Bata Candi Tuo Sumay Lebih Tebal
Perbedaan ukuran batu bata struktur bangunan tersebut menurut Sigit para ahli arkeologi belum bisa menyimpulkan apakah ada persamaan dengan kebudayaan
Penulis: bandot | Editor: Deddy Rachmawan
TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI – Pihak Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi menyebutkan susunan batu bata yang diperkirakan merupakan bangunan candi Budha di situs Tuo Sumay di Dusun Ulu Gedong, Desa Tuo Sumay Kecamatan Sumay Kabupaten Tebo masih dalam tahap penelitian dari Tim peneliti dari Universitas Indonesia (UI).
Membaca sejarah untuk mengetahui asal-usul candi tidak lah mudah, waktu yang di butuhkan memang bertahun-tahun, peneliti dari UI pun sudah dua kali datang dan meneliti candi Sumay.
Sigit Ario Nugroho staf BPCB Jambi mengatakan tim peneliti dari UI sudah dua kali melakukan penelitian disana, yakni pada tahun 2013 dan 2014 kemarin. Pada penelitian yang pertama dilakukan tim peneliti menemukan susunan batu bata yang diperkirakan merupakan struktur sebuah bangunan candi, batu bata tersebut menurut Sigit lebih tebal dan lebih besar jika dibandingkan batu bata di Candi Muaro Jambi.
"Batanya lebih tebal, ukurannya 6 sampai 8 cm sementara panjangnya yakni 30 sampai 35 cm dan lebih kasar jika dibandingkan dengan yang di Candi Muaro Jambi," kata Sigit, Rabu kemarin.
Ukuran yang berbeda Meskipun begitu tim peneliti belum bisa menyimpulkan fungsi dan juga peninggalan dari abad keberapa struktur bangunan tersebut
Perbedaan ukuran batu bata struktur bangunan tersebut menurut Sigit para ahli arkeologi belum bisa menyimpulkan apakah ada persamaan dengan kebudayaan yang di Muaro Jambi ataukah malah lebih dulu,
“Kemungkinan karena teknologinya, bisa jadi di waktu yang sama, di tempat yang satu dipengaruhi pengenalan dengan budaya yang lebih maju,” jelasnya.
Pada penelitian yang pertama yakni di 2013, peneliti dari UI juga menemukan batu bata dengan motif hias sulur.
Faizal satu di antara staf BPCB mendampingi tim peneliti dari UI pada penelitian 2014 kemarin mengatakan, tim peneliti juga menemukan beberapa temuan benda-benda dari logam di lokasi tersebut, namun perlu penelitian yang lebih mendalam untuk mengetahui dari abad ke berepa dan fungsinya.
“Ada juga ditemukan batu bata dengan sisi melengkung,” ujarnya.
Lokasi yang terletak di tempat yang tinggi dan dikelilingi sungai menurut Faizal bisa jadi menunjukkan bangunan tersebut dulunya kompleks keagamaan. “Tapi itu masih dalam tahap penelitian, dan kesimpulan dari hasil penelitian sementara kami juga belum tahu,” imbuhnya.
Sebelumnya tim peneliti dari UI dua kali melakukan penggalian (ekskavasi) di dua gundukan tanah atau penduduk setempat menamai tanah tumbuh. Penelitian pertama dipimpin oleh Dr Cecep Permana, Arkeolog UI.
Gundukan tanah ini masing-masing berada di bagian depan dan di belakang. Dari ekskavasi yang dilakukan di gundukan bagian depan ditemukan adanya bangunan candi yang berukuran sekitar 11x8 meter, bahannya terdiri dari batu bata putih dan batu bata merah.
Dugaan sementara berdasarkan dari bentuk dan latar belakang keagamaannya diperkirakan berasal dari abad 7-12 masehi, dan masih ada kaitannya dengan Candi Muaro Jambi. Dan dilihat dari bentuknya kemungkinan dulunya merupakan tempat peribadatan bagi penganut agama Budha.
Sebelumnya masyarakat di sekitar lokasi penemuan candi yang penasaran dengan hasil penelitian yang dilakukan tim peneliti menyampaikan rasa ingin tahunya ke Gubernur Jambi Hasan Basri Agus (HBA) saat berkunjung ke Desa Tuo Sumay, Tebo.