Inspirasi Bisnis

Website Kandang.in - Cara Mengisi Kandang Ternak Lewat Jalur Digital. Sistem Bagi Hasil Syariah

Bisnis digital kian menggeliat dan terus berkembang di tanah air. Banyak pebisnis beralih dan memanfaatkan teknologi digital

Website Kandang.in - Cara Mengisi Kandang Ternak Lewat Jalur Digital. Sistem Bagi Hasil Syariah
shutterstock
Ilustrasi peternakan ayam 

TRIBUNJAMBI.COM -  Bisnis digital kian menggeliat dan terus berkembang di tanah air. Banyak pebisnis beralih dan memanfaatkan teknologi digital dalam bentuk platform aplikasi, website hingga media sosial dalam memperluas pasar mereka. Strategi ini banyak dimanfaatkan beberapa sektor usaha, salah satunya, sektor peternakan.

Perlu diingat menjadi peternak bukanlah hal yang mudah. Banyak yang harus diperhatikan dan dipersiapkan, mulai dari penyediaan kandang, pakan, bibit, waktu hingga biaya yang cukup besar untuk perawatan ternak-ternak tersebut.

Mungkin hal tersebut tidak akan menjadi sebuah masalah jika ia seorang peternak besar dan akan berbeda bagi peternak kecil. Tingginya biaya operasional dan bibit membuat banyak peternak kecil harus mengosongkan kandang mereka.

Baca: PAD Kabupaten Tanjabbar Sudah Capai 40,69 Persen dari Target Rp 85 Miliar

 Melihat proses dan pengerjaannya yang rumit, banyak orang ragu terjun menjadi seorang peternak. Apalagi, bagi seorang awam yang tinggal di perkotaan. Namun, hal itu tak lagi jadi kendala, lantaran ada teknologi digital seseorang yang memungkinkan kaum urban memiliki ternak dengan cara berinvestasi.

Kandang.in pun hadir sebagai perantara seseorang yang ingin beternak tanpa mau repot dengan tetek bengek dunia peternakan, dengan peternak yang tidak mempunyai modal. Platform website buatan dua anak muda asal Trenggalek, dan berpusat di Malang ini pun cukup digemari oleh para investor.

Resmi berdiri sejak September 2017, Gilang Kurniaji, Founder Kandang.in menjelaskan, ide awal mendirikan Kandang.in sudah ada sejak tahun 2015 lalu, saat ada kunjungan ke salah satu daerah terpencil di Jawa Barat dan melihat banyak rumah peternak yang memiliki kandang kosong.

"Jadi, awalnya saya ada kunjungan ke Jawa Barat dan saya lihat banyak peternak di daerah itu, baik ayam, kambing, maupun sapi. Namun dari sekian banyak kandang di rumah-rumah peternak, banyak yang kosong," tuturnya. Setelah penelusuran lebih jauh, ketiadaan modal menjadi kendala utama.

Tidak sampai di situ, rasa keingintahuan Gilang berlanjut ke berbagai daerah dan kampung halamannya di Trenggalek. Di sana, dia pun menemukan masalah yang sama pada beberapa peternak. "Saat saya survei ke beberapa daerah ternyata permasalahannya sama, tak punya modal. Sayang sekali kandang yang mereka punya jika tidak dimanfaatkan," jelas Gilang.

Akhirnya, bermodal uang tabungan, Gilang coba  membantu beberapa peternak dengan sistem bagi hasil. "Hasilnya cukup menguntungkan," ujarnya.

Baca: Bandara Muara Bungo Mulai Ramai Kedatangan Penumpang. Tarif Pesawat Mulai Rp 600 Ribuan

Baca: Jelang Lebaran, Harga Ayam Potong Naik Rp 3 Ribu. Simak Harga Komoditi Lainnya

Setelah berhasil mengimplementasikan sendiri, Gilang pun mengajak rekannya, Ginanjar, untuk mengembangkan usaha ini di sistem digitalisasi. Awalnya, tahun 2016, mereka hanya mengajak orang-orang terdekat untuk bergabung pada usaha ini. "Namun, setelah melihat perkembangannya, kami akhirnya berpikir untuk mengembangkannya dengan memanfaatkan digitalisasi hingga menjadi seperti saat ini," ujarnya.  

Halaman
1234
Editor: fifi
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help