Warga Batang Asai Beralih ke Kopi, Desa Ini akan Beri Merek Kopi 'Makalam Sekaladi'

Desa Sekaladi Kecamatan Batang Asai sudah memproduksi kopi. Namun secara khusus, para petani belum mendapatkan binaan

Penulis: Wahyu Herliyanto | Editor: Fifi Suryani
TRIBUN JAMBI/WAHYU HERLIYANTO
Kabid Perindustrian, Disperindagkop Sarolangun, Adhim dengan beberapa kopi olahan dari warga Batang Asai dan Sekaladi Kab. Sarolangun 

Laporan Wartawan Tribunjambi, Wahyu Herliyanto

TRIBUBJAMBI.COM, SAROLANGUN - Desa Sekaladi Kecamatan Batang Asai sudah memproduksi kopi. Namun secara khusus, para petani belum mendapatkan binaan dari pemerintah maupun swasta untuk mengelola kopi. Berbeda dengan Desa Lubuk Bangkar yang sudah otomatis pengelolaannya, karena di fasilitasi oleh Baznas.

"Di sekaladi masih tradisional, penggorengan masih menggunakan wajan," kata Kabid Perindustrian, Disperindagkop Sarolangun, Adhim.

Baca: Harga Kopi Turun karena Banyaknya Pasokan, Petani Tidak Bersemangat Tanam Ulang 

Lanjutnya, mereka (petani,red) tidak ada yang memfasilitasi, dengan berlatar belakang yang mereka rerata petani karet. Namun dengan adanya karet yang semakin murah, mereka (petani,red) di Batang Asai pada umumnya beralih ke kebun kopi.

Maka dari itu pihaknya terus berupaya untuk menggenjot agar produk kopi Batang Asai bisa dikenal. Kami bekerja sama dinas terkait, yaitu Dinas Kesehatan dan LPPOM MUI Jambi.

"Untuk di Sekaladi secara khusus belum ada binaan, baru kita yang dari Disperindagkop dan kita berusaha menggenjot dan menginginkan produk mereka bisa dipasarkan dan bisa mengangkat ekonomi mereka," katanya.

Baca: Masih Proses PIRT, Produk Kopi Batang Asai Masih Dijual Secara Ecer

"Ya mudah-mudahan, sekarang kita fasilitasi PIRT dulu," katanya.

Disamping itu, untuk kapasitas produksi dengan waktu satu bulan bisa mencapai 1 ton. Berawal dari situ, pihaknya ingin membantu jikalau seandainya sudah memasuki panen raya nantinya.

Kata Adhim, dari pengakuan warga pada tahun 2019 sekitar bulan September hingga Desember nanti mereka sudah mulai penen raya.

Baca: Kisah Rio Menduniakan Cita Rasa Kopi Liberika Tanjabbar, Hingga Memberi Skill Penyandang Disabilitas

"Kurang lebih sampai 4 hingga 6 ton," ujarnya

Untuk penanaman kopi sendiri masing-masing kebun bervariasi, seperti di Desa Lubuk Bangkar kurang lebih 19 hektare lahan untuk ditanami. Namun yang baru mulai panen sekitar 4 hektare. Tidak menutup kemungkinan juga, selama ada lahan kosong dan tidak mengganggu hutan yang bisa dimanfaatkan untuk bercocok tanam.

"Bukan berupa kopi saja, tapi yang lain juga bisa," katanya.

Baca: Kopimu Ungkap Kepribadianmu, Jadi Kopi Jenis Mana yang Paling Kamu Sukai?

Menariknya, soal hutan desa ini Adhim sedikit menceritakan, bahwa kepala desa yang ada di Kecamatan Batang Asai itu mempunyai SK (surat keputusan) Menteri kehutanan tentang hutan desa untuk mengelola hutan desa yang bisa dimanfaatkan.

Dan mereka juga memanfaatkan dana P2DK (Program Percepatan Pembangunan Desa dan Kelurahan) sepeperti Desa Sekaladi.

"Nah mereka memafaatkan itu, untuk cocok tanam," katanya.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved