Selasa, 19 Mei 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Konflik Gajah Manusia di Tebo

Sofwan: Ampun, Tuk, Ampun, Fakta di Balik Gajah Sumatra di Tebo, Petani dan Agroforestri

Warga Dusun Benteng Makmur, Desa Muara Kilis, Kabupaten Tebo, itu pernah dua kali nyaris ditabrak gajah liar saat melakukan patroli

Tayang:
Penulis: Rifani Halim | Editor: asto s
Tribunjambi.com/Rifani Halim
Gajah Sumatera di kawasan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh Kabupaten Tebo 

TRIBUNJAMBI.COM, MUARATEBO - Bunyi gedebak-gedebuk langkah kaki gajah dari balik masjid itu masih membekas di ingatan Sofwan.

Warga Dusun Benteng Makmur, Desa Muara Kilis, Kabupaten Tebo, itu pernah dua kali nyaris ditabrak gajah liar saat melakukan patroli dan menjaga kebun warga dari gangguan satwa.

Pengalaman paling menegangkan terjadi pada 2024 lalu, ketika seekor gajah jantan muncul sangat dekat dengan dirinya saat patroli dini hari di dekat masjid dusun.

"Waktu itu mau sahur, kami patroli lihat-lihat. Rupanya, gajah sudah di belakang masjid," kata Sofwan kepada Tribun di Dusun Benteng Makmur.

Saat itu, kata dia, gajah sedang digiring warga dari arah permukiman. Namun, tanpa diduga, satwa bertubuh besar tersebut justru berlari ke arahnya.

"Dia keluar langsung gedebuk-gedebuk suaranya. Aku langsung lari juga. Hampir aja diinjak," ujarnya.

Sofwan mengatakan jaraknyadengan gajah saat itu hanya sekitar satu meter. Dia langsung melompat ke semak-semak untuk menyelamatkan diri.

TRIBUN JAMBI/RIFANI HALIM
WARGA DAN GAJAH - Gajah di kawasan Dusun Benteng Makmur, Desa Muara Kilis, Kabupaten Tebo. Warga setempat pernah bergesekan dengan satwa dilindungi, hingga akhirnya melakukan perubahan pola kehidupan agar tidak ada bisa berdampingan, Senin (4/5/2026).
TRIBUN JAMBI/RIFANI HALIM WARGA DAN GAJAH - Gajah di kawasan Dusun Benteng Makmur, Desa Muara Kilis, Kabupaten Tebo. Warga setempat pernah bergesekan dengan satwa dilindungi, hingga akhirnya melakukan perubahan pola kehidupan agar tidak ada bisa berdampingan, Senin (4/5/2026). (Tribunjambi.com/Rifani Halim)

"Pokoknya, aku waktu itu sudah bilang, ampun, Tuk, ampun Tuk," katanya sambil tertawa kecil mengenang kejadian tersebut.

Tuk merujuk pada kata Datuk, sebutan gajah oleh warga lokal.

Menurut Sofwan, warga di kawasan itu memang memiliki keyakinan untuk tidak berkata kasar atau menunjukkan kebencian terhadap gajah.

"Kalau ngomong kasar sama dia, itu memang enggak boleh," ujarnya.

Pengalaman Perdana

Pengalaman pertama Sofwan dikejar gajah terjadi pada 2022. Saat itu, dia bersama dua rekannya mencoba menggiring gajah menggunakan jedoran atau mercon rakitan di kawasan kebun.

Awalnya, mereka tidak percaya ketika mendengar ada warga yang dikejar gajah. Namun, saat mencoba mendekat, seekor gajah tiba-tiba muncul hanya berjarak sekitar dua meter dari posisinya.

"Kami bunyikan jedoran terus, malah dia mendekat. Tahu-tahu di samping, lanjutkan yang ini saya sudah ada gajah,” katanya.

Sumber: Tribun Jambi
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved