Sejarah Indonesia
Kala Soekarno Berang dengan Malaysia Karena Ulang PM, TNI Ganteng Pierre Tendean Lakukan Serangan
Kala Soekarno Berang dengan Malaysia Karena Ulang PM, TNI Ganteng Pierre Tendean Lakukan Serangan
Kala Soekarno Berang dengan Malaysia Karena Ulang PM, TNI Ganteng Pierre Tendean Lakukan Serangan
TRIBUNJAMBI.COM - Nama Andreas Pierre Tendean, pastinya banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia sebagai pahlawan di masa tragedi berdarah G30 S PKI.
Perwira menengah TNI ternyata miliki track record mentereng sebelum kisah pedih itu terjadi.
Ya, bila mendengar nama Pierre Tendean, pasti teringat tragedi berdarah G30 S PKI.
Pierre Tendean menjadi korban pembunuhan oleh kelompok pemberontak atau kini disebut kelompok komunis Indonesia.
Namun siapa sangka, Pierre Tendean yang merupakan Letnan Dua Czi tersebut pernah punya kisah heroik sebagai anggota TNI.
Baca: SETELAH Dicekoki Obat Anti Mabuk, Siswi SMP Diperkosa 5 Orang: Empat Pelaku di Bawah Umur
Baca: Jambi Kehilangan 20 Pulau Akibat Kerusakan Lingkungan dan Abrasi
Baca: Cara Mudah Mengirim Pesan Suara dengan WhatsApp
Baca: BPBD Jambi Belum Tetapkan Status Siaga Darurat Karhutlah, Ini Alasannya
Baca: 115 Paket Proyek Senilai 168 Miliar di Batanghari Selesai Tender
Pierre Tendean mendapat titah secara langsung oleh Soekarno saat Indonesia sedang geram sekali dengan Malaysia.
Kala itu terjadi aksi demonstrasi oleh masyarakat Malaysia yang anti-Indonesia.
Mereka menggeruduk KBRI, merobek foto Soekarno, serta menuntut Perdana Menteri Malaysia, Tunku Abdul Rahman untuk menginjak-injak lambang negara Indonesia, yaitu Garuda.
Melihat dan mengetahui itu, pimpinan tertinggi Indonesia, yaitu Soekarno berang sekali.

Soekarno yang murka karena hal itu mengutuk tindakan Tunku yang menginjak-injak lambang negara Indonesia dan ingin melakukan balas dendam dengan melancarkan gerakan yang terkenal dengan sebutan "Ganyang Malaysia" kepada negara Federasi Malaysia yang telah sangat menghina Indonesia dan presiden Indonesia.
Sepucuk surat perintah diterima Letnan Dua Czi Andreas Pierre Tendean tahun 1963 di Medan, Sumatera Utara.
Isinya perintah untuk mengikuti pendidikan intelijen di Bogor.
Padahal belum setahun perwira muda ini menjabat komandan peleton di batalyon Zeni Kodam II Sumatera Utara. Tapi negara membutuhkannya.
Kondisi saat itu sedang panas. Presiden Soekarno baru saja menggelorakan perlawanan untuk menentang berdirinya negara Malaysia.
Soekarno menilai Federasi Malaysia hanya negara boneka Inggris dan neo-kolonialisme.
