian Munir yang Dipentaskan Teater Payung Hitam

Ketika lampu ruangan teater itu dipadamkan, pertunjukan dimulai. Orang-orang telah memadati gedung teater Taman Budaya Jambi,

Penulis: Mareza Sutan AJ | Editor: Fifi Suryani
TRIBUN JAMBI/MAREZA SUTAN AJ

Laporan Wartawan Tribunjambi.com, Mareza Sutan A J

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Ketika lampu ruangan teater itu dipadamkan, pertunjukan dimulai. Orang-orang telah memadati gedung teater Taman Budaya Jambi, Sabtu (21/4/18) malam.

Setelah pembawa acara mulai membaca pengantar cerita, lampu sorot bersinar. Kemudian, acara itu disambut oleh Kepala Taman Budaya Jambi, Didin Sirojudin. Dia menyampaikan apresiasinya terhadap teater yang akan ditampilkan. Dan, dia berharap ke depannya akan berlangsung pertunjukan lain di sana.

Baca: Dewan Minta Distribusi Guru Merata, Masih Ada Anggapan Sekolah Favorit dan Tidak

Dia pun mengatakan, itu adalah kali pertama gedung itu digunakan setelah selesai direnovasi.

"Ini adalah kali pertama gedung ini dipakai untuk pertunjukan, setelah direnovasi kemarin," katanya.
Tidak lupa, dia mengucapkan selamat menyaksikan bagi para penonton. Pertunjukan malam itu mengangkat tema 'Black Out Munir'.

Empat orang di panggung itu mula-mula berdiri dan memperkenalkan diri. Lalu adegan dimulai.

Seorang membawa wajah Munir, lalu memampangkannya pada sekeliling panggung. Wajah itu dilukis di atas pamflet plastik dan dibingkai kayu seukuran rentangan tangan.

Teater tanpa suara itu hanya memperdengarkan suara Suciwati, istri almarhum Munir Said Thalib. Kasus hukumnya tak pernah selesai. Muara ceritanya tak pernah jelas.

"Dokumen fakta Munir hilang, atau sengaja dihilangkan." Itulah kata-kata terdengar dari corong suara di panggung.

Baca: Saat Pencarian Warga Hilang, Masyarakat Batang Merangin Temukan Aktivitas Diduga PETI

Baca: Pemkot Rencanakan Buat Sistem Parkir E Money

Mereka memeragakan adegan pencarian Munir. Berkas-berkas berantakan di panggung, diterangi sebatang lilin menyala dengan cahaya seadanya.

Orang yang mencari itu tergantung dalam ruang segi empat. Terkungkung di sana, membolak-balik dokumen-dokumen entah yang mana.

Lalu, suara Suciwati terdengar lagi, lagi, dan lagi. Dilanjutkan drama mencari pelaku Munir. Dua orang berpenutup muka mondar-mandir, mengelilingi panggung, seolah-olah mencari sosok hilangnya Munir di mana.

Namun tidak berjumpa.

Dua orang lain melanjutkan drama. Pembawa wajah Munir dan pencari berkas berkeliling panggung, membawa lilin.

Diperhatikannya beberapa wajah penonton, seolah mencari wajah yang sama dengan yang ada di lukisan. Tapi tiada yang sama.

Berkali-kali, berulang-ulang adegan mencari Munir itu didramakan. Mereka seolah-olah terus mencari Munir. Namun, pada akhirnya, Munir tak pernah ditemukan.

Baca: Warga Semalaman Tak Tidur - Hingga Sore Ini 87 Rumah, 1 Puskesmas, dan 1 Mesjid Terendam

Baca: Bakti Sosial ke Permukiman SAD - Tiap Rumah Digalikan Satu Lubang

Baca: Warga Kayu Aro Gotong-royong Perbaiki Jalan Nasional

Lampu sorot padam. Pertunjukan selesai. Riuh tepuk tangan terdengar kemudian, seiring lampu kembali menyala.

Satu di penonton, Bowo mengatakan, teater yang ditampilkan luar biasa.

"Mantap nian penampilannya. Tadi itu saya kira apa yang bunyi. Tapi memang harus tahu kita maksud yang disampaikan itu," ujarnya.

Menurut satu di antara pemeran teater, Wail, teater itu mengangkat kritik atas penggelapan kasus Munir.

"Memang sengaja kami angkat tema 'Black Out'. Itu artinya, ada yang disembunyikan. Gelap. Benar-benar hitam, begitu. Hilang begitu saja," katanya.

Ditambahkannya, teater yang ditampilkan juga diharapkan agar membawa titik terang terhadap kasus Munir khususnya, dan keseluruhan orang umumnya.

"Agar ke depannya, jangan ada lagi kasus seperti itu yang terulang lagi," katanya.

Baca: BREAKING NEWS: Atek, Warga Dusun Babeko yang Tenggelam Ditemukan

Baca: Hama Kumbang Serang Kebun Kelapa Milik Petani di Kelurahan Singkep

Baca: GALERI FOTO: Tribun Family Fun Bike dan Fun Walk Banjir Peserta dan Banjir Hadiah

Baca: Pilkada Merangin - Sumbangan Dana Kampanye Nalim-Khafid Terbesar. Berikut Rinciannya

Tidak jauh dari sana, masih berlangsung pameran seni rupa Palamjambe. Ratusan pengunjung masih memadati Taman Budaya. Pameran itu berlangsung hingga Kamis (26/4) mendatang.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved