Inspirasi Bisnis

Website Kandang.in - Cara Mengisi Kandang Ternak Lewat Jalur Digital. Sistem Bagi Hasil Syariah

Bisnis digital kian menggeliat dan terus berkembang di tanah air. Banyak pebisnis beralih dan memanfaatkan teknologi digital

Website Kandang.in - Cara Mengisi Kandang Ternak Lewat Jalur Digital. Sistem Bagi Hasil Syariah
shutterstock
Ilustrasi peternakan ayam 

Sementara untuk pendapatan, tambah Gilang, keuntungan diperoleh dengan sistem bagi hasil sesuai kaidah syariah. Gilang menjelaskan setelah panen dan jual hasil ternak, dana yang akan dibagikan merupakan dana yang telah dikurangi biaya pangan dan operasional. "Keuntungan yang kami terapkan di Kandang.in menggunakan sistem bagi hasil syariah atau menggunakan akad mudharobah," jelas dia.

Investor sebagai pemilik usaha pasif. Jadi, dia hanya menitipkan dananya namun secara konvensional dikelola oleh dari para peternak. Lalu, penjualan hasil panen, akan dikurangi berbagai biaya yang telah dikeluarkan, seperti biaya bibit, operasional dan sebagainya. Selisih dari perhitungan itu dianggap keuntungan bersih yang kemudian akan dibagikan kepada Kandang.in, investor, dan peternak.

Gandeng Kemdes

Meski sudah punya pengalaman sebelumnya dalam bisnis ini, bukan berarti Gilang tak mendapati kendala saat awal mengembangan Kandang.in. Ia mengalami berbagai kendala selama proses pengembangan usahanya, seperti pendanaan, infrastruktur teknologi, serta jangkauan dan jumlah peternak yang masih minim.

Baca: Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II Diproyeksi 5,2%, BI: Optimisme Konsumen Meningkat

Baca: Kondisi Tanah Abang Makin Semrawut, Sandiaga Uno Sebut Potensi dan Peluang Baru

Baca: Ratusan Rukan hingga Rumah di Pulau D Reklamasi Disegel Pemprov DKI, Akankah Dibongkar?

Baca: Bumi Resouces Berharap Bisa Bayarkan Dividen Lebih Cepat

"Saat ini kendala utama kami adalah pendanaan. Untuk pengembangan platform Kandang.in ini kami masih menggunakan dana pribadi sehingga kami masih sangat membutuhkan bantuan pendanaan dari pihak luar," ujarnya.

Selain pendanaan, kata Gilang, platform gagasannya juga mengalami kendala di jumlah peternak yang ada. Ia mengaku jumlah peternak yang dimiliki saat ini masih sedikit. "Saat ini jumlah peternak yang kami miliki masih sangat minim karena mencari dan mendapatkan peternak yang jujur dan sesuai syarat kami sangat sulit," tuturnya. Sebagai contoh saja, saat ini sudah ada lebih dari 1.000 permintaan untuk bisa investasi namun belum bisa terealisasi semua.

Namun, sebagai bentuk upaya pengembangan platform, Kandang.in akan bekerja sama dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemdes PDTT) guna mendukung peternak-peternak di daerah tertinggal.

"Belum lama ini, kami mengadakan diskusi dengan Kemdes guna memperluas jangkauan peternak, sekaligus membantu peternak-peternak di desa tertinggal," kata Gilang.

Saat ini, telah dilakukan tahap pemetaan daerah mana saja yang akan dibantu dan jenis ternak apa. Nantinya, Kandang.in berperan sebagai penyedia investor dan Kemdes sebagai penyedia infrastruktur dari peternak yang ada di daerah, seperti kandang, pangan, dan sebagainya.

Bisa berkembang asal transparan

Halaman
1234
Editor: fifi
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved