Konflik Gajah Manusia di Tebo
Cerita Petani Tebo 2 Kali Dikejar Gajah Tapi Bisa Selamat, Kini Ubah Sawit Jadi Agroforestri
Petani di Dusun Benteng Makmur, Desa Muara Kilis, Tebo, itu langsung bilang, "ampun, Tuk, ampun, Tuh." Lalu Gajah Sumatera itu berhent
Penulis: Rifani Halim | Editor: asto s
TRIBUNJAMBI.COM, MUAROTEBO - Saat jarak tinggal satu meter, Sofwan meloncat ke semak-semak. Petani di Dusun Benteng Makmur, Desa Muara Kilis, Kabupaten Tebo, itu langsung bilang, "ampun, Tuk, ampun, Tuh." Lalu Gajah Sumatera di kawasan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh itu berhenti dan pergi.
Hidup sebagai petani di dekat hutan, bukan hanya soal mengolah tanah dan menunggu panen. Di wilayah yang bersinggungan langsung dengan habitat satwa liar, seperti Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus), setiap hari menyimpan risiko yang tak selalu terlihat, namun nyata dirasakan.
Di Kabupaten Tebo, sebagian warga harus berbagi ruang dengan gajah liar yang kerap keluar hutan mencari makan. Ini seperti yang dialami Sofwan.
Kebun yang menjadi tumpuan hidup berubah sewaktu-waktu menjadi arena ketegangan.
Kerusakan tanaman mungkin bisa dihitung dengan uang, tetapi trauma bertemu langsung dengan satwa bertubuh raksasa jelas tak mudah dilupakan. Apalagi ketika jarak antara manusia dan gajah hanya tersisa hitungan langkah.
Pengalaman itulah yang dialami Sofwan, seorang petani yang telah belasan tahun membuka lahan di kawasan pinggir hutan yang berjarak dengan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh.
Beberapa kali, Sofwan berada dalam situasi genting saat berhadapan langsung dengan gajah liar.
Dia dikejar di kebun, lalu bersembunyi di semak, hingga pasrah saat gajah berada tepat di depan mata.
Semua itu menjadi bagian dari perjalanan hidupnya sebagai petani di tapal batas hutan.
Namun, di tengah ancaman itu, Sofwan dan warga lainnya memilih jalan berdamai.
Mereka belajar memahami perilaku gajah, menata ulang kebun, dan menjaga sikap agar konflik tidak berujung pada kekerasan.
Bagaimana pengalaman petani Tebo itu berhadapan dengan Gajah Sumatera? Berikut petikan wawancara Sofwan bersama Jurnalis Tribun Jambi, Rifani Halim:
Tribun Jambi: Tribuner, saya Rifani Halim, reporter Tribun Jambi. Saya berkesempatan mewawancarai salah satu petani di Kabupaten Tebo, tepatnya di kawasan lanskap Bukit Tiga Puluh.
Berikut kisah para petani yang hidup berdampingan dengan satwa liar di wilayah ini.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Tribuner. Saat ini saya berada di Dusun Benteng Makmur, Desa Muara Kilis, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi, bersama Pak Sofwan.
Pak Sofwan memiliki pengalaman menegangkan karena pernah dikejar gajah liar di kebunnya.
Pak Sofwan, bisa diceritakan bagaimana awal mula Bapak mengalami kejadian itu?
SaksiKata
Eksklusif
Multiangle
Gajah Sumatera
gajah
Kabupaten Tebo
Taman Nasional Bukit Tiga Puluh
Dusun Benteng Makmur
Desa Muara Kilis
| Tragedi Senggolan di Kafe Palembang Berujung Maut: TNI Tembak TNI, Sertu MRR Tewas |
|
|---|
| Detik-detik Truk Salip Sembarangan di Jalur Mendalo Jambi: Pemotor Tewas |
|
|---|
| Sertifikasi Guru Diduga Dipungut Rp300.000, Pemerintah Kerinci Diminta Bertindak |
|
|---|
| Ingat Kasus Pembunuhan Kacab Bank BUMN Libatkan 3 Oknum TNI? Hari Ini Sidang Tuntutan |
|
|---|
| Jalur Maut Mendalo Jambi: Kurang dari 6 Jam, Mahasiswa Luka Lalu Karyawan Tewas |
|
|---|